Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Mengalami perubahan

Langkah kedua: Mengalami perubahan

Hidup “layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya”

Apabila kita telah merenungkan kebenaran yang kita dapatkan, dan
berpikir situasi seperti apa yang bisa kita pakai untuk menerapkan
kebenaran tersebut, langkah selanjutnya adalah mempraktekkannya dan
menjadikannya bagian kehidupan kita! Bagian ini adalah yang paling
sulit dan paling sering disalah mengerti dalam proses belajar karena kita sedang dituntut untuk:

  • menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar firman saja
  • sungguh memahami dan menikmati kasih karunia Allah sehingga kita hidup bagi Tuhan sebagai respon yang layak di hadapan-Nya

 
Ada beberapa pemahaman yang saya anggap keliru berkenaan dengan praktek ini, yaitu:

  • tahu akan membuat orang melakukan apa yang ia tahu
  • belajar sama dengan membaca, menulis atau mengingat


Mitos #1: Ada anggapan luas yang berprinsip seperti ini

Tahu == Percaya == Melakukan

Mitos ini, walaupun mungkin tidak dirumuskan seperti ini, sering melandasi proses belajar mengajar. Orang mengira apabila kita tahu sesuatu, maka lambat laun kita akan mempercayai hal tersebut, dan kalau kita mempercayai hal tersebut, kita pun lambat laun akan melakukan/mempraktekkannya dalam kehidupan. Hal ini benar, kalau kita melakukan proses internalisasi yang mengakibatkan hal yang kita percayai itu meresap dan menjadi nilai inti dalam kehidupan kita. Saat itulah kita akan melakukan hal yang kita percayai tersebut. Namun sering walaupun kita mempercayai sesuatu hal (atau mengira kita mempercayai sesuatu hal), namun tingkah laku kita mencerminkan nilai inti kita yang sebenarnya, yang mungkin bertentangan dengan yang kita percayai.
Sebagai contoh, ada satu pernyataan seperti ini “Jangan mencuri”. Kita tahu perintah tersebut, dan kita tahu perintah itu benar, dan kita mempercayai perintah itu sebagai satu kebenaran. Namun apabila ada nilai inti di dalam diri kita yang berbunyi “Materi adalah hal yang paling berharga dalam hidup ini”, dan “Segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuan kita”, maka walaupun kita tahu “Jangan Mencuri” sebagai kebenaran, dan untuk sementara waktu kita kita bisa mematuhi kebenaran ini, namun ketika ada masalah mendesak, maka yang akan beroperasi adalah kedua nilai inti tadi.

Mitos ini terjadi karena dalam proses belajar mengajar sering orang berfokus pada aspek: kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), motorik (perilaku). Orang mengira apabila sudah bisa menggugah ketiga aspek ini maka proses belajar mengajar sudah maksimal. Namun apabila pertumbuhan sejati yang kita inginkan, maka satu aspek lagi, yaitu dispositional (kecenderungan/nilai inti) harus juga dipengaruhi.

Mitos #2: berhubungan dengan kata belajar itu sendiri.

Ada banyak aspek yang terjadi dalam proses belajar. Kita bisa membaca, menghafal, mengingat, merenungkan, berlatih dan semuanya itu adalah bagian dari belajar. Namun agar belajar itu menjadi bagian dari pertumbuhan, saya memberi dua syarat, yaitu:

  • Ada perubahan yang relatif permanen (baik dalam pengetahuan, pemahaman, ingatan, sikap, keterampilan dll.)
  • Ada perubahan dalam cara kita menjalani kehidupan

Ini yang saya sebut sebagai Belajar Transformatif – belajar yang membawa perubahan, karena sering terjadi bahwa kita sudah belajar namun belum Belajar. Kita menganggap karena sudah membaca dan menghafalkan pelajaran sejarah dengan tekun, maka kita sudah belajar. Namun tiga bulan kemudian kita sudah melupakan sama sekali, dan tidak ada bekasnya dalam kehidupan kita. Ini berarti kita baru belajar dan belum Belajar.

Sebagai contoh, misalkan seseorang belajar naik sepeda. Dalam bahasa Inggris orang tersebut bisa melakukan “study” yang mengimplikasikan “belajar dengan cara membaca, menulis dan menghafal”, atau “learn” yang mengimplikasikan “belajar dengan mempraktekkan”. Tentu saja dalam kasus ini yang tepat adalah ketika orang tersebut”learn to ride a bike”, walaupun tidak menutup kemungkinan seseorang akan melakukan “study how to ride a bike”. Dari segi perubahan yang ditimbulkan, ketika seseorang belajar naik sepeda, maka terjadi (i) perubahan dalam kehidupannya, ia yang tadinya tidak dapat seimbang di atas sepeda, sekarang dapat berjalan dengan seimbang, dan (ii) perubahan yang relatif permanen, di mana orang tersebut, sekali ia telah menguasai keterampilan bersepeda, maka walaupun bertahun-tahun kemudian ia tidak lagi menggunakan sepeda, namun kemungkinan besar orang tersebut masih bisa naik sepeda walau tidak seperti sebelumnya (dengan catatan tidak ada perubahan prinsipil lainnya pada orang tersebut, mis. tubuh yang terlalu gemuk, atau ada trauma berkendaraan, atau telah buta dll.)

Ilustrasi lainnya diberikan oleh Samiton Pangellah, salah seorang pendiri Abbalove, di mana ketika ia kecil dilarang keras oleh orang tuanya untuk belajar berenang. Samiton meresponinya dengan secara diam-diam mempelajari buku berenang dan mempraktekkannya di kamarnya! Suatu ketika saat berada di kolam renang bersama teman-temannya, mereka bersepakat untuk mengadakan lomba renang, dan Samiton yang merasa telah belajar berenang pun ikut serta dalam lomba tersebut. Bisa kita tebak, saat lomba dimulai, ketika teman-temannya berenang sejauh-jauhnya, maka Samiton berenang “sedalam-dalamnya”. Dalam kasus itu kita katakan Samiton sudah belajar berenang namun belum Belajar Berenang!

Implikasi dari pemahaman ini adalah sering kita merasa sudah belajar, namun sebenarnya baru sebatas membaca, menghafal atau mencoba mengerti, namun tidak ada perubahan yang relatif permanen yang terjadi dalam kehidupan kita.

Sebagai contoh, misalnya ada seorang anak yang sedang menghafalkan butir-butir pancasila karena besok akan ada ujian tentang hal tersebut. Dalam pandangan umum, maka anak tersebut sudah belajar butir-butir pancasila. Namun ketika esok ulangan di sekolah, anak tersebut lupa beberapa butir yang telah ia hafalkan, dan hal tersebut membuatnya gelisah karena ada tekanan untuk mendapatkan nilai yang baik. Saat itu ia melihat bahwa teman-temannya yang lain banyak yang menyontek, dengan cara melihat catatan atau bekerja sama dengan teman. Karena keinginannya untuk mendapat nilai yang baik, maka anak ini yang sebelumnya belum pernah menyontek, memutuskan untuk bekerja sama dengan teman sebangku. Memang kemudian anak tersebut mendapat nilai yang baik, dan dalam pandangan orang tua dan guru, ia telah belajar butir-butir pancasila dengan baik. Namun dalam pengertian Belajar Transformatif, yang betul-betul dipelajari oleh anak itu adalah cara menyontek, dan sejak saat itu ia menjadi seseorang berbeda, yang telah mempraktekkan Pelajaran Menyontek.

Wajar bila banyak orang yang kecewa dengan lulusan sekolah, karena bisa terjadi, walaupun murid-murid telah belajar matematika, ekonomi, ppkn dan pelajaran lainnya, semuanya itu tidak berbekas sama sekali dan tidak ada yang dapat dipraktekkan. Pada saat yang sama murid-murid tersebut Belajar menyontek, berpacaran, menonton video porno, tawuran dll., yang tidak ada mata pelajarannya, namun justru mengubah kehidupan anak secara relatif permanen. Hal yang sama pun terjadi di gereja, ketika jemaat datang ke ibadah untuk “mendengarkan Firman Tuhan”, namun tidak ada satu kebenaranpun yang masuk dalam hati, bahkan dalam gereja jemaat Belajar Munafik dan memakai topeng kehidupan, ketika kekristenan hanya sampai di dalam gereja, namun keluar dari gereja, kehidupan berjalan sendiri-sendiri.

Sudah saatnya kita keluar dari mitos-mitos ini. Siapapun kita, pekerjaan kita, status kita, sekarang jangan puas dengan belajar sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan, sekolah untuk mendapatkan gelar, pendidikan untuk meningkatkan status. Jadikan belajar sebagai jalan untuk bertumbuh, membuat perubahan dan perbedaaan dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s