Kesejahteraan 01.3 Akibat jiwa yang tidak terpelihara dengan baik

Minggu lalu kita telah berbicara tentang kesejahteraan jiwa. Semua orang menginginkan hidup yang sejahtera, dan itu dimulai dari jiwa yang sejahtera. Jiwa yang sejahtera didapatkan dari hidup yang memiliki hubungan yang intim dengan Allah, Sang Pencipta. Namun justru banyak orang percaya yang jiwanya tidak terpelihara dengan baik, dan tidak mengalami damai sejahtera. Padahal, penting bagi kita untuk memberikan waktu, hati, tenaga, pikiran dan hidup, untuk menata jiwa kita supaya terpelihara dengan baik. Jika tidak, kita pun akan mengalami dampak yang tidak baik dalam hidup ini. Apa saja dampaknya?
Jika kita memiliki jiwa yang tidak terpelihara, kehidupan kita akan menjadi seperti ini:

  • gelisah dan mencari-cari
  • tidak seimbang
  • ditutupi dengan topeng-topeng
  • memiliki hubungan yang rusak

1.    Hidup yang gelisah dan mencari-cari

Jika kita mengabaikan kesehatan jiwa, yang terjadi adalah perasaan tidak puas. Kita akan memiliki kebutuhan, yang kita sendiri sulit untuk identifikasi. Yang kita tahu hanyalah kita memiliki dorongan yang besar untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu. Namun jika kita mendapatkannya, tetap saja kita tidak puas dan mencari lagi.
Bagi sebagian orang yang berbakat dan memiliki hasrat yang besar, hidup menjadi seperti sebuah kompetisi untuk meraih pencapaian terus-menerus. Ketika sudah berhasil dalam taraf tertentu, tetap saja ada ketidakpuasan yang harus diisi dengan keberhasilan yang lebih tinggi lagi. Dan itu menjadi paksaan dan dorongan di satu sisi, namun di sisi lain juga menjadi candu dan daya tarik yang memabukkan. Namun tetap tidak membawa kepuasan yang penuh.
Bagi sebagian lain, yang kurang beruntung, hidup menjadi sumber kekecewaan dan kegagalan. Hidup menjadi putaran rasa frustasi yang datang silih berganti. Beberapa orang menjadi marah, dan bersikap agresif dan memberontak. Beberapa orang lain menjadi apatis, dan kehilangan semangat dalam hidup.

Intinya, hidup menjadi sebuah pencarian yang tidak pernah berhenti,
karena kita pun mungkin tidak tahu apa sebenarnya yang kita cari. Hidup
yang penuh kegelisahan dan pencarian ini  adalah hidup yang melelahkan.
Jiwa yang tertata dengan baik akan memberikan kepuasan yang penuh pada
kita.

2.    Hidup yang tidak seimbang

Setiap manusia adalah pribadi yang utuh, yang memiliki aspek fisik, rohani, emosi, dan sosial. Setiap aspek ini memiliki kebutuhannya masing-masing yang perlu dipenuhi. Dan orang sudah terbiasa untuk mencari pemenuhan kehidupan, pertama-tama secara fisi  karena kebutuhan inilah yang biasanya merupakan kebutuhan primer dan langsung mengancam kelangsung hidup. Orang juga kemudian terbiasa untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, karena hubungan dengan orang lain akan sangat mempengaruhi aspek rohani dan emosinya. Namun sebenarnya aspek rohani dan emosi juga memiliki kebutuhan sendiri yang perlu dipenuhi dengan cara-cara yang sehat.

Ketika kita mengabaikan aspek satu atau beberapa aspek ini, yang terjadi adalah ketidakseimbangan dalam hidup. Kita berfokus pada satu aspek, dan kemudian mengabaikan aspek yang lain. Hidup menjadi tidak utuh, tapi terpecah-pecah. Kita mungkin berkelimpahan dalam satu aspek tertentu, dan pada saat yang sama sangat berkekurangan dalam aspek yang lain.

Saat hidup dalam keadaan yang tidak seimbang, kita menjadi rentan untuk mengalami krisis-krisis, yang terjadi karena kita mengabaikan kebutuhan kita yang lain.

3.    Hidup yang ditutupi dengan topeng-topeng

Jiwa yang terpelihara dengan baik adalah kehidupan yang tertata dari dalam. Yesus sendiri berkata,

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.  Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.  Itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:18-20b).

Kondisi hati manusialah yang pertama-tama menentukan kualitas kehidupannya, dan bukan apa yang ada di luar. Ini tidak berarti bahwa kita hanya mengutamakan apa yang ada di dalam dan tidak mementingkan yang diluar. Tuhan Yesus pun berkata dalam Lukas 6:43-44,

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.  Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.”

Artinya kualitas manusia batiniah tersebut, seharusnya, akan tercermin dalam perilaku yang dapat dinilai orang.
Namun yang sering terjadi, orang kemudian mengutamakan kualitas eksternal terlebih dahulu. Hal ini seperti seorang penjual buah yang lebih mengutamakan untuk memoles buahnya, dan bukan memperhatikan pohon itu sendiri. Yang seharusnya terjadi adalah agar kita memberi perhatian kepada pohon, baik pada cabang, batang dan juga akarnya.  Apabila pohon itu benar-benar sehat, maka akan menghasilkan buah yang sehat dan berkualitas juga.

Ketika kita mengutamakan kualitas eksternal kita, apalagi dengan cara mengabaikan kondisi jiwa yang paling dalam, sebenarnya kita sedang hidup bersandiwara. Jujur harus dikatakan bahwa setiap orang akan memiliki topeng masing-masing, yang merupakan cara kita mengekspresikan diri, yang tidak sesuai dengan kondisi di dalam kita. Namun bagi beberapa orang, topeng ini, baik secara atau tidak sadar, sudah menjadi pengganti identitas kita yang nyata. Dan banyak waktu, pikiran, tenaga dan materi yang dihabiskan untuk mempercantik topeng ini, dan bukan untuk diri kita yang sebenarnya.

Hidup dalam topeng-topeng adalah hidup yang sangat melelahkan, dan tidak membawa sukacita yang sejati. Hidup yang tertata dari dalam adalah hidup yang bisa tampil wajar, apa adanya

4.    Hubungan yang rusak, dengan diri sendiri, orang lain dan terutama dengan Tuhan

Ketika Yesus berkata,

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius  22:37-39),

Ia sedang menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah hubungan, Tuhan sebagai sumber, dengan diri sendiri, dan dengan orang lain. Ketika kita tidak menata jiwa dengan baik, dampaknya adalah ada aspek hubungan kita yang rusak atau terganggu. Dan ketika itu terjadi, walaupun kita memiliki banyak hal yang baik dalam hidup kita, namun tidak akan membawa kepuasan yang penuh, karena tidak memenuhi kebutuhan kita yang paling dalam.

Jiwa yang terpelihara dengan baik, adalah jiwa yang memiliki hubungan yang baik dengan Allah, pencipta seluruh kehidupan kita, namun juga dengan diri sendiri, dalam bentuk identitas yang sehat, yang didasarkan pada hubungan kita dengan Allah. Dari hubungan yang sehat dengan Allah dan diri sendiri akan muncul hubungan yang baik dengan orang lain juga. Dalam hubungan-hubungan yang terpelihara baik inilah akan muncul kepuasan yang sejati dalam kehidupan kita.

Bagaimana dengan anda dan saya? Sudahkah anda dan saya memiliki jiwa yang sejahtera, yang tertata dengan baik, karena kita sudah memiliki:

  • Keseimbangan dalam hidup
  • Kepuasan yang dalam
  • Kehidupan yang apa adanya
  • Hubungan yang sehat, dengan Allah, diri sendiri dan orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s