Tag Archive | yesus

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #3

B    Bagaimanakah hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Yesus

Hidup berkualitas
Yesus bukan hanya sekedar menjanjikan hidup. Yesus menjanjikan hidup yang berkelimpahan. Di Alkitab kita bisa melihat bahwa hidup yang berkelimpahan tersebut akan terdiri dari dua hal:

  • Berkat-berkat jasmani, yang meliputi: materi seperti kekayaan, ternak, hasil tanah; kekayaan seperti harta, perhiasan dan barang dagangan; juga kekayaan alam, seperti air dan hujan.
  • Berkat-berkat rohani, yang meliputi kasih, kebaikan, belas kasihan, kuasa, hikmat, pengetahuan, damai, anugerah dan sukacita.

Kedua hal ini saling berhubungan, dimana berkat-berkat jasmani selalu digambarkan sebagai pemberian Allah, baik sebagai imbalan untuk ketaatan ataupun bagian dari kasih karunia—Nya.

Ingat bahwa pada mulanya Allah menyamakan kehidupan dan kesejahteraan manusia. Allah menciptakan manusia untuk memuliakan Dia dan menikmati keadaan itu. Kejatuhan manusia yang mengubah hal tersebut. Allah masih memberkati manusia dengan kelimpahan, namun sekarang hal tersebut akan tergantung pada:
Read More…

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #4

C Selain Gembala, ternyata ada pribadi lain yang ikut campur dalam kehidupan kita.

1. Ada pribadi-pribadi yang tidak memikirkan kesejahteraan kita:

  • Ada orang asing, yaitu mereka yang tidak kita kenal, dan tidak akan kita ikuti. Mereka juga adalah pribadi yang tidak mengenal kita secara mendalam.
  • Orang-orang upahan, mereka-mereka yang akan justru mengkhianati tanggung jawab yang mereka miliki, dan melarikan diri ketika ada bahaya mengancam.
  • Pencuri dan perampok – mereka-mereka yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan sejati kita, yang pekerjaannya adalah mencuri, membunuh dan membinasakan.

2. Bagaimana cara pencuri bekerja?

  • a. Menipu: 1) Membuat orang meragukan dan tidak mempercayai kebaikan Allah,2) Membuat orang lebih menyukai berkat daripada pemberi berkat
  • b. Mengintimidasi – mendakwa: 1) Rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah,2) Membuat kita kecil hati dan tidak tahu identitas kita di dalam Kristus
  • c. Mengikat: 1) Dalam pola dosa, pikiran-pikiran kotor dan kebiasaan yang merusak,2)
    Dengan perasaan-perasaan negatif: kemarahan dan pembalasan dendam,
    luka-luka batin, kepahitan dan tidak mengampuni, penghakiman satu sama
    lain
  • d. Menghancurkan kehidupan
  • e. Mencuri berkat-berkat yang telah dipersiapkan Allah

Apa yang Allah inginkan…
Read More…

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #2

A Yesus datang untuk membawa hidup

Sejak manusia jatuh dalam dosa, kelimpahan dan kehidupan menjadi sesuatu yang harus diusahakan dengan keras oleh manusia. Kejatuhan manusia membuatnya menjauh dari kehidupan yang sejati, karena manusia kemudian menjadi terpisah dengan Allah yang adalah sumber kehidupan yang sejati . Dunia ciptaan pun mendapatkan kutukan , sehingga menjadi sulit bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak itu keadaan kelimpahan merupakan suatu suasana kondisional, yaitu keadaan bersyarat yang tergantung akan hubungan manusia dengan Allah.

Bukan itu saja. Kondisi manusia yang terpisah dengan Allah menyebabkan manusia memiliki kehidupan yang semu. Kita masih memiliki kesempatan untuk meneruskan kehidupan, sama seperti Adam yang masih mengalami hidup, sampai ia berumur 930 tahun dan kemudian mati. Namun sebenarnya itu adalah kehidupan yang semu, karena kita semua seharusnya sudah mati, atau sedang menuju kematian kekal yaitu penghukuman untuk dosa-dosa kita. Kelihatannya bernyawa dan berfungsi, namun sebenarnya sedang tidak hidup. Kondisi ini digambarkan dalam film Matrix, saat manusia mengira mereka sedang menjalankan aktivitas sehari-hari, walaupun sebenarnya mereka sedang berada dalam kondisi mati suri dan hidup dalam dunia maya.

Manusia berada dalam keadaan yang sulit. Di satu sisi ia adalah orang hukuman yang harus
menanggung sanksi yang dijatuhkan padanya. Namun di sisi lain tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk membebaskan diri hukuman. Hukuman itu begitu besar, sehingga tidak ada manusia yang bisa bebas dari hukuman tersebut. Hanya Allah sendiri yang bisa memuaskan hukuman tersebut. Itu artinya kondisi manusia adalah suatu kepastian – yaitu hukuman kekal , dan tidak ada cara untuk menghindarinya. Jadi walaupun manusia hidup, namun terpisah dari Allah – selama-lamanya. Bagaimana manusia bisa melepaskan diri dari kerusakan ini?

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,” (Ef 2:4)

demikian Paulus berkata, untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya hati Allah. Bahkan ketika Ia menjatuhkan hukuman kepada Adam dan segala ciptaan, Allah sudah mempersiapkan jalan keluar bagi manusia. Allah  berjanji bahwa akan ada Pembebas yang berasal dari keturunan Hawa yang akan menghancurkan pekerjaan Iblis , dan pada saat yang sama membebaskan manusia.

Untuk itulah Yesus datang ke dunia. Ketika malaikat datang kepada Yusuf, ada janji bahwa anak Maria akan menjadi orang yang “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Kehidupan yang bebas dari hukuman adalah hasil kedatangan Yesus. Tidak ada satupun yang bisa mendapatkan hidup ini melalui kelahiran, kebaikan, prestasi ataupun pencapaian lainnya. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan
keselamatan kecuali melalui Yesus.

Dalam Yoh 10 Yesus menempatkan diri—Nya sebagai Gembala, dan mereka yang percaya kepada—Nya sebagai domba. Mengapa domba? Karena domba memiliki beberapa karakteristik:

  1. domba memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada gembala karena ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri – perlindungan, makanan, minuman, kandang dan pengobatan,
  2. domba juga biasanya kurang cerdas, mudah tersesat dan kesulitan untuk kembali ke kandang, walaupun sebenarnya berada di dekat mereka.

Kepada orang-orang yang bergantung kepada—Nya Yesus menjanjikan kehidupan yang sejati. Hidup yang dijanjikan oleh Yesus sang Gembala Agung adalah hidup yang:

1. Dalam keselamatan

Kita berada di dalam keselamatan karenaYesus bersedia mati untuk keselamatan kita . Hanya dengan memandang kepada salib, dimana Allah sendiri pernah tergantung, disitulah manusia menemukan keselamatan. Karena hanya Allah sendiri yang bisa memenuhi tuntutan hukum, maka Ia sendiri yang datang
dan menjadi manusia untuk menggantikan manusia, dan pada saat yang sama membebaskan kita semua dari hukuman itu.

2. Dalam keamanan

Kita berada dalam keamanan karena ada perlindungan penuh dari sang Gembala Agung. Ada penjaga yang ikut menjagai kehidupan kita. Ada pintu di mana kita bisa mengalami kebebasan untuk masuk dan keluar ke padang rumput. Ia menghalau pencuri, perampok dan para serigala.

3. Dalam bimbingan dan tuntunan

Yesus juga mengenal domba-domba—Nya, bahkan memanggil dengan nama masing-masing. Dan
kebalikannya, para domba pun bisa mengenali suara Sang Gembala. Yesus menuntun kita dan juga memimpin kehidupan kita dengan cara berjalan di depan.

4. Dalam kesejahteraan

Kesejahteraan dan kelimpahan domba ada dalam pikiran Gembala. Padang rumput adalah tempat yang
dijanjikan oleh Yesus kepada kita. Karenanya hidup yang dijanjikan Yesus bukanlah sekedar hidup, namun hidup yang berkelimpahan.

Keempat hal ini, keselamatan, keamanan, bimbingan dan kesejahteraan adalah satu paket yang dimaksudkan dengan hidup yang dijanjikan Tuhan. Ketika kita menerima hidup, yang adalah karunia dari Allah buat kita,
maka secara otomatis kita menerima hidup itu dalam segala aspek-aspek yang dijanjikan Allah.

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #1

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh 10:10)

Kelimpahan adalah sesuatu yang dipersiapkan oleh Allah untukmanusia. Ketika Ia menciptakan manusia, Allah telah mempersiapkan dunia yang penuh dengan hal-hal yang baik . Ia menyediakan segala kebutuhan manusia, bahkan sebelum menciptakan manusia. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjadi representasi, gambaran kemuliaan—Nya melalui:

  1. mandat yang diberikan kepada manusia,
  2. kesejahteraan manusia, agar manusia dapat menikmati kehidupannya dan fungsinya menjadi alat kemuliaan Allah.

Bagi Allah kelimpahan dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisahkan – manusia diciptakan untuk memiliki hidup, dan hidup dalam kelimpahan.

Yesus dalam pelayanan—Nya pun memperlihatkan sifat yang sama dengan Allah. Ketika Ia memberi, Ia memberi dalam kelimpahan. Anggur yang diciptakan Yesus di Kana, roti dan ikan yang diberikan kepada 5000 orang laki-laki, ikan yang diberikan kepada murid-muridnya yang sedang mencari ikan, kesembuhan yang diberikannya pada mereka yang menderita, memperlihatkan bagaimana hati Yesus untuk kesejahteraan manusia.
Renungan ini akan membahas tentang hidup yang berkelimpahan, dan dibagi dalam pokok-pokok berikut:
A Yesus datang untuk membawa hidup
B Bagaimanakah hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Yesus
C Selain Gembala, ternyata ada pribadi lain yang ikut campur dalam kehidupan kita.
D Apa yang Allah inginkan?

Pendalaman tentang hidup berkelimpahan

Doa Rick Warren pada Inaugurasi Barack Obama

Hope2228331745_8a8b55f1be_oAllah Maha Besar, Bapa kami:

Semua yang kami lihat, dan semua yang tidak dapat kami lihat, ada karena Engkau saja. Semuanya datang dari-Mu, semuanya milik-Mu, semuanya itu ada untuk kemuliaan-Mu. Sejarah adalah kisah-Mu [History is your story]

Alkitab mengatakan, “Dengarlah, hai Israel, Allah Tuhan, Allah yang esa”. Dan Engkau adalah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan engkau mengasihi semua orang yang telah Engkau ciptakan. Hari ini, kami bersukacita bukan saja karena ini adalah perpindahan kuasa yang ke44 kali di Amerika secara damai, kami merayakan satu titik penting dalam sejarah saat pengangkatan orang Afrika-Amerika sebagai president Amerika.

Kami sangat bersyukur hidup di negara ini, negara dengan kemungkinan yang tidak dapat disejajarkan, di mana anak seorang imigran Afrika dapat naik ke jenjang kepemimpinan yang tertinggi. Dan kami tahu sekarang bahwa Dr. King [Martin Luther King] dan saksi-saksi bagai awan yang besar sedang bersorak di surga.

Berikan kepada presiden kami yang baru, Barack Obama, hikmat untuk memimpin kami dengan kerendahan hati,  semangat untuk memimpin kami dengan integritas, belas kasihan untuk memimpin kami dalam kemurahan.
Berkati dan lindungi dia, keluarganya, Wakil Presiden Biden, Kabinet dan setiap dari pemimpin kami yang telah dipilih secara bebas.

Tolong kami, ya Allah, untuk mengingat bahwa kami adalah orang Amerika, yang disatukan bukan oleh ras atau agama atau darah, tapi pada komitmen kami akan kebebasan keadilan bagi semua.

Ketika kami berfokus pada diri kami sendiri, ketika kami berkelahi satu sama lain, ketika kami melupakan-Mu – ampuni kami
Ketika kami menganggap bahwa kebesaran dan kesejahteraan kami adalah milik kami saja – ampuni kami
Ketika kami gagal untuk memperlakukan sesama manusia dan bumi kami dengan rasa hormat yang mereka layak dapatkan – ampuni kami

Dan ketika kami menghadapi hari-hari yang sulit di depan, biar kami memiliki kelahiran baru akan kejelasan tujuan kami, tanggung jawab dalam tindakan kami, kerendahan hati dalam pendekatan kami, dan sopan santun dalam sikap kami – bahkan ketika kami berbeda. Biarkan kami membagi, melayani, mencari kebaikan untuk bersama
Biar semua orang dengan niat yang baik berkumpul bersama bagi bangsa yang lebih adil, lebih sehat dan lebih sejahtera dan planet yang damai. Dan biar kami tidak pernah melupakan satu hari itu, ketika semua bangsa dan semua orang – akan berdiri bertanggung jawab dihadapanmu.

Saat ini kami menyerahkan presiden kami yang baru dan istrinya, Michelle dan anak-anaknya, Malia dan Sasha, ke dalam penjagaanmu yang penuh kasih.

Dengan rendah hati kami meminta dalam nama orang yang mengubah hidup saya – Yeshua, Isa, Jesus, Yesus – yang mengajar kami berdoa:

Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga
Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti juga kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat
Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan, selama-lamanya
Amin

Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 6

Yesus memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-14)

Apa yang akan anda lakukan jika ada orang-orang yang bertamu ke tempat anda, padahal anda sedang ingin sendiri. Dan tamu-tamu itu harus diberi makan. Dan jumlahnya ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu? Itulah dilema yang dirasakan oleh murid-murid Yesus. Mereka sedang berkumpul di sebuah gunung, karena mereka ingin menyendiri, setelah melayani begitu banyak orang. Namun ternyata rencana itu tidak berjalan dengan mulus, karena orang-orang masih mengejar Yesus dan murid-muridnya. Dan setelah duduk seharian mendengarkan pengajaran Yesus, mereka kelaparan dan harus diberi makan.
Dalam perikop ini kita bisa melihat beberapa prinsip yang menekankan bahwa Yesus sungguh ingin agar kita memiliki hidup yang sejati. Prinsip-prinsip itu adalah:

  • Yesus tertarik pada seluruh aspek kehidupan kita. Orang-orang yang datang kepada Yesus memiliki kebutuhan-kebutuhan yang besar untuk mendapatkan pengajaran yang berwibawa serta kesembuhan, baik untuk sakit penyakit maupun untuk ikatan kuasa-kuasa jahat. Dan Yesus pun mau memenuhi kebutuhan orang banyak itu. Namun Yesus bisa melihat kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan fisik lewat makanan, dan Ia pun berusaha memenuhi kebutuhan ini. Saya percaya, jika ditanya tentang apa kebutuhan kita saat ini, dengan cepat bisa kita berikan daftarnya. Tapi Yesus bisa melihat lebih dalam dari itu, dan Ia tahu kebutuhan yang tidak kita sadari sedikit pun. Dan Ia mau memenuhi kebutuhan tersebut.
  • Yesus memenuhi kebutuhan kita dalam cara dan waktu-Nya. Dalam pasal sebelumnya kita sudah berbicara tentang Allah sendiri yang berinisiatif agar kita sembuh. Yesus mau memenuhi kebutuhan kita, namun bagaimana cara Dia melakukannya sebenarnya ada di luar kendali kita. Ketika Yesus bertanya kepada murid-muridnya bagaimana cara memberi makan kepada orang sebanyak itu, bisa kita bayangkan mereka akan berpandang-pandangan dengan mimik tidak percaya. Apalagi ketika Ia menyuruh orang-orang itu untuk duduk di rumput secara berkelompok, pasti murid-murid bertanya-tanya di dalam hati. Tapi sebenarnya Yesus telah memiliki rencana-Nya sendiri dan Ia tahu persis apa yang akan dilakukan-Nya.
  • Yesus bisa memakai apapun yang rela kita berikan pada-Nya. Seberapapun yang ada pada diri kita, bisa dipakai oleh Yesus, dan dipakai dengan luar biasa. Sering kita merasa tidak berarti dengan hal-hal yang kita punya, dan membayangkan apa yang akan kita lakukan dengan hal-hal yang tidak kita punya. Namun sebenarnya apapun yang kita miliki sekarang, kalau dipakai oleh Yesus, bisa menjadi sesuatu yang besar dan luar biasa. 5 roti dan 2 ikan tidak ada artinya untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, tapi setelah disentuh oleh Yesus, membuat semua orang kenyang, dan bahkan berlebih. Ketika Yesus menyentuh dan menggunakan sesuatu, yang tidak berarti pun akan menjadi sangat berarti!
  • Yesus mendorong kita untuk berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya. Dengan segala mukjizat-Nya, Yesus tetap bekerjasama dengan kita untuk mencapai tujuan Allah. Sebenarnya Ia tidak membutuhkan roti dan ikan untuk membuat orang kenyang. Ia pun tidak membutuhkan kedua belas murid untuk membagikan makanan dan kemudian mengumpulkan sisanya. Ia bisa lakukan semua itu tanpa bantuan orang lain. Namun Yesus justru menyuruh muridnya untuk berpikir dan bekerja. Ketika Yesus memakai kita, tujuan-Nya adalah agar kita ikut ambil bagian dalam masterplan Allah, melakukan pekerjaan yang memiliki nilai kekekalan, dan itulah makna dari hidup yang sejati. Yesus memberi makna dalam hidup manusia dengan mengikutsertakan kita dalam rencana-Nya.

Sebagai orang percaya, sudah seharusnya kita menikmati hidup yang sejati bersama Allah. Ia rindu untuk mengubahkan seluruh hidup kita menjadi hidup yang bermakna. Ia rindu untuk memakai apapun dan siapapun kita dalam rencana-Nya yang ajaib.

Hidup yang bermakna akan kita nikmati karena Allah tertarik pada seluruh kehidupan kita, Ia pulihkan kita dalam cara dan waktu-Nya, dan Ia pakai kita untuk bersama-sama mencapai tujuan-Nya yang kekal.

Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 5

Orang lumpuh disembuhkan ( Yoh 5:1-18 )

Banyak orang sakit di dunia ini. Hal ini benar pada zaman ini, dan benar juga 2000 tahun yang lalu. Dan setiap ada tempat yang menjanjikan kesembuhan, orang pasti berbondong-bondong datang ke sana, seperti yang terlihat di kolam Betesda (ay 3). Yohanes mencatat,  orang buta, orang timpang dan orang lumpuh berkumpul di kolam itu untuk menantikan kesembuhan ilahi, mungkin sama seperti orang sekarang mencari pengkotbah dan KKR kesembuhan.

Orang lumpuh di kolam Betesda ini sudah 38 tahun terbaring, dan menanti-nantikan kesembuhan. Bisa kita bayangkan bahwa bukan hanya secara fisik saja ia bermasalah, namun juga secara emosi, seperti kecenderungannya menyalahkan orang lain (ay 7), dan juga secara rohani (ay 14). Bagaimana Yesus bekerja untuk mengubah seseorang yang hanya terbaring saja menjadi pribadi yang memiliki hidup yang bermakna?

  • Perubahan berasal dari inisiatif Allah, dengan cara dan waktu Allah. Seberapa besar pun keinginan manusia untuk sembuh, sebenarnya Allah sendiri telah merindukan kesembuhan itu terjadi. Dan kesembuhan yang disiapkan Allah adalah kesembuhan yang total, secara fisik, emosi dan rohani. Bahkan Allah bersedia mengorbankan milik yang paling berharga agar manusia mengalami pemulihan total. Namun hal itu Ia lakukan dalam bentuk dan waktu yang Ia sendiri tentukan. Ketika Yesus datang ke kolam Betesda, ada banyak orang yang membutuhkan kesembuhan, namun yang mengalami mujizat hanya satu orang lumpuh. Allah rindu untuk membuat kita memiliki hidup yang sejati, tugas kita adalah mendapatkan kehidupan yang sejati itu dengan cara yang sudah Allah tentukan!
  • Allah sangat menghargai kehendak manusia. Walaupun kesembuhan berasal dari Allah, dan dilakukan dengan cara dan waktu-Nya, bukan berarti manusia hanya sebagai robot saja yang tidak memiliki pilihan. Justru Allah melihat apa yang menjadi kemauan kita, dan bertindak berdasarkan keputusan yang kita ambil. Allah tidak pernah memanipulasi manusia! Ia mungkin akan merubah situasi ataupun peristiwa, tapi pilihan tetap ada dalam tangan kita. Karena itulah Yesus bertanya (ay 6), “Maukah engkau sembuh”, kepada orang yang sudah bertahun-tahun bermasalah. Banyak orang sakit, namun tidak semua orang sakit tahu, bahwa ia sedang bermasalah. Banyak orang sakit tahu bahwa ia sedang sakit, namun belum tentu ia mau sembuh, atau membayar harga untuk sembuh.
  • Perubahan menuntut harga yang harus dibayar. Kesembuhan datang dari Allah, dan sangat tergantung akan kehendak kita. Tapi kita tetap harus membayar harga agar kesembuhan itu menjadi milik kita. Bagi orang lumpuh ini, bagian yang harus dilakukannya adalah “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” (ay 8). Bagi setiap orang, akan ada tuntutan yang unik, sesuai konteks kehidupan masing-masing, yang harus dilakukannya agar terjadi perubahan. Dan ketika kita lakukan bagian kita, maka kesembuhan itupun menjadi milik kita.

Dari seorang lumpuh, yang hanya bisa terbaring dan mengasihani diri sendiri, orang ini menjadi seorang saksi bagi Yesus (ay 15). Hidup yang sia-sia diubahkan menjadi hidup yang bermakna. Dan hal itu terjadi ketika orang tersebut memiliki kehendak untuk sembuh, dan melakukan bagiannya. Bagaimana dengan anda? Mungkin ada perubahan dalam hidup yang sedang anda rindukan terjadi. Mungkin ada masalah yang sedang anda gumuli yang menghabiskan waktu, tenaga, hati dan pikiran anda, dan anda bertanya-tanya “Kapankah ini semua berakhir?”, atau “Di mana Allah ketika aku menderita?”. Perubahan dan kesembuhan akan menjadi milik anda, jika dilakukan dengan cara dan waktu Allah!

Hidup yang bermakna akan kita miliki karena Allah sendiri rindu manusia memiliki hidup yang sejati. Bagian kita adalah memiliki kemauan untuk berubah, dan melakukan apa yang menjadi kewajiban kita.

Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 3

Yesus dan Nikodemus (Yoh 3:1-36)

Bayangkan jika anda adalah seorang pemain piano yang handal. Anda berasal dari sebuah keluarga yang sangat dihormati oleh kalangan musik, karena turun temurun ada pemain piano dan pemusik hebat yang lahir di keluarga anda. Anda pun telah mendapatkan pendidikan yang terbaik tentang musik dan piano, dan memiliki keterampilan dan teori yang tinggi. Anda sudah terbiasa melakukan resital dan konser musik, dan setiap penampilan anda mendapat pujian dari kritikus musik. Anda merasa berada di puncak karir anda.
Tiba-tiba anda mendengar tentang seorang pianis baru. Anda dengar bahwa ia tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, bahkan berasal dari keluarga yang bukan pemusik. Namun ia bisa bermain dengan luar biasa, dan mendapatkan penghormatan yang besar dari orang-orang, apakah orang awam, namun juga dari pengamat musik. Anda pun bersegara datang ke tempat orang itu untuk melihat bagaimana sebenarnya orang itu. Dan anda terkejut! Jelas orang itu hanya belajar secara otodidak, namun ketika ia bermain, semua orang terpesona, dan tidak sedikit yang menangis. Anda tahu secara intuisi bahwa anda sedang bertemu dengan seorang maestro yang jenius… Apa yang akan anda lakukan? Dalam situasi seperti itu, sementara orang akan berkomentar dengan sinis dan melecehkan si pianis baru, karena ia bukan siapa-siapa. Beberapa yang lain akan mengakui kejeniusannya, dan berharap bahwa merekapun bisa memiliki keterampilan seperti itu. Yang lain, mungkin akan datang dan mau belajar dari sang pianis tersebut.

Begitulah yang terjadi dengan Nikodemus, seorang pemimpin dan pengajar agama Yahudi. Ia sangat terpesona dengan pengajaran Yesus, dan dengan sembunyi-sembunyi ia datang untuk belajar pada Yesus, karena secara lembaga, orang Farisi menghina dan melecehkan Yesus. Dan Nikodemus siap untuk menyerap ilmu dari Yesus, yang ia sebut sebagai “Rabbi” dan “guru yang diutus Allah”. Namun jelas bahwa Nikodemus tidak siap dengan jawaban Yesus, yang berkata “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (ay 3). Bagi seorang Farisi, yang turun temurun adalah orang Yahudi, dan memiliki banyak pengetahuan tentang Allah, dan merasa sebagai seseorang yang kudus, sama saja Yesus berkata bahwa apapun yang Nikodemus miliki, tidak ada artinya di hadapan Allah.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Apakah kita memiliki hidup yang hebat, biasa-biasa saja, atau penuh penderitaan, semua itu tidak memiliki makna yang sejati, kecuali kita dirubah dari dalam, yang merupakan pekerjaan Roh Allah (ay. 5,6). Dan itu bukanlah hasil usaha kita, namun semata-mata karena Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita dan melakukan apapun yang perlu dilakukan, agar kita memiliki hidup yang sejati (ay 16). Yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Yesus, Anak Allah yang Hidup (ay 15, 18).

Hidup yang bermakna dimulai ketika kita diubahkan menjadi baru oleh Roh Kudus saat kita percaya kepada Yesus, Anak Allah

Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 2

Yesus di Kana (Yoh 2:1-11)

Apabila mengadakan pesta, kita pasti akan mempersiapkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun yang terbaik yang kita siapkan, belum tentu menghasilkan perhelatan terbaik seperti yang kita harapkan. Sering ada hal tak terduga yang bisa mengganggu, atau bahkan merusak dan mengacaukan sebuah acara besar. Hal seperti itulah yang terjadi pada pesta di Kana, ketika mereka kekurangan, bahkan kehabisan anggur di tengah-tengah acara.

Keadaan serupa sering terjadi bukan hanya dalam pesta, namun dalam keseluruhan hidup kita. Kita bisa merancang kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Ada orang bekerja keras untuk mencapai hal-hal tertentu yang mereka anggap sebagai tanda keberhasilan hidup, misalnya lewat prestasi, materi, pertemanan dll. Ada yang lain, yang atas nama “mencari kebahagiaan”, kemudian melakukan hal-hal yang sebenarnya merusak hidup mereka, seperti seks bebas, narkoba dan kesenangan-kesenangan lainnya. Yang pasti, orang mencari keberhasilan dan kebahagian dalam hidup ini, dengan cara yang mereka anggap baik. Namun hal itu belum tentu  membawa kebaikan dalam hidup mereka, bahkan sering membawa kesakitan dan penderitaan.
Read More…

Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 1

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yoh 1:14)

“Kita semua adalah orang2 yang sebetulnya tidak berharga dan tidak berguna sampai Tuhan Yesus memberi makna baru tentang kehidupan…” demikian komentar seorang pembaca di blog ini. Sangat menyentuh saya karena sangat gw banget. Saya melatih peserta School Of Healing untuk membuat peta hidup pemulihan, dan contoh yang saya gunakan adalah peta hidup saya sendiri. Merenungkan jalan kehidupan saya, dengan segala talenta dan karunia yang Tuhan berikan, ternyata memang semua itu worthless dan useless… sampai ada Pribadi yang mengubahkan hal itu.

Natal mengingatkan kita akan kelahiran yang tidak biasa dari seseorang yang amat tidak biasa. Mengapa? Karena seseorang ini adalah Allah sendiri, pencipta alam semesta (Yoh 1:1-10), yang menjadi manusia dan tinggal bersama-sama dengan manusia. Dan Ia datang karena Ia adalah pemilik Hidup (ay 4), sesuatu yang tidak dimiliki manusia sejak jatuh dalam dosa (Kej 3). Hidup ini adalah hidup yang sejati, hidup yang sesungguhnya, hidup yang sesuai dengan rancangan sang Pencipta sendiri. Tanpa kehadiran-Nya, hidup ini adalah kehidupan yang semu dan tidak bermakna.

Hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan murid-murid Yesus sendiri di pasal 1. Andreas, Petrus, Filipus dan Natanael, adalah orang yang memiliki kehidupan masing-masing. Ada yang menjadi murid Yohanes Pembaptis, ada nelayan, ada juga orang yang telah hidup sesuai dengan hukum Taurat. Semuanya diubahkan ketika bertemu dengan Yesus.

Dan itulah prinsip pertama mengalami hidup yang bermakna – melalui perjumpaan pribadi dengan Yesus. Ia adalah Allah yang beserta kita (Immanuel), bahkan sekarang pun Ia masih beserta orang-orang yang percaya pada-Nya. Melalui percaya, kita mendapatkan hidup yang sejati, dan juga kuasa, untuk melewati hidup yang sejati itu sebagai anak Allah (ay. 12).

Bagaimana dengan anda? Rindukah anda memiliki hidup yang sejati, hidup yang penuh dan bermakna? Mulai bertemu dengan Yesus. Datang kepada-Nya sebagai orang yang membutuhkan kehidupan yang lebih dari yang bisa dilihat mata. Dan alami petualangan bersama Yesus dalam kehidupan sehari-hari, yang semakin memperlihatkan seperti apakah hidup yang sejati itu. Saya berdoa agar anda, hari-hari ini, mengalami hidup yang sejati bersama Yesus.

Renungan: Yesus dan Emosi Negatif Manusia (Yoh 5:1-42)

Bacaan:  Yoh 5:1-42

Wanita Samaria ini adalah seorang pribadi yang sedang terluka. Ketika orang lain datang ke sumur pagi-pagi, ia hanya berani datang pada siang hari ketika ia tahu bahwa tempat itu akan sepi dari orang banyak. Mengapa? Karena masa lalunya yang gelap, dan wanita ini pun sudah mengalami banyak tekanan dari lingkungannya. Ia hidup dengan rasa malu dan  menderita karenanya.

Justru karena itu Yesus datang dan mendekat padanya. Yesus yang berinisiatif untuk memulihkan orang-orang yang sedang terluka, tertekan, mengalami rasa malu dan rasa takut. Wanita ini mengalami tekanan karena banyak hal: karena ia orang Samaria, yang direndahkan orang Yahudi; karena ia seorang wanita, yang tidak terlalu dipedulikan dalam lingkungannya; dan karena ia orang yang berdosa, karena ia sudah dan sedang berzinah. Jelas ia sedang dihakimi oleh orang di sekelilingnya.

Tapi Yesus memang mencari orang seperti itu. Orang-orang yang sedang menderita karena konsekuensi dosa mereka. Orang-orang yang sedang tertekan karena mengalami hal-hal yang tidak mereka inginkan, yang terjadi dalam hidup. Orang-orang yang sedang memiliki rasa malu, rasa tidak berharga, dan tidak layak. Dan mereka yang sedang hidup dalam ketakutan.

Dalam banyak hal, luka-luka dan emosi negatif yang kita miliki sering menghalangi kita untuk mengalami hidup yang berkemenangan dan berkelimpahan di dalam Yesus. Kita menjadi sulit untuk bertumbuh secara maksimal. Dan Yesus datang untuk membebaskan kita dari itu semua. Apakah kita memiliki kehendak yang besar untuk pulih? Datang pada Yesus, dan terima pemulihan dari-Nya.

Read More…

Doa: Kasih Karunia & Pengampunan

Saya rindu agar kasih karunia—Mu dicurahkan kepadaku saat ini, sehingga saya bisa merasakan kuasa dan kasih—Mu yang luar biasa. Saya bisa melihat diriku sendiri dengan mata—Mu, bisa merasakan hati—Mu dan dengan cara yang sama saya bisa melihat orang-orang di sekelilingku. Biarlah kasih—Mu membebaskanku untuk mengasihi diriku, dan mengasihi orang lain sama seperti kepada diriku sendiri (Luk 10:27).

Bapa, saya mengakui bahwa Firman—Mu sangat jelas dalam hal ini: yaitu bahwa saya harus mengampuni orang lain yang berdosa kepada saya, sama seperti Engkau yang telah mengampuni dosaku (Mat 6:14), dan saya sadar bahwa jika saya tidak mengampuni dosa orang lain, maka Engkau pun masih tetap memandang keberadaan dosa-dosaku (Mat 6:15).

Engkau juga berkata bahwa saat saya berdoa, bahkan ketika saya beribadah dan melayani—Mu, namun jika saya masih mengingat kesalahan orang lain, saya harus mengampuninya (Mrk 11:25, Mat 5:23-24), Namun saya mengakui bahwa acapkali saya gagal dalam menerapkan firman—Mu. Karenanya saat ini saya berdoa agar Engkau mengingatkan saya akan orang-orang yang harus saya ampuni. Dan dengan kasih anugerah—Mu memampukan saya untuk mengasihi dan mengampuni orang lain (Ef 4:32)

Terima kasih untuk kesempatan melihat hidup saya sebagaimana adanya. Dan saya berdoa agar Engkau sendiri yang hadir dalam hidup saya untuk membawa saya ke tempat yang Engkau siapkan buat saya. Dalam nama Yesus saya berdoa. Amin.

Dari Buku Kerja School Of Healing Level I, 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers