Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #2

Bagaimana dengan hubungan antara sistem pendidikan dengan ketahanan
suatu bangsa? Selama beberapa dekade kita terpesona oleh “candu” yang
berbentuk angka-angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis, yang
mengiming-imingi bahwa kita akan segera menjadi New Asian Tiger, Macan
Asia. Cetak biru perekonomian bangsa kita serahkan kepada kepada
sekelompok think—tank, kelompok berpikir yang disindir dengan nama
“mafia Berkeley”, pakar-pakar  ekonomi lulusan sekolah luar negeri yang
memiliki pemikiran makro ekonomi yang pro sistem kapitalis namun
diberangus dalam sistem sosialis orde baru. “Kapitalis malu-malu”,
begitu kata orang menyindir sistem perekonomian orde baru.

Kita baru dipaksa sadar ketika terjadi masalah, bencana yang dimulai di
bidang ekonomi pada tahun 1997, namun segera menjalar ke bidang-bidang
lainnya, yang kemudian kita sebut sebagai krisis multidimensi. Secara
fundamental ekonomi kita hancur, yang terlihat dengan nilai tukar
rupiah yang melemah hebat, ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk
membayar hutang yang nilai tukarnya melonjak hebat, gulung tikarnya
sekian banyak sektor usaha anak negeri – namun itu pun baru
permulaannya saja.

Ternyata krisis yang terjadi adalah krisis moral,
ketika pejabat dan rakyat jelata tidak memiliki acuan moral yang teguh,
yang begitu mudah diiming-imingi, apakah untuk melakukan korupsi atau
untuk melakukan penjarahan; krisis politik, ketika mereka yang adalah
elite politik Indonesia, dengan mengatasnamakan kerakyatan dan
kebangsaan, saling bertikai, saling menuding, saling menyalahkan, dan
saling ambil kesempatan dalam kesempitan; krisis kebangsaan, ketika
sesama anak bangsa saling makan, terlibat kerusuhan, terlibat
separatis; krisis martabat, ketika dengan mudah kita menjual bangsa
kita untuk mendapatkan keuntungan; krisis kemanusiaan, ketika dengan
mudah kita mengambil nyawa orang lain untuk kepentingan kita dan segala
macam krisis-krisis lain yang masih menghantui bangsa kita.  Apakah
kita bisa melihat ke belakang dan menuding sistem pendidikan nasional
sebagai salah satu biang keladi keruntuhan bangsa ini?

Winarno Surakhmad, seorang guru menulis dalam harian Kompas, 3 Februari 2000. Katanya:

Pelaksanaan pendidikan selama ini malah menjadi sumber masalah daripada
pemecah masalah. Di sisi lain dari tahun ke tahun perubahan yang
dilakukan pemerintah hanyalah berupa kosmetik, atau sekedar di
obok-obok. Padahal yang dibutuhkan justru perubahan mendasar, yakni
pada landasan falsafah pendidikan itu sendiri yang selama ini nyaris
tak pernah dibicarakan dibicarakan oleh penyelenggara pendidikan
nasional.

Winarno juga menggugat. Katanya:

Apakah sumbangan pendidikan semu sejauh ini? Nihil. Terbukti sebuah
ilusi skala nasional itu tak dapat mengklaim mampu memberikan daya
tahan ekonomis, daya tahan moral, bahkan daya nalar sekalipun kepada
bangsa ini…. tiadanya kemampuan berbuat jujur, berpikir sehat,
bertutur sopan mulai dari rakyat sampai elite politik yang berkuasa.

Sekarang ini hampir tidak ada sisa pengaruh yang menunjukkan bahwa
bangsa ini telah (pernah) besar atau dibesarkan oleh pendidikan di masa
lalu.

Apakah landasan falsafah pendidikan yang dibicarakan oleh Winarno? Ia
berbicara tentang perlunya “menemukan apa yang seharusnya menjadi
esensi pendidikan”, dan bagi saya pribadi, landasan falsafah
pendidikan, esensi pendidikan yang perlu dirumuskan tersebut adalah
dalam paradigma belajar. Paradigma adalah bagaimana kita memandang
konsep belajar, dan saya melihat ada beberapa kesalahan yang sudah kita
lakukan selama ini, yang meracuni cara kita belajar, merusak pemikiran
kita tentang belajar, dan pada ujungnya, membuat kita merumuskan sistem
pendidikan kita dengan metode dan tujuan yang kurang sesuai. Kita
mengulangi hal-hal yang sama dan kita anggap kita sudah belajar, namun
seperti yang dikatakan oleh John Pomfret (1667 – 1702), pujangga
Inggris,

From the time we first begin to know, We live and learn, but
not the wiser grow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s