Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Penghalang

Apabila kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk memahami suatu kebenaran dan juga berusaha untuk mempraktekkannya, hal apakah yang menjadi kendala bagi kita untuk menjadikan kebenaran tersebut sebagai suatu gaya hidup dalam kehidupan kita? Mengapa sering lebih mudah bagi kita untuk memahami suatu kebenaran daripada mempraktekkan kebenaran tersebut? Bahkan terlebih sering lebih mudah kita untuk mengajarkan kebenaran tersebut namun gagal dalam melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jarkoni, Iso Ngajar Ora Iso Ngelakoni (Bisa mengajar namun tidak bisa mempraktekkan) adalah peribahasa Jawa yang mengekspresikan kesulitan tersebut.

Untuk itu mari kita melihat satu perikop dari Lukas 24:14-33, yaitu peristiwa di jalan ke Emaus. Dua orang murid Yesus bercakap-cakap sepanjang jalan Yerusalem-Emaus, membicarakan tentang kematian Tuhan mereka, sementara pada saat yang sama Yesus sendiri ada di samping mereka dan ikut berbincang-bincang dengan mereka, namun mereka tidak dapat mengenalinya, sehingga Yesus sendiri mengecam “Hai kamu orang bodoh, …lamban…tidak percaya”.


Perikop ini menarik karena Yesus mengecam murid-muridNya sendiri yang telah belajar dari sang Master Teacher selama kurang lebih tiga tahun, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan Yesus, dan mendengar dari mulutNya sendiri nubuatan-nubuatan tentang kematian dan kebangkitanNya. Namun ketika saatnya datang, mereka gagal untuk memahami apa yang harus terjadi pada Yesus dan mengalami tekanan dalam hidup mereka. Yesus sendiri kemudian menjelaskan kembali berdasarkan kitab suci apa yang sesungguhnya terjadi, dan barulah murid-murid itu mengerti dan terbuka mata mereka.

Apa yang dapat kita pelajari di sini? Tidak peduli berapa lama kita sudah belajar, tidak peduli pada tingkatan apa kita sedang belajar, tidak peduli dengan siapa kita belajar – masih mungkin ada penghalang-penghalang internal dalam diri kita sendiri yang menghalangi kita untuk Belajar. Hal ini menjelaskan mengapa sering kita sebagai orang yang sudah bertahun-tahun percaya sulit untuk menerapkan kebenaran Firman Tuhan. Wajar jika ada orang yang bertahun-tahun belajar teologia di perguruan tinggi sehingga mendapat banyak gelar, namun gagal dalam penerapan sederhana di kehidupan nyata. Tidak aneh bila hamba-hamba Tuhan yang sudah bertahun-tahun mengajar dan berkotbah namun ketika krisis datang tidak dapat mempraktekkan apa yang dikotbahkan tersebut.

Hal ini sangat nyata terlihat dalam pelayanan saya di ruang konseling dan juga kehidupan pribadi saya sendiri. Sebagian besar orang yang datang dengan membawa masalah untuk dipulihkan sudah mengetahui apa masalah mereka dan firman Tuhan berkenaan dengan masalah mereka tersebut. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sudah bertahun-tahun lamanya lahir baru dan bertumbuh dalam pengajaran Firman Tuhan. Beberapa adalah hamba-hamba Tuhan yang setia yang sungguh-sungguh bergumul dengan masalah mereka. Umumnya mereka telah mengetahui kebenaran, namun tidak bisa mempraktekkan kebenaran tersebut. Dan saya tidak terkejut, karena bertahun-tahun saya pun hidup dalam kondisi yang sama. Bahkan sampai saat ini pun saya terus menemukan kelemahan dan ketidakmampuan saya untuk mempraktekkan hal-hal yang sudah saya percayai.

Hal apakah yang dapat menghalangi kita sungguh-sungguh Belajar? Kembali ke perikop di atas kita bisa melihat beberapa penghalang dari diri murid-murid Yesus:

Pengharapan yang salah (ay. 21). Murid-murid Yesus berharap agar Yesus menjadi Raja mereka saat itu dan membebaskan Israel. Karenanya mereka sangat kecewa ketika tahu Yesus mati dan menggagalkan harapan mereka.Para murid sudah belajar banyak tentang nubuatan penderitaan Mesias, namun karena mereka memimpikan Mesias sebagai Pembebas, mereka tidak sungguh-sungguh memahami pengajaran Yesus. Sering terjadi pengharapan kita yang salah menghalangi kita untuk Belajar, karena pikiran kita akan dipengaruhi oleh pengharapan itu dan bukannya kebenaran.

Emosi Negatif (ay. 17b). Pengharapan yang gagal membuat para murid menjadi kecewa dan sedih. Kesedihan tersebut menghalangi mereka untuk melihat bahwa Yesus sendiri ada di depan mereka. Emosi negatif membuat para murid lari tunggang langgang ketakutan dan meninggalkan Yesus. Emosi negatif membuat Petrus berbohong karena ia takut ditangkap. Perasaan-perasaan negatif akan menghalangi kita untuk sungguh-sungguh Belajar karena hati kita akan dikuasai oleh emosi yang negatif tersebut dan menghalangi kita untuk menyerap kebenaran itu dengan maksimal.

Pemahaman yang kurang lengkap (ay. 18). Mulanya mereka menganggap diri mereka lebih tahu daripada Yesus karena mereka merasa memiliki informasi yang tidak diketahui oleh Yesus. Namun sebenarnya ini hanyalah sepenggal informasi yang belum lengkap. Barulah ketika Yesus melengkapi pemahaman mereka dengan pengajaran Musa dan para nabi, mereka pun mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Mesias mereka. Sering terjadi kita diberi informasi atau konsep yang belum cukup lengkap atau matang, sehingga kita tidak berhasil dalam mempraktekkannya.

Singkatnya, sering penghalang kita dalam Belajar Transformatif ini adalah kondisi internal kita sendiri, yang menghalangi kita untuk mendapatkan masukan baru, merenungkannya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s