Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #4 Bagaimana seharusnya belajar

Bagaimana seharusnya kita belajar? Saya ajak anda untuk meredefinisi
kata belajar ini, yaitu suatu proses perubahan yang relatif permanen
dalam kehidupan kita. Untuk itu ada tiga komponen penting yang harus
terjadi, sebelum kita bisa mengatakan bahwa kita sudah belajar. Komponen itu adalah adanya:

  • transformasi
  • proses
  • tanggapan yang benar

Pertama adalah adanya transformasi. Transformasi ini penting karena
inilah yang menjadi indikator bahwa kita sudah belajar. Apabila kita
belum mengalami perubahan dalam kehidupan kita (dengan cara apapun)
maka kita belum belajar. Anda belum belajar kalau anda menerima masukan
tentang matematika, namun masukan tersebut tidak merubah hidup anda,
tidak bisa anda praktekkan dalam hidup anda. Anda belum belajar kalau
anda masuk sekolah, dan yang diberikan pada anda saat itu tidak merubah
hidup anda. Anda belum belajar kalau anda membaca kitab suci, dan
bacaan itu tidak merubah hidup anda. Seseorang bisa masuk sekolah dan
sinau matematika, dalam arti belajar secara formal dan kognitif, namun
belum benar-benar belajar kalau tidak ada sesuatu pun yang bisa
mengubah hidupnya dari pengetahuan tersebut.

Mungkin ketika seseorang
sinau di sekolah, sebenarnya dia sedang belajar sesuatu yang lain,
mungkin tentang bagaimana bersikap agar diterima oleh orang lain,
tentang bagaimana caranya agar mendapat nilai baik, atau bahkan belajar
hal-hal negatif yang benar-benar merubah kehidupannya, dengan belajar
menyontek, belajar berkelahi, belajar munafik dll. Jangan kaget apabila
ada seorang teolog Kristen yang dianggap besar, namun justru tidak
percaya Kristus, bahkan tidak percaya Allah. Hal itu karena ia tidak
dapat menerapkan apa yang ia pelajari untuk mentransformasikan
hidupnya. Jangan kaget apabila ada guru, pengkotbah, pejabat, ulama
dll, bahkan kita sendiri tidak dapat menerapkan apa yang kita ajarkan,
kita katakan. Hal itu karena tidak ada transformasi yang menyeluruh
dalam kehidupan kita. Johann Heinrich Pestalozzi (1746 – 1827), pakar
pendidikan berkata

Not art, not books, but life itself is the true
basis of teaching and education.

Kedua bahwa belajar adalah proses. Ini bukan suatu tujuan, bukan suatu
sistem sosial, namun lebih kepada gaya hidup, yang kita lakukan di mana
saja, kapan saja, dengan siapa saja, dengan cara apa saja – selama kita
tahu hal tersebut dapat merubah kehidupan kita menjadi lebih baik.
Dengan pemahaman ini saya berani berkata bahwa belajar adalah satu
bentuk pertobatan – ketika saya mengaku kesalahan dan ketidak mampuan
saya saat ini, menerima pemahaman yang baru dan memalingkan pandangan
saya yang tadinya salah menuju sesuatu yang benar. Terjadi metanoia
dalam kehidupan saya, ketika saya mengalami perubahan dalam akal budi
saya dan kemudian dalam keseluruhan hidup saya. Proses itulah yang saya
sebut sebagai belajar. Carl Friedrich Gauss (1777 – 1855), ahli
matematik Jerman berkata It is not knowledge, but the act of learning,
not possession but the act of getting there, which grants the greatest
enjoyment. Berproses dan bertransformasi, yang dilakukan tiap-tiap
hari, tiap-tiap saat, itulah belajar. Orang Cina berkata, belajar yang
tidak bertambah maju setiap hari akan berkurang setiap hari.

Ketiga bahwa belajar adalah respon kehidupan pribadi. Proses
transformasi yang mula-mula terjadi dalam tingkat individu. Karenanya
kita perlu mengenal diri sendiri dan memahami karakter pribadi, untuk
kemudian mencari cara belajar yang sesuai kita. Cara belajar kita,
kecepatan belajar kita merupakan tanggung jawab pribadi yang harus kita
kembangkan. Untuk itulah kita perlu belajar untuk belajar, karena untuk
mengenal konsep belajar yang sesuai dengan diri kita pun membutuhkan
proses. Bahkan dalam proses itu mungkin kita perlu banyak melakukan
“pertobatan” apabila kita menemukan yang kita lakukan selama ini
merupakan satu kesalahan. Alvin Toffler, pengarang Future Shock berkata
“Mereka yang buta huruf di abad ke—21 bukanlah orang-orang yang tidak
bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak bisa belajar,
melupakan ajaran-ajaran masa lalu, dan kembali belajar”. Ia menyebutnya
sebagai learn, unlearn and relearn. Dari respon pribadi, ini akan
berkembang menjadi respon sosial. Pakar kepemimpinan Peter M. Senge
(1947 – ), berkata The entire global business community is learning to
learn together, becoming a learning community. Dengan falsafah
pendidikan yang mendasarkan pada proses belajar transformatif ini, kita
percaya sistem pendidikan pun akan kembali ke rel yang benar, karena
paradigma yang sudah diubahkan, dan pada akhirnya nasib bangsa yang
terpuruk pun akan terangkat kembali.

Saya menghimbau anda semua, baik pendidik maupun pelajar, untuk
memandang konsep belajar bukan sebagai suatu hal yang sekedar formil,
kognitif, sistem sosial, atau bahkan menjadi tujuan. Belajar adalah
suatu proses, suatu gaya hidup yang mengalami transformasi, sehingga
benarlah yang dikatakan oleh seorang penulis bernama Paulus “..tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu..”  yang dikatakannya sebagai
persembahan yang sejati kepada Sang Pencipta. Ajarkan ini kepada
orang-orang di dekat kita, orang-orang yang kita kasihi, orang-orang
yang kita layani, dan bayangkan satu masa di depan, ketika anak-anak
kita yang sudah belajar transformatif, akan dapat mengambil keputusan
dengan benar, akan dapat belajar dari kesalahan-kesalahannya, akan
dapat berubah dan proses menjadi manusia yang lebih baik. Bayangkan
bangsa kita yang sedang sakit ini, mulai belajar kembali untuk belajar,
dan membangun kembali harkat, martabat dan wawasan bangsa ini, merubah
nasib bangsa ini kembali menjadi terhormat, dan itu dimulai, ketika
pribadi-pribadi mau merubah kehidupannya dengan belajar! Mulai belajar
untuk belajar!

2 thoughts on “Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #4 Bagaimana seharusnya belajar

  1. Pestalozzi
    ditulis oleh M Ihsan Dacholfany
    A. Latar Belakang (Sejarah)
    Pestalozzi adalah orang yang pertama membangun konsep pendidikan seperti training pada guru dan inovasi dalam kurikulum seperti kelompok kerja, studi kerja, tingkatan nilai, kemampuan dalam kelompok, dan memberikan kesempatan tiap individu untuk mengembangkan diri. Pestalozzi mengabdikan hidupnya untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak miskin di Eropa untuk memperoleh pendidikan. Pestalozzi juga menulis buku dan artikel-artikel di surat kabar untuk menarik masyarakat agar memberikan perhatian kepada anak-anak miskin. Pada akhir abad kedelapanbelas dan awal berabad-abad ke sembilan belas, naturalisme dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Jean Jacques Rosseau Dan Johann Heinrich Pestalozzi. Dalam komentar banyak orang, naturalism dalam pendidikan dikenal sebagai pembaharuan, sebagai aliran yang telah memberontak melawan terhadap supernaturalism, pengajaran paham religius, paham klasik, dan verbalism dalam pendidikan.
    Pestalozzi menunjuk ide besarnya ketika Anschauung, suatu yang istilah berarti pembentukan tentang konsep bersih dari persepsi rasa. Yang Setelah Aristotelian, disetujui sebagai konseptualisasi pendidikan di Swiss. Obyek pelajaran Pestalozzi adalah unik dengan mengenalkan metoda instruksional. Obyek pelajaran Pestalozzi telah didasarkan pada pengajaran menggunakan format, nomor, jumlah, dan nama. Para siswa mengekstrak format itu, perancangan kegiatan, dan menghitung kegiatan, dan untuk menyebut mereka. Tidak sama dengan Pencarian Thomistic untuk prinsip pertama, Penyelidik alam seperti Pestalozzi menekankan permulaan sederhana, pengalaman segera, dan kasus campuran.
    Pembelaan naturalisme dalam pendidikan kemudian, adalah doktrin bahwa kita belajar melalui pikiran sehat, yang implikasinya dipegang dilafalkan sebagai instruksi. Francis Parker (1837- 1902), seorang bapak paham Progressivisme Amerika menekankan belajar alamiah di masa anak-anak, dengan metode darmawisata, alamiah yang dipelajari langsung. Pengalaman berhubungan dengan perasaan sebagai basis untuk belajar di masa datang yang berarti bahwa anak-anak perl mempunyai pengalaman dengan object di dalam lingkungan. Melalui aktivitas dan kegiatan, mereka diharapkan untuk aktif berhadapan dengan kegiatan tersebut, dan dalam melaksanakan eksperimen sehingga didapatkan kesamaan pemahaman tentang lingkungan tersebut. William Heard Kilpatrick (1871- 1965), seorang tokoh progresif terkemuka, memikirkan metoda kegiatan tersebut, yang mempercayakan kebebasan memilih aspek Naturalism. Suatu hari kemudian neo-Rousseau, yaitu Yohanes Holt, dalam pembelaan kebebasannya, membantah bahwa anak-anak membangun kenyataan mereka sendiri ketika mereka menyelidiki lingkungan mereka. Untuk membentuk kenyataan diri sendiri adalah suatu karya yang berbeda jauh dari belajar kenal dan menyesuaikan diri kepada struktur kenyataan ketika ahli filsafat realis meminta dengan tegas.
    Bagi penyelidik alam, nilai-nilai bangun dari aspek manusia yang berinteraksi dengan lingkungan. Naluri, pengarah, dan dorongan/gerakan hati perlu untuk dinyatakan bukannya untuk menindas. Ungkapan ini, bagaimanapun, harus didasarkan yang alami mengagumi diri sendiri, atau dalam istilah Rousseau’s amour de soi, yang menghapuskan eksploitasi dari yang lain, bukan atas egoisme untuk memperoleh perlakuan khusus dan status lain-lain. Bagi Rousseau, orang yang alami baik adalah yang murni/tidak manja oleh kepalsuan dan konvensi sosial. Rousseau menolak kedua-duanya pandangan Calvinist rusaknya tabiat manusia oleh karena warisan mereka dari dosa asli dan Agama Katholik memandang bahwa mereka secara spiritual sangat kekurangan oleh karena ini menerima warisan secara alami penuh dosa. Bertolakbelakang dengan pemahaman tersebut, Rousseau, menemukan tidak ada yang tidak bisa dipisahkan sifat jahat dalam hati manusia. Kejahatan masyarakat, Dalam terminologi Rousseau, anak secara total baik saat kelahirannya. Sebab anak-anak adalah baik, pendidikan adalah wahana untuk menanamkan moral persons-should mengikuti dorongan/gerakan hati dan kecenderungan anak anak. Kurikulum Dan Instruksi perlu mempertimbangkan sikap alamiah anak tersebut.
    B. Tokoh Pelopor
    a. Jonhann Heinrich, (Swiss)
    b. Jean Jacquen Rousseau.
    c. William Heard Klipatricle.

    BAB II
    PESTALOZZI

    A. Pendangan Dasar
    Pestalozzi mempunyai pandangan dasar bahwa pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik. Atas dasar pandangan ini, ia menentang pengajaran yang “verbalitis”. Pandangan ini melandasi pemikirannya bahwa pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anak mampu menolong dirinya sendiri yang dikenal dengan “Hilfe Zur Selfbsthilfe”
    Dilihat dari konsepsi tujuan pendidikan, Pestalozzi sangat menekankan pengembangn aspek sosial pada anak sehingga anak dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya serta mampu menjadi anggota masyarakan yang berguna. Pendidikan sosial ini akan berkembang jika dimulai dari pendidikan keluarga yang baik. Peran utama pendidikan keluarga yang sangat ditekankan adalah ibu yang dapat memberikan sendi-sendi dalam pendidikan jasmani, budi pekerti agama. Pada kenyataannya baik pendidikan maupun sistem dan model-model kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Jadi menurutnya pendidikan berbasis masyarakat akan memperkuat posisi dan peran pendidikan sosial.
    Sesuai dengan pandangan Jean Jacques Roussean (1712-1778) bahwa anak dilahirkan membawa bakat yang baik, maka pendidikan adalah pengembangan bakat anak secara maksimal melalui pembiasaan, latihan, permainan, partisipasi dalam kehidupan, serta penyediaan kesempatan belajar selaras dengan tahap-tahap perkembangan anak.
    B. Prinsip
    1. Prinsip pengamatan alam
    Pendidikan yang menekankan pada pengamatan alam, semua pengetahuan bersumber pada pengamatan-pengamatan seorang anak pada suatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan pengertian lama dan membentuk pengetahuan.Selain itu pestalozzi juga menganjurkan pendidikan kembali ke alam (back to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah menganjak anak melakukan penagamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
    2. Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak
    Melalui keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi pengetahuan. Keaktifan juga mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya akan menjadi pengetahuan baru. Inilah pemikiran Pestalozzi yang banyak menjadi topik perbincangan yang disebut belajar aktif (active learning).
    3. Pembelajaran bertahap
    Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuhdan berkembang secara bertahap. Pembelajaran dan pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah smpai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.
    C. Pendekatan
    1. Pendekatan konkret
    Pendekatan ini menghendaki pembelajaran dengan menggunakan benda-benda sesungguhnya. Pendekatan ini menolak pembelajaran secara abstrak. Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran akan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang konkret bagi anak, terutama menjadi hidup dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Pendekatan active learning
    Pendekatan ini menghendaki anak aktif dalam kegiatan belajar sehingga anak tidak hanya menjadi objek tetapi juga menjadi subjek.
    3. Pendekatan pedosentri
    Pendekatan ini menghendaki pembelajaran yang disesuikan dengan tahap-tahap perkembangan anak dan kemampuan tiap individu yang memiliki karateristik berbeda.
    4. AVM (Auditori, Visual, dan Memori)
    Pendekatan ini menghendaki bentuk-bentuk pengajaran yang lebih menekankan pada pembelajaransuara, bentuk dan bilangan. Melalui pengembangan AVM ini berfungsi sel-sel syaraf akan berkembang dan selajutnya akan dapat mengembangkan potensi-potensi lainnya seperti imajinasi, kreativitas, intelengensi, bakat, minat anak, misalnya dalam kelompok pengembangan kosa kata anak dan kemempuan berkomunikasi harus mendapat perhatian intensif. Selain itu, pendekatan ini juga menekankan pembelajaran melalui pengamatan dan pengalaman langsung sehingga pengetahuan yang diperoleh oleh anak lebih bertahan lama dalam ingatannya.
    D. Metode
    1. Pengamatan
    Bahan pengajaran disajikan dengan kokret sehingga anak dapat melakukan pengamatan dan mengalami secara langsung.
    2. Demontrasi
    Metode pengajaran yang dilakukan dengan cara memperlihatakan suatu bentuk proses atau kegiatan tertentu agar diikuti oleh anak.
    3. Diskusi
    Metode dengan mengajarkan anak membicarakan suatu benda atau peristiwa yang akan dibahas bersama.
    4. Tanya jawab
    Metode yang melibatkan anak dan guru melakukan kegiatan tanya jawab tentang suatu tema, objek atau peristiwa tertentu.
    5. Resintasi
    Metode dengan memberikan penugasan pada anak untuk mengerjakan berbagai kegiatan atau permainan tertentu.
    6. Probem solving
    Metode pengajaran yang melibatkan guru dan siswa untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan bahan pembelajaran.
    E. Sumber belajar
    Ke kebun Binatang, Musium, Taman Mini, Taman Buah atau Taman Impian Jaya Ancol, (TV, Tape-recorder, VCD-player), Buku, Majalah, Internet.

    F. Langkah-langkah Pembelajaran (RPP)
    1. Langkah menuju (asosiasi)
    Tema : Tanaman
     Melalui gambar, guru memperkenalkan tentang tanaman Jagung (kosakata dan cara pengungkapan kata Jagung)
     Memperkenalkan bentuknya
     Memperkenalkan warnanya

    2. Langkah mengenal
    Berdasarakan contoh diatas, dalam tahap ini anak dapat mengulang kembali penjelasan guru tentang tanaman Jagung dengan menggunakan bahasnya sendiri.
    3. Langkah mengingat
    Pada tahap ini, guru mencoba bertanya kembali kepada anak tetang pembahasan pembelajaran yang telah diberikan. Tahap ini juga diktakan sebagai tahap evaluas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s