Kesejahteraan 01.1 Tanda-tanda jiwa yang tidak terpelihara dengan baik

Pemahaman

Hari-hari ini banyak orang yang sedang merasa cemas dalam kehidupannya. Krisis keuangan global. Harga-harga kebutuhan pokok yang terus meningkat. Bencana alam dan kerusuhan. Pendidikan yang sulit terjangkau. Sakit-penyakit. Setiap hari orang dipaksa untuk berpikir dan bekerja keras agar dapat memiliki hidup yang sejahtera.

Namun kesejahteraan hidup bukan bersifat jasmani saja. Bahkan setiap hari ada saja hal-hal yang mengganggu ketenangan manusia. Kehilangan orang yang dikasihi. Kekecewaan ketika gagal meraih yang dicita-citakan. Kesedihan. Kemarahan yang meledak ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai. Ketakutan dan keragu-raguan, apalagi ketika harus mengambil suatu keputusan. Sementara yang lain bergumul dengan kebosanan di dalam hidup dan perasaan yang hampa.

Sepertinya hidup adalah rangkaian masalah yang disambung dengan masalah yang lain. Yang bisa dilakukan hanyalah sekedar bertahan hidup. Banyak orang yang menghabiskan malam seperti Ayub, yang di dalam Ayub 7:4 berkata “Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari”. Dan hal ini dialami baik oleh orang percaya maupun mereka yang belum percaya.

Bagi orang percaya sebenarnya ada janji yang diberikan oleh Tuhan Yesus, yang dalam Yoh 14:27 berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Ada Roh Kudus yang menjadi penghibur, yang akan mengajarkan, mengingatkan dan memberi kekuatan bagi orang yang percaya. Seharusnya orang percaya telah mendapatkan kepuasan dan kesejahteraan di dalam Tuhan.

Namun bagaimana kenyataaannya…

Namun pada kenyataannya, banyak orang percaya yang justru masih merasa tertekan dan merasa kala dalam hidup. Mereka terus mencari sesuatu yang bisa memberikan kesejahteraan dan ketenangan bagi jiwanya. Mereka seperti pemazmur yang bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” (Mzm 42:5,11). Sepertinya ada kebutuhan di dalam hidup ini, yang sulit untuk diidentifikasi, dan sulit diberi nama, tapi sampai sekarang pun, belum terpuaskan.

Ini adalah kondisi hidup yang tidak terpelihara dengan baik. Ini ibarat sebuah tanaman, yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang serius, yang memakan biaya agar bisa berkembang dengan baik. Jiwa kita pun membutuhkan investasi waktu, tenaga, pikiran dan bahkan materi, agar jiwa ini tertata dengan baik. Dan seperti tertulis di Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Hati dan jiwa yang tertata dengan baik akan menghasilkan kehidupan yang tertata dengan baik juga.

Bagaimanakah tanda-tanda jiwa yang sedang tidak terpelihara dengan baik? Jiwa kita sedang tidak terpelihara ketika kita sering atau cenderung merasakan hal-hal seperti ini:

  1. Bosan, walau hidup kita dipenuhi dengan kesibukan. Memiliki jadwal kegiatan yang terisi padat, namun tidak membawa kepuasan bagi kita maupun orang di sekitar kita.
  2. Kehilangan kendali, ketika apa yang kita lakukan sekedar bertahan hidup. Hanya bisa bereaksi terhadap pengaruh-pengaruh dari luar dan tidak memiliki tujuan.
  3. Kesulitan untuk menikmati hubungan yang berarti dengan orang-orang yang terdekat dalam hidup kita, maupun dengan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita
  4. Menjauhkan diri dari apa yang menjadi peran dan tanggung jawab kita.
  5. Terobsesi dengan hal-hal tertentu, sering dengan hal-hal yang remeh, yang justru menjauhkan dari apa yang menjadi peran dan tanggung jawab kita.
  6. Kegelisahan dan kecemasan, yang sulit untuk dihilangkan, karena banyak pertanyaan dan pemikiran yang mengikat kita
  7. Kesulitan untuk menikmati peristiwa dan pengalaman hidup, maupun sulit untuk belajar dari apa yang pernah terjadi dalam hidup ini.
  8. Mudah dipengaruhi oleh emosi-emosi negatif, seperti rasa malu dan rasa bersalah
  9. Mengeraskan hati: menekan perasaan, mengabaikan atau melupakan masalah
  10. Bergumul dan jatuh bangun dengan kebiasaan-kebiasaan buruk, baik itu kebiasaan hati, pikiran maupun perilaku.

Ingat, bahwa kesejahteraan hidup kita dimulai ketika kita memiliki hubungan yang benar dengan Allah, pencipta dan sumber kehidupan kita. Namun, Mengenal Allah, adalah proses yang akan terus berlangsung dalam hidup kita, dan akan berlangsung dengan baik ketika kita menata kehidupan secara baik pula.Bagaimana dengan anda? Apakah hati, jiwa dan hidup anda sedang terpelihara dengan baik?

Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. (Kis 17:26-28)

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10b)

Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.(Maz 103:1-5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s