Kesejahteraan 01.4 Bagaimana memiliki jiwa yang sejahtera

Minggu lalu kita telah berbicara tentang kesejahteraan jiwa. Semua orang menginginkan hidup yang sejahtera, dan itu dimulai dari jiwa yang sejahtera. Jiwa yang sejahtera didapatkan dari hidup yang memiliki hubungan yang intim dengan Allah, Sang Pencipta. Namun justru banyak orang percaya yang jiwanya tidak terpelihara dengan baik, dan tidak mengalami damai sejahtera. Untuk itu kita perlu memberi waktu, hati, tenaga, pikiran, bahkan kehidupan kita dengan melakukan dan memikirkan hal-hal yang dapat meningkatkan kesejahteraan jiwa. Hal-hal apa sajakah yang dapat meningkatkan kualitas jiwa kita?
Secara singkat, ada hal-hal yang sangat prinsipil yang perlu terjadi dalam hidup, jika kita menginginkan kehidupan yang sejahtera:

  • Hidup berdasarkan kasih karunia
  • Hidup dengan tujuan-tujuan ilahi
  • Hidup berdisiplin rohani
  • Hidup bersyukur

Berikut penjelasannya…

1.    Hidup berdasarkan kasih karunia

Hidup berdasarkan kasih karunia adalah hidup yang memiliki kesadaran bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk hidup yang benar-benar hidup hanya dengan kekuatan kita sendiri. Semua manusia sebenarnya memiliki hidup yang tidak layak dihadapan Pencipta kita, dan justru seharusnya mendapat penghukuman. Namun ketika kita percaya kepada Yesus, kita langsung menikmati berkat-berkat yang luar biasa menurut Ef 1. Orang percaya adalah orang yang sudah dipilih sebelum dunia dijadikan, dikuduskan, dan diangkat sebagai anak-anak Allah. Kita telah ditebus dari dosa dan dimeteraikan oleh Roh Kudus. Dan semua itu kita dapatkan bukan karena usaha kita, tapi karena ada pribadi lain yang terlebih dahulu mengerjakannya bagi kita, yaitu Yesus Kristus. Kita adalah orang yang berdosa dan rusak, lebih dari yang bisa kita duga; namun juga kita telah dikasihi dan diterima lebih dari yang bisa kita harapkan. Itulah esensi dari kasih karunia Allah.

Banyak orang percaya telah memahami kebenaran ini ketika mereka percaya, namun kasih karunia bukanlah semata-mata berbicara tentang keselamatan saja. Kasih karunia adalah dasar hubungan kita dengan Allah,  namun terus menerus menjadi cara kita berhubungan, baik dengan Allah, diri sendiri dan juga orang lain. Kita ada sebagaimana adanya, karena ada yang sudah menerima kita apa adanya, dan bukan karena usaha, kerja keras, komitmen ataupun prestasi kita.

Ketika kita hidup dalam kasih karunia, tidak mungkin kita menjadi orang yang sombong, karena kita tahu, tidak ada yang bisa kita banggakan dalam hidup ini di hadapan Allah. Tidak ada hal yang membuat saya bisa merasa lebih baik dari orang lain. Namun juga tidak ada alasan untuk menjadi minder. Kita layak dan berharga, karena kita memang sudah dilayakkan dan dianggap berharga oleh pencipta kita. Artinya kita akan memiliki identitas diri yang benar, di dalam Kristus.

Hidup dalam kasih karunia artinya kita akan hidup dalam pengampunan, karena kita juga adalah orang berdosa yang telah mendapatkan pengampunan. Kita bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita, namun juga mengampuni diri sendiri untuk kegagalan dan ketidaksempurnaan, dan juga meminta pengampunan dari Tuhan. Kita tidak akan hidup menghakimi dan menuntut orang-orang di sekitar kita untuk berubah, namun justru kita akan belajar menerima mereka apa adanya.

Hidup dalam kasih karunia juga berarti bahwa kita tidak akan menjadi seseorang yang penuh standar-standar legalistik yang merasa diri kita benar ketika kita melakukan daftar aturan atau mencapai standar tertentu. Kita menolak untuk menjadi seorang yang perfeksionis, workaholic ataupun ketidakseimbangan lainnya. Kita menolak untuk memanipulasi atau mengendalikan orang lain, termasuk kepada Tuhan.

Hidup dalam kasih karunia berarti belajar untuk melihat segala hal dan peristiwa dari kacamata Allah.

2.    Hidup dengan tujuan ilahi

Ketika kita hidup dalam kasih karunia, cara memandang kita pun akan diubahkan. Kita melihat diri sendiri dan kehidupan ini menurut cara pandang Allah. Artinya apa yang Allah anggap penting, itu pun penting buat saya. Apa yang tidak penting buat Allah, tidak penting juga bagi kita. Apa yang menyenangkan Allah, seharusnya itu juga yang menyenangkan saya. Itu berarti kita menjadi semakin mirip dengan yang kita sembah.
Karena identitas kita sudah berubah, maka tujuan hidup kita pun berubah. Kita akan mencari hal-hal apa yang kita tahu penting dan berharga, namun dari sudut pandang Allah. Kita bersemangat untuk melakukan apa yang baik dan benar menurut Allah. Dalam Ef 2:10 dikatakan bahwa

“ …kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Itu berarti Allah telah memiliki rencana, baik Rencana Agung-Nya, maupun rencana-Nya yang unik bagi setiap anda dan saya. Dan menjadi bagian saya untuk mengetahui apa rencana itu, melakukannya dan menikmatinya juga, karena saya tahu apa yang Allah rancangkan akan membawa damai sejahtera buat saya.

Dengan pemahaman ini kita justru tidak akan berleha-leha ataupun berkanjang dalam dosa ketika kita mengisi hidup ini. Kita tahu ada kasih karunia yang sudah menerima kita apa adanya, dan tetap akan menerima kegagalan dan dosa kita. Namun kita tahu kita sedang tidak maksimal ketika kita tidak melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Pada saat yang sama, kita pun menolak untuk hidup yang tidak seimbang dan hanya memfokuskan diri pada satu aspek kehidupan saja. Karena kita tahu apa tujuan kita, maka kita pun tahu apa yang menjadi prioritas dan dapat menyeimbangkan kehidupan kita.

Jika kita tahu tujuan ilahi dalam hidup kita, maka ketika kita melakukan hal-hal yang mungkin dianggap hebat atau luarbiasa oleh orang disekeliling kita, tetapi jika hal tersebut tidak memiliki nilai-nilai kekekalan, kita tidak akan antusias untuk meneruskan hal tersebut. Sebaliknya kalaupun kita sedang melakukan hal yang mungkin dianggap remeh, namun kita tahu bahwa ini adalah kehendak Allah, berarti kita akan melakukannya dengan semangat yang besar.

3.    Hidup dengan melakukan disiplin rohani yang sehat

Ketika kita hidup dalam kasih karunia dan tujuan yang benar, maka kita akan melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Kita tidak melakukan hal ini untuk dibenarkan ataupun diterima, karena hal tersebut sudah kita miliki. Namun karena ada tujuan ilahi yang Tuhan persiapkan, maka kita melatih diri kita untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Namun kita perlu melihat latihan atau disiplin rohani ini dengan sudut pandang yang benar.
Dalam hidup yang didasari kasih karunia, bukan hanya keselamatan saja yang berasal dari Allah, tapi juga pertumbuhan. Dalam 1 Kor 3:6-7 dikatakan

“… tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.”

Allah yang memiliki inisiatif dan cara agar kita selamat, Allah juga yang memiliki inisiatif dan cara agar kita bertumbuh.
Kalau begitu apa guna disiplin rohani yang kita lakukan? Gunanya adalah agar kita menjadi bejana yang lebih baik agar kasih dan kuasa Tuhan menjadi maksimal di dalam dan lewat hidup kita. Kita melatih diri kita dengan apa yang baik dan benar agar kehendak Tuhan nyata dalam hidup kita. Dan ketika itu terjadi, kita akan bertumbuh dengan maksimal dan dapat mewujudkan tujuan Allah dalam hidup kita.

Sebagai contoh bisa kita sebutkan doa. Jika doa menjadi alat kita untuk memanipulasi, memaksa atau mengendalikan Allah, maka biarpun kita menjadi orang yang rajin dan trampil berdoa, namun kita sedang tidak maksimal dalam tujuan-tujuan ilahi. Allah mau kita berdoa, dan ketika kita melatih diri kita berdoa, tujuannya agar kehendak Allah nyata dalam hidup kita. Justru doa-doa kita akan mengubah diri kita terlebih dahulu dan membuat kita bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Allah.

Artinya ketika kita melakukan disiplin rohani dengan motivasi dan cara yang benar, yang akan terjadi adalah diri kita akan diubahkan, dan itu dimulai dari dalam kita karena Allah sendiri yang akan bekerja untuk mengubah hal-hal yang terdalam di dalam hidup kita. Karakter, motivasi dan sikap hati akan semakin terbuka untuk dimurnikan oleh Allah.

Disiplin rohani yang sehat akan membuat semakin bertumbuh dan semakin menyerupai Kristus.

4.    Menikmati hidup dan bersyukur untuk apapun yang diberikan Allah

Setelah kita lakukan ketiga hal tersebut, kita bisa relaks, dan menikmati hidup ini karena kita telah memberi yang terbaik kepada Allah. Kita juga belajar untuk mensyukuri apapun yang terjadi pada hidup kita, karena kita percaya bahwa hal-hal tertentu diijinkan terjadi dalam hidup kita. Kita akan mengakui keberadaan hal-hal yang menyakitkan dalam diri kita. Kita menolak untuk hidup bersandiwara. Kita belajar hidup dari kedalaman hati yang sudah diubahkan oleh Tuhan. Mungkin kita tidak mengerti mengapa ada hal yang terjadi dalam hidup ini yang tidak kita inginkan. Kita mengalami kesedihan, kesepian, perasaan ditinggalkan dan diabaikan. Mungkin kita juga mengalami hal-hal yang buruk, seperti penolakan dan pelecehan. Tapi kita tidak akan mengabaikan perasaan tersebut atau mengeraskan hati kita. Kita justru akan bergumul dengan Tuhan, dan melepaskan perasaan dan persoalan kita ke tangan-Nya. Kita akan mengimani, bahwa

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28).

Dan kita mau menikmati petualangan kita bersama Allah.

Hal-hal inilah yang mendasar kehidupan yang tertata dengan rapi. Ini adalah hidup yang memiliki dasar yang benar, tujuan yang benar, prioritas dan cara-cara yang benar. Bagaimana dengan anda dan saya? Sudahkah anda dan saya memiliki jiwa yang sejahtera, yang tertata dengan baik, karena kita sudah memiliki:

  • Hidup berdasarkan kasih karunia
  • Hidup dengan tujuan
  • Hidup dengan melakukan disiplin rohani yang sehat
  • Menikmati hidup dan bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s