Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #3 Definisi dan Kerancuan belajar

Mula-mula mari kita definisikan belajar. Belajar didefinisikan sebagai
proses mendapatkan pengetahuan (baru)  atau mengembangkan kemampuan
untuk mempraktekkan tingkah laku yang baru . Secara psikologis
diartikan sebagai perubahan pengetahuan, yaitu suatu perubahan yang
relatif permanen, baik di dalam atau melalui penerimaan pengetahuan,
pemahaman dan tingkah laku . Sampai di sini tidak ada masalah. Yang
menjadi masalah adalah ketika konsep perubahan pengetahuan ini kemudian
mengalami kerancuan dan pembelokan paradigma.

Kerancuan sistem belajar kita, baik di sekolah dan di universitas,
bahkan juga di tempat kerja adalah ketika menyamakan beberapa hal yang
secara esensial berbeda. Kerancuan itu adalah:

  • mengidentikkan pembelajaran dengan sistem belajar formal
  • menyamakan belajar dengan sistem sosial
  • menyamaratakan belajar dengan konsep-konsep yang sebenarnya berbeda


Kerancuan pertama adalah ketika kita
menyamakan belajar dengan sistem belajar yang telah diformalkan, atau
kita sebut sistem pendidikan, yang salah satunya diwakili oleh sekolah.
Tidak menjadi masalah apabila kita bisa melihat belajar sebagai proses
perubahan dan sekolah sebagai (salah satu) metode perubahan, namun yang
menjadi masalah adalah ketika kita menyamakan keduanya. Kita anggap
belajar adalah ketika kita di sekolah, atau melakukan hal-hal yang
berhubungan dengan sekolah. Sebaliknya juga ketika seseorang ada di
sekolah, atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah kita
mengasumsikan dia sedang belajar, walaupun itu adalah dua hal yang
sangat berbeda. Orang bisa belajar tanpa berada dalam sistem sekolah,
dan juga orang bisa berada dalam sistem sekolah dan sedang tidak
belajar. Kalau kita menerima definisi bahwa belajar adalah mengalami
perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan tingkah laku, maka kita
tidak bisa menjamin bahwa proses belajar itu pasti akan terjadi di
sekolah sesuai dengan yang diharapkan. Mengapa? Karena belum tentu
perubahan itu terjadi.

Kerancuan kedua adalah ketika kita menyamakan belajar dengan suatu
sistem sosial
. Ini mengacu pada teori pendidikan yang disebut sebagai
conditioning, di mana faktor eksternal, yang disebut stimuli atau
rangsangan adalah komponen paling penting dalam proses belajar
seseorang, dan dengan memberikan stimuli yang tepat kita bisa
mengharapkan respon yang kita inginkan. Karenanya sistem pendidikan
yang telah diformalkan menjadi jawaban utama dalam sistem belajar
seseorang, ketika dibuat aturan-aturan baku yang diharapkan dapat
merubah murid yang masuk ke dalam sistem tersebut. Kita bisa bayangkan
slogan Gerakan Wajib Belajar, yang mewajibkan seseorang, pada jam
tertentu, melakukan kegiatan yang berhubungan dengan belajar, dan kita
katakan orang tersebut telah melakukan Gerakan Wajib Belajar.

Menyamakan belajar dengan suatu sistem sosial berakibat fatal.

 
Di satu
sisi orang mau “belajar” karena ada imbalan secara sosial, misalnya
dalam bentuk status yang berbeda bagi seorang mahasiswa dan
non—mahasiswa, orang-orang yang gila gelar, karena status secara sosial
akan berbeda apabila ada gelar yang membuktikan bahwa dia sudah
“terpelajar”. Di sisi lain ada penyeragaman proses belajar, ketika
semua orang dianggap bahan mentah dengan karakteristik yang sama, dan
dengan penanganan yang sama akan  menghasilkan keluaran yang sama. Jadi
orang dipaksa untuk belajar hal yang sama, dengan cara yang sama,
kecepatan yang sama, karena belajar adalah suatu sistem sosial, dan
orang takut untuk berbeda secara sosial.

Kerancuan ketiga adalah ketika kita menyamakan belajar dengan beberapa
konsep yang secara psikologis berbeda
, yaitu (1)  Mengingat/
menghafalkan, yang adalah proses otak untuk menyimpan informasi, namun
belum tentu membuat perubahan secara permanen (2) melatih, yang adalah
proses untuk membuat respons sadar seminimal mungkin (3) Membaca, yang
adalah suatu aktivitas untuk mengubah simbol atau huruf menjadi sesuatu
yang memiliki arti. Semua ini bisa menjadi bagian untuk belajar, namun
bukan menjadi jaminan bahwa ketika kita melakukan hal tersebut, kita
sedang belajar. Bahkan kita membatasi pemahaman belajar menjadi sesuatu
yang kognitif saja, artinya apabila pemikiran kita sudah mengalami
perubahan, maka kita katakan kita sudah belajar.

Saya ajak anda untuk membandingkan kata ini dengan penggunaannya dalam
bahasa Jawa, yaitu sinau. Bagi pengguna bahasa Jawa kedua kata ini
adalah sinonim, yaitu belajar = sinau, dan sinau = belajar. Namun dalam
penggunaannya, kita bisa melihat semantic range yang berbeda untuk
kedua kata ini. Kata sinau tidak bisa diterapkan dalam hal-hal yang
berbentuk praktis, misalnya sinau numpak pit, yang artinya bukanlah
belajar naik sepeda (dalam arti dipraktekkan), namun belajar dengan
membaca atau mempelajari teori/cara naik sepeda. Walaupun sinau
dianggap sinonim dengan belajar, namun sinau memiliki nuansa belajar
secara formal ataupun kognitif, misalnya dengan membuat PR, membaca
atau menghafalkan. Dan itulah paradigma itulah yang melekat dalam benak
banyak orang ketika mendengar kata belajar – yaitu belajar secara
formal dan kognitif, yang sebenarnya adalah baru sebagian dari belajar.
Mao Zedong (1893 – 1976), pemimpin Cina berkata, Reading books is
learning, but application is also learning and the more important form
of learning.

2 thoughts on “Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #3 Definisi dan Kerancuan belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s