Tag Archive | Pemulihan

Mendengarkan: Ketika luka dan emosi menjadi penghalang proses komunikasi yang efektif

“Mengapa reaksimu terlalu berlebihan?” “Bagaimana perasaan yang terluka membuat kita menjadi defensif”   Kritikan adalah ungkapan yang paling memicu reaksi emosional dalam diri kita. Reaksi emosional termasuk kemarahan dan rasa takut pada apa pun yang dikatakan. Kadang-kadang kita mentolerir seseorang yang biasanya tidak berbicara kasar dan berpikir bahwa mereka mungkin sedang dalam mood yang buruk. Namun seseorang yang [...]

Kesejahteraan 06.1 Dasar-dasar Komunikasi dalam Keluarga

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dilakukan antar pribadi. Karena manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berhubungan, maka komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam interaksi antar manusia. Bisa kita bayangkan bahwa pola komunikasi akan mempengaruhi pola hubungan antar pribadi, yang juga akan mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Pola komunikasi antar pribadi yang baik akan meningkatkan rasa nyaman seseorang, dan sebaliknya.

Keluarga sangat membutuhkan pola komunikasi yang baik. Tanpa pola komunikasi yang baik, sulit bagi keluarga untuk mengembangkan hubungan yang membawa kepuasan kepada anggotanya. Namun hal tersebut memang harus diusahakan, karena Firman Tuhan sendiri telah memperlihatkan bahwa sejak manusia diciptakan juga telah terjadi kesenjangan dalam berkomunikasi.

Kegagalan manusia berkomunikasi

Sejak kapan manusia gagal berkomunikasi? Jika kita merujuk kepada Kejadian 3, ketika manusia jatuh dalam dosa, telah terjadi hal-hal yang mengganggu jalannya komunikasi. Yang terutama muncul adalah emosi negatif: rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah.

Rasa takut menyebabkan manusia sering bersembunyi dan menolak untuk berkomunikasi dengan benar

Rasa malu menyebabkan manusia juga harus memakai pelindung dan topeng untuk bisa berkomunikasi

Rasa bersalah sering menyebabkan manusia menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan berkomunikasi

Fungsi komunikasi dalam keluarga.

  1. Memberikan pengertian yang lebih dalam tentang siapa kita sebagai pribadi kepada anggota keluarga lainnya
  2. Meningkatkan kasih, kepercayaan dan rasa hormat dalam keluarga
  3. Sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan membereskan hal-hal yang menghalangi pencapaian tujuan

Bentuk Komunikasi

Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia ataukelompok. Jenis komunikasi terdiri dari:

  1. Komunikasi verbal dengan kata-kata, yang mencakup kata-kata yang dipilih, cara mengucapkannya
  2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh, yang mencakup: ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, postur tubuh dan bentuk sikap tubuh lainnya.

Dalam prakteknya kita tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang kita ucapkan, namun sering bahasa tubuh kita akan memberikan isyarat yang mungkin akan diterima dengan cara yang berbeda oleh lawan bicara kita. Karenanya penting dalam keluarga untuk juga belajar melihat dan memperlihatkan bahasa tubuh yang memberi dukungan kepada kata-kata yang kita ucapkan.

8 Hukum komunikasi – dari Ayub 31 & 32 – diambil dari renungan ini

Jangan cepat mengeluarkan perkataan (6-7).

Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: “Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu. Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.

Pastikan selalu dalam pimpinan Roh Allah (8-9).

Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orangyang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.

Pastikan lawan bicara dalam kondisi siap mendengarkan (33:1-2).

“Akan tetapi sekarang, hai Ayub, dengarkanlah bicaraku, dan bukalah telingamu kepada segala perkataanku. Ketahuilah, mulutku telah kubuka, lidahku di bawah langit-langitku berbicara.

Bicara dengan hati yang tulus (33:3-4).

Perkataanku keluar dari hati yang jujur, dan bibirku menyatakan dengan terang apa yang diketahui. Roh Allah telah membuat aku, dan nafas yang Mahakuasa membuat aku hidup.

Tidak merendahkan (33:6), tidak menyanjung-nyanjung (32:21).

Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, akupun dibentuk dari tanah liat.

Aku tidak memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun. (32:21)

Berani menegur (33:12).

Sesungguhnya, dalam hal itu engkau tidak benar, demikian sanggahanku kepadamu, karena Allah itu lebih dari pada manusia.

Bicara dengan tujuan dan isi yang telah dibentuk oleh firman (33:14-16).

Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran.

Memberi kesempatan kepada lawan bicara. (33:31-32).

Perhatikanlah, hai Ayub, dengarkanlah aku, diamlah aku yang berbicara. Jikalau ada yang hendak kaukatakan, jawablah aku; berkatalah, karena aku rela membenarkan engkau. Jikalau tidak, hendaklah engkau mendengarkan aku; diamlah, aku hendak mengajarkan hikmat kepadamu.”

Kesejahteraan 03.3: Syarat terjadinya pemulihan

Apakah saya adalah calon yang baik untuk pelayanan pemulihan?

Prinsip dasarnya di sini adalah bahwa Allah selalu siap untuk bekerja di dalam kita untuk memberikan pemulihan, tetapi tidak setiap orang siap untuk menerima pemulihan-Nya. Bagaimana Anda bisa mengetahui apakah Anda sudah siap untuk proses pemulihan? Ada beberapa karakteristik yang telah kami temukan dalam kehidupan orang-orang yang merupakan calon yang baik untuk pelayanan pemulihan. Karakteristik itu adalah:

  • Kemiskinan rohani
  • Keterbukaan dan kejujuran di hadapan Allah
  • Keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan dengan orang-orang lain
  • kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan berdosa
  • Kemauan untuk menerima kebenaran Allah

Read More…

Kesejahteraan 03.4: Proses pelayanan pemulihan

Orang sering bertanya-tanya, jika mereka akan dilayani dalam sebuah pelayanan pemulihan, proses seperti apa yang akan terjadi? Bagaimana seharusnya mereka bersikap? Dalam artikel ini kita akan membahas dua hal, yaitu seperti apakah proses pelayanan pemulihan, serta perlunya perlawanan terhadap roh-roh jahat dalam pelayanan pemulihan.
Read More…

Kesejahteraan 03.2: Keunikan pelayanan pemulihan

Bagaimana pelayanan pemulihan berbeda dari konseling Kristen tradisional?

Ada persamaan antara pelayanan pemulihan dengan konseling Kristen tradisional, tetapi juga ada beberapa perbedaan signifikan di antara kedua pendekatan itu. Perbedaan itu terutama adalah dalam tujuan proses pelayanan, dan juga sumber-sumber kesembuhan dalam proses pelayanan.
Read More…

Kesejahteraan 03.1: Aspek-aspek pelayanan pemulihan

Bagaimana sesungguhnya cara Yesus mendatangkan pemulihan kepada manusia
batiniah kita? Saya harus mengakui bahwa setiap orang itu unik, dan
karena Tuhan mengenal kebutuhan kita yang terdalam dengan sempurna, Ia
memperlakukan kita masing-masing secara individual. Meskipun demikian
ada empat aspek luas dari pekerjaan-Nya yang sering kali muncul selama
pelayanan kesembuhan batin. Keempat aspek itu adalah:

  • Memulihkan luka-luka manusia yang terdalam
  • Meneguhkan kebenaran-Nya dalam hati kita
  • Membebaskan kita dari dampak dosa secara internal
  • Menuntun kita bertobat dari pola hidup dan hubungan kita dengan orang lain yang tidak sehat

Read More…

Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan

Apakah pelayanan pemulihan itu? Seperti apakah sebuah proses pelayanan pemulihan? Apa yang membedakannya dengan konseling dan pelayanan lainnya? Pertanyaan itu akan dijawab oleh Pdt. Thomas J. Sappington, Th. D., pendiri Duta Pembaharuan, dalam artikel berikut ini.

Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan

Pemulihan adalah pekerjaan Roh Kudus di mana Allah bergerak untuk
menyembuhkan luka-luka kita yang terdalam, meneguhkan kebenaran-Nya
dalam hati kita, dan membebaskan kita dari akibat dosa-dosa kita dan
dosa-dosa orang lain secara batiniah…

Seorang gadis muda sejak lahir sudah ditolak oleh ayahnya. Ketika ia sakit parah dan hampir meninggal, ibunya ingin membawa dia ke dokter, tetapi ayahnya ingin membiarkan dia mati. Namun karena kasih karunia Allah, ia tidak jadi mati, tetapi hubungannya dengan ayahnya sangat jauh sejak saat ia masih amat muda. Ia selalu menanggung pukulan terberat dari kemarahan ayahnya. Jika ia melakukan satu kesalahan saja, ayahnya memukul dia dan mencaci maki dia. Ia selalu disalahkan untuk semua problem adik-adiknya. Akibatnya, ia mulai membenci orang tuanya dan menumpuk kepahitan dalam hatinya terhadap mereka. Ia juga membenci Allah dan akan berkata secara terus-terang bahwa Allah tidak ada.

Read More…

Renungan: Natal – kelahiran yang membawa harapan (Yes 9:6)

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Harapan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bagi banyak orang, natal membuat hati berdebar-debar, menantikan sesuatu yang baik. Hadiah? Berkumpul bersama? Retreat/Rame-rame/Perayaan, libur panjang? Penantian akan sesuatu yang baik dengan hati yang berdebar ini adalah sebuah harapan, dan harapan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia.

Namun sebenarnya harapan mudah menjadi hilang, apalagi ketika kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna ini. Ketika Yesaya menuliskan ayat-ayat ini, bangsa Yehuda sedang dihukum Tuhan, karena mereka tidak taat. Mereka sedang hidup dalam kondisi yang suram: terhimpit, rendah dan berada dalam kegelapan; hidup dalam tekanan dan kekerasan; hidup dalam penjajahan dan penumpahan darah. Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga sedang dalam keadaan terhimpit, terjepit, suram, gelap?

Ada Kabar baik bagi anda: Tuhan berjanji untuk memberi kelegaan dan sukacita. Caranya adalah Ia akan memberikan seorang anak yang lahir bagi kita: Anak ini akan menjadi pembebas dan menjadi Tuhan yang memimpin kita – Pemerintah di dunia ini berkuasa dengan tangan besi dan kaki besi; Pemerintahan Tuhan kita ada di bahu—Nya, yang melayani dan memberikan yang terbaik bagi kita.

Orang percaya seharusnya memiliki pengharapan yang besar. Mengapa? Karena kita memiliki Tuhan sang Pembebas, yang melakukan hal-hal ini bagi kita:

  • membimbing
  • bekerja dengan penuh kuasa
  • mengendalikan waktu dan kehidupan
  • membawa dan memberikan kedamaian

Read More…

Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #4 Bagaimana seharusnya belajar

Bagaimana seharusnya kita belajar? Saya ajak anda untuk meredefinisi
kata belajar ini, yaitu suatu proses perubahan yang relatif permanen
dalam kehidupan kita. Untuk itu ada tiga komponen penting yang harus
terjadi, sebelum kita bisa mengatakan bahwa kita sudah belajar. Komponen itu adalah adanya:

  • transformasi
  • proses
  • tanggapan yang benar

Read More…

Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #3 Definisi dan Kerancuan belajar

Mula-mula mari kita definisikan belajar. Belajar didefinisikan sebagai
proses mendapatkan pengetahuan (baru)  atau mengembangkan kemampuan
untuk mempraktekkan tingkah laku yang baru . Secara psikologis
diartikan sebagai perubahan pengetahuan, yaitu suatu perubahan yang
relatif permanen, baik di dalam atau melalui penerimaan pengetahuan,
pemahaman dan tingkah laku . Sampai di sini tidak ada masalah. Yang
menjadi masalah adalah ketika konsep perubahan pengetahuan ini kemudian
mengalami kerancuan dan pembelokan paradigma.

Kerancuan sistem belajar kita, baik di sekolah dan di universitas,
bahkan juga di tempat kerja adalah ketika menyamakan beberapa hal yang
secara esensial berbeda. Kerancuan itu adalah:

  • mengidentikkan pembelajaran dengan sistem belajar formal
  • menyamakan belajar dengan sistem sosial
  • menyamaratakan belajar dengan konsep-konsep yang sebenarnya berbeda

Read More…

Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #2

Bagaimana dengan hubungan antara sistem pendidikan dengan ketahanan
suatu bangsa? Selama beberapa dekade kita terpesona oleh “candu” yang
berbentuk angka-angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis, yang
mengiming-imingi bahwa kita akan segera menjadi New Asian Tiger, Macan
Asia. Cetak biru perekonomian bangsa kita serahkan kepada kepada
sekelompok think—tank, kelompok berpikir yang disindir dengan nama
“mafia Berkeley”, pakar-pakar  ekonomi lulusan sekolah luar negeri yang
memiliki pemikiran makro ekonomi yang pro sistem kapitalis namun
diberangus dalam sistem sosialis orde baru. “Kapitalis malu-malu”,
begitu kata orang menyindir sistem perekonomian orde baru.

Kita baru dipaksa sadar ketika terjadi masalah, bencana yang dimulai di
bidang ekonomi pada tahun 1997, namun segera menjalar ke bidang-bidang
lainnya, yang kemudian kita sebut sebagai krisis multidimensi. Secara
fundamental ekonomi kita hancur, yang terlihat dengan nilai tukar
rupiah yang melemah hebat, ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk
membayar hutang yang nilai tukarnya melonjak hebat, gulung tikarnya
sekian banyak sektor usaha anak negeri – namun itu pun baru
permulaannya saja.

Ternyata krisis yang terjadi adalah krisis moral,
ketika pejabat dan rakyat jelata tidak memiliki acuan moral yang teguh,
yang begitu mudah diiming-imingi, apakah untuk melakukan korupsi atau
untuk melakukan penjarahan; krisis politik, ketika mereka yang adalah
elite politik Indonesia, dengan mengatasnamakan kerakyatan dan
kebangsaan, saling bertikai, saling menuding, saling menyalahkan, dan
saling ambil kesempatan dalam kesempitan; krisis kebangsaan, ketika
sesama anak bangsa saling makan, terlibat kerusuhan, terlibat
separatis; krisis martabat, ketika dengan mudah kita menjual bangsa
kita untuk mendapatkan keuntungan; krisis kemanusiaan, ketika dengan
mudah kita mengambil nyawa orang lain untuk kepentingan kita dan segala
macam krisis-krisis lain yang masih menghantui bangsa kita.  Apakah
kita bisa melihat ke belakang dan menuding sistem pendidikan nasional
sebagai salah satu biang keladi keruntuhan bangsa ini?

Read More…

Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #1

Pada tahun 1983, Departemen Pendidikan Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang berjudul A Nation at Risk. Laporan tersebut menghubungkan kesulitan ekonomi yang diderita negara tersebut pada tahun 1970 dan 1980an dengan kekurangan/kelemahan yang terjadi pada sistem pendidikan Amerika Serikat. Pesan yang disampaikan laporan tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan yang ada saat itu merupakan  penghalang terciptanya perekonomian yang kuat, yang merupakan suatu hal yang terus dikejar oleh pemerintah. Hasilnya di satu sisi terjadi ketidakpercayaan pada sistem pendidikan nasional, namun di sisi lain ada dorongan kuat untuk melakukan reformasi dalam sistem pendidikan tersebut.

Point yang ingin saya tekankan adalah bagaimana laporan tersebut menghubungkan sistem pendidikan suatu negara dengan kualitas negara tersebut secara makro. Secara intuitif kita bisa menerima pernyataan di atas, karena kita bisa menghubungkan output dari sistem pendidikan tersebut dengan potensi sumber daya manusia suatu negara. Apabila kualitas sumber daya yang dihasilkan suatu sistem pendidikan bernilai buruk, maka dapat kita ramalkan, cepat atau lambat, negara tersebut mengalami stagnasi, kemunduran, atau bahkan kehancuran. Tidak mengherankan apabila laporan A Nation at Risk di atas memicu terjadinya reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikan nasional di Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Indonesia? Bahwa sistem pendidikan di Indonesia telah menjadi sorotan dan bahan kritikan tajam bukanlah berita baru lagi. Dan bicara tentang reformasi sistem pendidikan, orang bahkan bisa berkata bahwa setiap kali terjadi pergantian menteri pendidikan, maka akan terjadi reformasi atau bahkan revolusi dalam sistem pendidikan Indonesia, mulai dari sistem belajar mengajar, metode yang dipakai dan yang terpenting, kurikulum dan buku panduan pun dapat dipastikan mengalami perubahan. Bangsa ini tidak memiliki blueprint sistem pendidikan nasional yang baku, namun masih mencari-cari model yang dianggap sesuai.

Artikel ini adalah pergumulan pribadi tentang tantangan pendidikan yang terjadi di Indonesia, dan dampaknya bagi kelanjutan bangsa ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers