To Know God Personally!

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Westminster Cathecism, bertanya:

Untuk apakah manusia diciptakan?

Suatu pertanyaan yang sangat mendasar karena mempengaruhi alasan, motivasi dan tujuan manusia untuk hidup. Dalam kotbahnya di Athena yang sangat kognitif dan rasional, Paulus memberikan alasan tentang keberadaan manusia, yaitu

Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,  supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.  Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. (Kis 17:26-28)

Dikatakan bahwa tugas manusia adalah mencari, menjamah dan menemukan Allah. Mengapa?
Karena Allah adalah sumber dari kehidupan kita. Dan ketika kehidupan manusia tidak bersumber dari Allah, apa yang menjadi sumber kehidupannya? Mungkin manusia masih ‘kelihatan’ hidup, namun ia tidak akan hidup dalam kondisi sebagaimana ia dirancang.Ef 2:1-3 menggambarkan kondisi manusia seperti itu, yang kelihatannya hidup, namun sebenarnya sedang hidup di dalam murka Allah. Keadaan tersebut terjadi karena kejatuhan manusia pertama, yang menolak untuk hidup dalam kehendak Allah tersebut. Dan kondisi itu membutakan manusia sendiri, sehingga ia tidak tahu kebutuhannya yang paling dalam. Calvin menyebutkan hal tersebut sebagai Total Depravity – kebangkrutan total, yang membutuhkan pekerjaan Allah sendiri untuk mengeluarkan manusia dan kembali ke dalam rancangan Allah.

Karenanya penting bagi manusia untuk mengenal Allah, sang sumber sejati, suatu usaha yang dihambat oleh banyak hal, yang dapat dikategorikan dalam kedagingan – kecenderungan orang untuk berdosa dan tidak menaati Allah, keduniawian – sistem kepercayaan dan sosial yang bertentangan dengan kebenaran Allah, dan Iblis – si pendusta besar yang berusaha menjauhkan orang dari Allah.

Usaha untuk mengenal Allah merupakan suatu perjalanan  seumur hidup. Bahkan Ayub, yang disebut sebagai orang paling “saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (Ayub 1:8), setelah mengalami hal-hal yang menyakitkan dan bertanya-tanya, pada akhir pergumulannya dengan Allah berkata “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 4:25). Namun kabar baiknya adalah karena Ia adalah Allah yang ingin dikenal, maka Allah sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri kepada manusia.

Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah
kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN
menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika
engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau
meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya. (1 Taw
28:9)

Adalah bagian kita saat ini untuk memberi tanggapan –
maukah kita hidup sebagai pencari Allah, yang rindu untuk mengenal Dia sebagai pribadi yang mengasihi kita dengan kasih yang tidak bersyarat, mengenal dan mengasihi Dia dalam keseluruhan hidup kita? Inilah hukum yang pertama dan terutama

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat 22:37)

Jadilah pencari Allah! Jadilah pembaharu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s