Renungan Pertumbuhan: Tuhan, sumber pertumbuhan, melakukan yang terbaik bagi kita

Pertumbuhan adalah sebuah ciri kehidupan. Kehidupan yang sehat adalah yang bertumbuh dengan sehat. Hal ini berlaku bagi pertumbuhan dan kesehatan fisik, namun juga berlaku bagi kondisi kejiwaan kita. Dan kita perlu bertanya bagaimanakah kondisi pertumbuhan jiwa kita? Siapa yang paling berperan dalam pertumbuhan itu? Renungan ini, yang diambil dari Yesaya 5:1-4 mencoba membahas siapa yang paling berperan dalam pertumbuhan kita.
Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. 2 Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam. 3 Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu. 4 Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? (Yesaya 5:1-4)
Komunitas Tumbuh: Bertumbuh secara bertujuan bersama-sama
Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan. (Amsal 21:5)

Pertanyaan ‘Apakah anda sedang bertumbuh?” mudah dijawab dengan ‘Ya’ atau ‘Tidak/Belum’, walaupun mungkin orang masih akan bertanya juga, ‘Bertumbuh seperti apa?”. Jikalau ditanya ‘Apakah anda, secara bertujuan, sedang bertumbuh bersama-sama’ mungkin akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi, seperti:
- Apa maksudnya secara bertujuan, apakah ada pertumbuhan yang tidak bertujuan?
- Seperti apakah bertumbuh yang bersama-sama?
- Siapakah yang dimaksud dengan bersama-sama itu?
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘Bertumbuh secara bertujuan bersama-sama’?
Renungan: Pertumbuhan
Bacaan: Ef 4:11-16; Mat 9:35-38
Yang menjadi kerinduan Allah adalah agar setiap orang percaya “bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:15). Artinya Allah rindu agar kita bertumbuh secara seimbang dalam segala hal, dan tujuannya adalah agar kita mengalami keserupaan dengan Kristus dalam manusia batiniah kita. Dan walaupun pertumbuhan ini adalah pekerjaan Allah di dalam hidup kita, namun kita sendiri memiliki kewajiban untuk mempersiapkan diri kita sehingga Allah bisa bekerja dengan maksimal dalam diri kita.
Apa yang menjadi tugas kita dalam pertumbuhan ini? Kita sendiri perlu memiliki kehendak yang jelas untuk bertumbuh. Pertumbuhan adalah sesuatu yang harus diniatkan dengan sengaja. Pertumbuhan bukanlah sesuatu yang akan terjadi begitu saja dalam hidup kita, karena begitu banyak hal yang bisa menghalangi pertumbuhan tersebut. Dan setelah memiliki kehendak yang jelas, kita juga perlu tahu dalam hal apa kita perlu bertumbuh. Apabila Allah ingin kita bertumbuh secara seimbang dalam keseluruhan hidup kita, sementara tujuan yang ingin dicapai adalah keserupaan dengan Kristus, kita bisa yakin bahwa ada banyak hal yang perlu kita lakukan sebelum hal tersebut terjadi.
Artinya walaupun ada hal-hal yang sedang atau sudah dipulihkan oleh Allah, namun ada juga hal-hal lainnya yang belum dibukakan, atau perlu kita gumulkan dengan berat. Pemulihan adalah proses sepanjang kehidupan, sepanjang kita rindu untuk bertumbuh, dan sepanjang kita menemukan penghalang-penghalang baru dalam hidup kita.
Dan bukan saja kerinduan Allah agar kita dipulihkan, namun Ia juga akan memperlengkapi kita sehingga semua orang percaya mengalami proses yang sama. Bukan hanya anda dan saya yang membutuhkan pelayanan pemulihan ini, namun juga banyak orang percaya di keluarga, di gereja, di lingkungan, bahkan banyak orang di luar sana yang membutuhkan pelayanan yang memperlihatkan kuasa dan kasih Allah, dan membereskan penghalang-penghalang pertumbuhan dalam hidup kita. Apakah anda sudah merasakan pemulihan dari Allah? Rindukah anda untuk terus mengalami pemulihan dari-Nya? Rindukah anda juga untuk melayani orang lain sehingga mereka juga mengalami pembebasan dan pemulihan?
Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan
Apakah pelayanan pemulihan itu? Seperti apakah sebuah proses pelayanan pemulihan? Apa yang membedakannya dengan konseling dan pelayanan lainnya? Pertanyaan itu akan dijawab oleh Pdt. Thomas J. Sappington, Th. D., pendiri Duta Pembaharuan, dalam artikel berikut ini.
Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan
Pemulihan adalah pekerjaan Roh Kudus di mana Allah bergerak untuk
menyembuhkan luka-luka kita yang terdalam, meneguhkan kebenaran-Nya
dalam hati kita, dan membebaskan kita dari akibat dosa-dosa kita dan
dosa-dosa orang lain secara batiniah…
- Kesejahteraan 03.1: Aspek-aspek pelayanan pemulihan
- Kesejahteraan 03.2: Keunikan pelayanan pemulihan
- Kesejahteraan 03.3: Syarat terjadinya pemulihan
- Kesejahteraan 03.4: Proses pelayanan pemulihan
Seorang gadis muda sejak lahir sudah ditolak oleh ayahnya. Ketika ia sakit parah dan hampir meninggal, ibunya ingin membawa dia ke dokter, tetapi ayahnya ingin membiarkan dia mati. Namun karena kasih karunia Allah, ia tidak jadi mati, tetapi hubungannya dengan ayahnya sangat jauh sejak saat ia masih amat muda. Ia selalu menanggung pukulan terberat dari kemarahan ayahnya. Jika ia melakukan satu kesalahan saja, ayahnya memukul dia dan mencaci maki dia. Ia selalu disalahkan untuk semua problem adik-adiknya. Akibatnya, ia mulai membenci orang tuanya dan menumpuk kepahitan dalam hatinya terhadap mereka. Ia juga membenci Allah dan akan berkata secara terus-terang bahwa Allah tidak ada.
Renungan: Natal – kelahiran yang membawa harapan (Yes 9:6)
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Harapan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bagi banyak orang, natal membuat hati berdebar-debar, menantikan sesuatu yang baik. Hadiah? Berkumpul bersama? Retreat/Rame-rame/Perayaan, libur panjang? Penantian akan sesuatu yang baik dengan hati yang berdebar ini adalah sebuah harapan, dan harapan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia.
Namun sebenarnya harapan mudah menjadi hilang, apalagi ketika kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna ini. Ketika Yesaya menuliskan ayat-ayat ini, bangsa Yehuda sedang dihukum Tuhan, karena mereka tidak taat. Mereka sedang hidup dalam kondisi yang suram: terhimpit, rendah dan berada dalam kegelapan; hidup dalam tekanan dan kekerasan; hidup dalam penjajahan dan penumpahan darah. Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga sedang dalam keadaan terhimpit, terjepit, suram, gelap?
Ada Kabar baik bagi anda: Tuhan berjanji untuk memberi kelegaan dan sukacita. Caranya adalah Ia akan memberikan seorang anak yang lahir bagi kita: Anak ini akan menjadi pembebas dan menjadi Tuhan yang memimpin kita – Pemerintah di dunia ini berkuasa dengan tangan besi dan kaki besi; Pemerintahan Tuhan kita ada di bahu—Nya, yang melayani dan memberikan yang terbaik bagi kita.
Orang percaya seharusnya memiliki pengharapan yang besar. Mengapa? Karena kita memiliki Tuhan sang Pembebas, yang melakukan hal-hal ini bagi kita:
- membimbing
- bekerja dengan penuh kuasa
- mengendalikan waktu dan kehidupan
- membawa dan memberikan kedamaian
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #4 Bagaimana seharusnya belajar
Bagaimana seharusnya kita belajar? Saya ajak anda untuk meredefinisi
kata belajar ini, yaitu suatu proses perubahan yang relatif permanen
dalam kehidupan kita. Untuk itu ada tiga komponen penting yang harus
terjadi, sebelum kita bisa mengatakan bahwa kita sudah belajar. Komponen itu adalah adanya:
- transformasi
- proses
- tanggapan yang benar
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #3 Definisi dan Kerancuan belajar
Mula-mula mari kita definisikan belajar. Belajar didefinisikan sebagai
proses mendapatkan pengetahuan (baru) atau mengembangkan kemampuan
untuk mempraktekkan tingkah laku yang baru . Secara psikologis
diartikan sebagai perubahan pengetahuan, yaitu suatu perubahan yang
relatif permanen, baik di dalam atau melalui penerimaan pengetahuan,
pemahaman dan tingkah laku . Sampai di sini tidak ada masalah. Yang
menjadi masalah adalah ketika konsep perubahan pengetahuan ini kemudian
mengalami kerancuan dan pembelokan paradigma.
Kerancuan sistem belajar kita, baik di sekolah dan di universitas,
bahkan juga di tempat kerja adalah ketika menyamakan beberapa hal yang
secara esensial berbeda. Kerancuan itu adalah:
- mengidentikkan pembelajaran dengan sistem belajar formal
- menyamakan belajar dengan sistem sosial
- menyamaratakan belajar dengan konsep-konsep yang sebenarnya berbeda
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #2
Bagaimana dengan hubungan antara sistem pendidikan dengan ketahanan
suatu bangsa? Selama beberapa dekade kita terpesona oleh “candu” yang
berbentuk angka-angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis, yang
mengiming-imingi bahwa kita akan segera menjadi New Asian Tiger, Macan
Asia. Cetak biru perekonomian bangsa kita serahkan kepada kepada
sekelompok think—tank, kelompok berpikir yang disindir dengan nama
“mafia Berkeley”, pakar-pakar ekonomi lulusan sekolah luar negeri yang
memiliki pemikiran makro ekonomi yang pro sistem kapitalis namun
diberangus dalam sistem sosialis orde baru. “Kapitalis malu-malu”,
begitu kata orang menyindir sistem perekonomian orde baru.
Kita baru dipaksa sadar ketika terjadi masalah, bencana yang dimulai di
bidang ekonomi pada tahun 1997, namun segera menjalar ke bidang-bidang
lainnya, yang kemudian kita sebut sebagai krisis multidimensi. Secara
fundamental ekonomi kita hancur, yang terlihat dengan nilai tukar
rupiah yang melemah hebat, ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk
membayar hutang yang nilai tukarnya melonjak hebat, gulung tikarnya
sekian banyak sektor usaha anak negeri – namun itu pun baru
permulaannya saja.
Ternyata krisis yang terjadi adalah krisis moral,
ketika pejabat dan rakyat jelata tidak memiliki acuan moral yang teguh,
yang begitu mudah diiming-imingi, apakah untuk melakukan korupsi atau
untuk melakukan penjarahan; krisis politik, ketika mereka yang adalah
elite politik Indonesia, dengan mengatasnamakan kerakyatan dan
kebangsaan, saling bertikai, saling menuding, saling menyalahkan, dan
saling ambil kesempatan dalam kesempitan; krisis kebangsaan, ketika
sesama anak bangsa saling makan, terlibat kerusuhan, terlibat
separatis; krisis martabat, ketika dengan mudah kita menjual bangsa
kita untuk mendapatkan keuntungan; krisis kemanusiaan, ketika dengan
mudah kita mengambil nyawa orang lain untuk kepentingan kita dan segala
macam krisis-krisis lain yang masih menghantui bangsa kita. Apakah
kita bisa melihat ke belakang dan menuding sistem pendidikan nasional
sebagai salah satu biang keladi keruntuhan bangsa ini?
Read More…
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #1
Pada tahun 1983, Departemen Pendidikan Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang berjudul A Nation at Risk. Laporan tersebut menghubungkan kesulitan ekonomi yang diderita negara tersebut pada tahun 1970 dan 1980an dengan kekurangan/kelemahan yang terjadi pada sistem pendidikan Amerika Serikat. Pesan yang disampaikan laporan tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan yang ada saat itu merupakan penghalang terciptanya perekonomian yang kuat, yang merupakan suatu hal yang terus dikejar oleh pemerintah. Hasilnya di satu sisi terjadi ketidakpercayaan pada sistem pendidikan nasional, namun di sisi lain ada dorongan kuat untuk melakukan reformasi dalam sistem pendidikan tersebut.
Point yang ingin saya tekankan adalah bagaimana laporan tersebut menghubungkan sistem pendidikan suatu negara dengan kualitas negara tersebut secara makro. Secara intuitif kita bisa menerima pernyataan di atas, karena kita bisa menghubungkan output dari sistem pendidikan tersebut dengan potensi sumber daya manusia suatu negara. Apabila kualitas sumber daya yang dihasilkan suatu sistem pendidikan bernilai buruk, maka dapat kita ramalkan, cepat atau lambat, negara tersebut mengalami stagnasi, kemunduran, atau bahkan kehancuran. Tidak mengherankan apabila laporan A Nation at Risk di atas memicu terjadinya reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikan nasional di Amerika Serikat.
Bagaimana dengan Indonesia? Bahwa sistem pendidikan di Indonesia telah menjadi sorotan dan bahan kritikan tajam bukanlah berita baru lagi. Dan bicara tentang reformasi sistem pendidikan, orang bahkan bisa berkata bahwa setiap kali terjadi pergantian menteri pendidikan, maka akan terjadi reformasi atau bahkan revolusi dalam sistem pendidikan Indonesia, mulai dari sistem belajar mengajar, metode yang dipakai dan yang terpenting, kurikulum dan buku panduan pun dapat dipastikan mengalami perubahan. Bangsa ini tidak memiliki blueprint sistem pendidikan nasional yang baku, namun masih mencari-cari model yang dianggap sesuai.
Artikel ini adalah pergumulan pribadi tentang tantangan pendidikan yang terjadi di Indonesia, dan dampaknya bagi kelanjutan bangsa ini.
Kepemimpinan 01. Proses Pencarian Visi
Visi adalah gambaran tentang masa depan yang kita harapkan terjadi. Visi adalah suatu komponen yang sangat penting dalam memaksimalkan kehidupan seseorang. Visi berhubungan dengan kehendak, tujuan, harapan dan semangat, yang semuanya itu akan membuat perbedaan antara kehidupan yang maksimal dan kehidupan yang seadanya. Karena itu penting bagi setiap orang percaya, apalagi bagi para pemimpin untuk memiliki visi yang diyakini sebagai curahan hati Allah yang dinyatakan bagi kita. Adalah bagian kita untuk meresponi hati Allah itu dengan cara yang kudus dan membawa sukacita, bagi Allah dan kita sendiri.
Kepemimpinan 01. Proses Pencarian Visi
01.1 Pemahaman Umum tentang visi
01.2 Visi pribadi & visi lembaga
01.3 Langkah-langkah pencarian dan penyelarasan visi
01.4 Pernyataan visi dan misi
Kesejahteraan 02.2 Penyebab keluarga menjadi disfungsi
Minggu lalu kita sudah berbicara tentang keluarga disfungsi, dan tanda-tanda sebuah keluarga yang sedang disfungsi. Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya, sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat, dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan bagi keluarga. Minggu ini kita akan belajar beberapa hal yang menyebabkan sebuah keluarga mengalami disfungsi.
Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga adalah:
- Ketidakdewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil
- Kontrol, yaitu kecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi
- Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental
- Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup
- Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.
- Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual
Kesejahteraan 02.1 Tanda-tanda keluarga yang Disfungsi
A Pemahaman tentang keluarga yang disfungsi
Keluarga yang disfungsi adalah sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan keluarga. Keluarga yang disfungsi akan memiliki kecenderungan umum seperti ini:
Pertama, memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Disfungsi seara pribadi ini kemudian menular karena anggota keluarga yang lain harus melakukan metode atau peran tertentu untuk menggantikan peran yang gagal tadi. Disfungsi pribadi tersebut bisa berupa masalah dalam kecanduan, kedewasaan pribadi ataupun sakit-penyakit.
Kedua, biasanya keluarga ini akan bergantung pada suatu metode dan strategi yang tidak sehat. Metode dan strategi ini sebenarnya tidak efektif, tidak benar, atau bahkan cenderung merusak, yang dibutuhkan pada satu masa. Namun kemudian metode ini diteruskan dan menjadi pola, bahkan diulangi terus sehingga menjadi suatu system yang tidak sehat. Dan setelah beberapa lama, fungsi dari system tersebut dianggap sebagai hal yang benar, dan menjadi lebih penting daripada kualitasnya.
Ketiga, Kemudian hubungan antara anggota keluarga pun cenderung tegang, dan ada kesulitan untuk mengembangkan komunikasi dan hubungan yang intim antar anggota keluarga.
Keempat, dalam banyak kasus, keluarga yang disfungsi akan memainkan peran untuk memperlihatkan citra sebagai keluarga yang sehat. Dalam hal ini, sering ada banyak rahasia ataupun kelemahan-kelemahan yang harus ditutupi ataupun dicari kompensasinya dalam bentuk yang lain.
Karena masing-masing angota belum pernah mengalami kehidupan keluarga yang normal, seringkali anggota-anggota keluarga yang disfungsi menganggap keluarga mereka normal atau ”biasa”, dan tidak tahu atau tidak memiliki pengalaman bagaimana berada dalam keluarga yang cenderung sehat.
Contoh kasus:
Misalkan ada seorang kepala keluarga, yang karena satu hal mengalami PHK, dan untuk sementara kemudian perekonomian keluarga ditanggung oleh ibu. Namun karena ada ketidakdewasaan dalam diri ayah, kemudian kondisi ini berlanjut terus. Ayah mungkin sudah mencari kerja namun tidak puas atau kemudian dikeluarkan. Tanggungjawab ibu kemudian semakin berkembang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian ibu menjadi sangat dominan dalam banyak aspek keluarga yang lain.
Dalam keluarga yang disfungsi ini, satu atau beberapa aspek dalam keluarga akan menjadi terganggu, yaitu aspek:
- keintiman: bagaimana menyatakan kasih
- komunikasi: bagaimana cara berinteraksi
- peran: bagaimana anggota keluarga berfungsi
- aturan: apa yang boleh dan tidak boleh dalam keluarga
- prioritas: apa yang menjadi hal yang berharga
- pemecahan masalah: bagaimana mengelola konflik dan mengambil keputusan


Komentar