Lifeskill #2: Berserah di masa sulit
Berserah, dalam arti yang positif, berarti menyerahkan kendali, hak-hak maupun kepemilikan akan hal-hal tertentu yang kita anggap sebagai milik kita. Dalam hal ini kita menyerahkannya kepada Allah sebagai pemilik dan sumber kehidupan kita. Namun pada kenyataannya ada hal-hal tertentu yang menyulitkan kita untuk sungguh-sungguh berserah kepada Allah, bahkan di saat-saat yang sulit. Untuk itu kita perlu belajar untuk melatih diri kita agar semakin terampil untuk berserah kepada Allah.
Pemahaman tentang masa sulit
A Sumber-sumber penderitaan dan kesulitan
Mengapa kita mengalami krisis, penderitaan dan masa-masa sulit di dalam hidup kita? Dari pengalaman hidup pribadi dan orang-orang, kita bisa melihat ada beberapa sumber krisis:
- Akibat dari kesalahan dan dosa – baik dari diri sendiri maupun orang lain
- Harga yang harus dibayar untuk keputusan-keputusan yang kita ambil
- Bagian dari pengajaran Allah bagi kehidupan kita
- Serangan kuasa-kuasa jahat untuk menghancurkan kehidupan kita
- Perjalanan kehidupan, yang kadang-kadang memang tidak bisa dimengerti
Dan bisa saja terjadi bahwa masa sulit tersebut terjadi sebagai gabungan dari satu atau beberapa hal di atas, misalnya, karena kita berdosa, maka ada kuasa jahat yang mencoba mengambil keuntungan dan ikut memperburuk keadaan dan konsekuensi yang harus kita tanggung, dan pada saat yang sama, Allah mengijinkan hal itu terjadi untuk mengajar dan mendewasakan kita. Namun satu hal yang harus kita pegang adalah: apapun sumber dari krisis dan kesulitan, Allah tetap pegang kendali alam semesta dan kehidupan kita.
Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi Aku? (Isaiah 44:24)
Karenanya penting bagi kita untuk melihat masa sulit ini dari pandangan Allah.
12 hal yang biasa dilakukan oleh keluarga yang sehat
Apa saja yang akan dilakukan oleh sebuah keluarga yang sehat? Daftar berikut akan memberikan beberapa indikator untuk melihat sesehat apa keluarga yang kita miliki.
#1 Berkomunikasi (Ef 4:31-32)
#2 Menghargai dan Mendukung (1Tes 5:11)
#3 Saling Menghormati (Ibrani 12:9)
#4 Saling Mempercayai (Mazmur 20:7)
#5 Berbagi Waktu bersama (Ulangan 11:19; Heb. 10:24-25)
#6 Bertanggungjawab (Roma 14:11-12)
#7 Mengajarkan kebenaran (Amsal 22:6)
#8 Menikmati ritual dan tradisi keluarga (Imamat 23; Keluaran 12:26-27)
#9 Bertumbuh dalam iman (Efesus 6:4; Ulangan 6:4-9)
#10 Menghargai kemandirian (Matius 6:6)
#11 Melayani satu sama lain (Kisah 20:35)
#12 Mencari pertolongan dalam krisis (Yakobus 1:2-4)
Bagaimana menurut anda? Apakah ada hal lain yang perlu dimasukkan dalam daftar ini?

6 ciri keluarga yang kuat dan sehat
Bagaimanakah memiliki sebuah keluarga yang kuat dan sehat? Saya rasa banyak orang yang berusaha untuk memiliki keluarga yang seperti ini. Artikel ini, yang saya ambil dari pelayanan Family Shield Ministry memberikan 6 ciri keluarga yang sehat. Mereka meneliti 14000 keluarga dengan karakteristik yang berbeda-beda di 24 negara. Hasilnya adalah 6 ciri keluarga yang kuat dan sehat.
#1 Komitmen
Pernikahan sebenarnya adalah sebuah perjanjian (covenant), dan satu-satunya landasan agar perjanjian untuk bisa bertahan adalah ketika anggota keluarga memiliki komitmen untuk bersama-sama dalam pernikahan.
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:5-6)
Keluarga yang sehat menghargai kesatuan keluarga.
#2 Perhargaan dan Kasih
Pada dasarnya semua manusia membutuhkan penerimaan, penghargaan dan kasih yang tidak bersyarat. Anggota keluarga yang sehat akan merasa disatukan oleh ikatan kasih yang kuat di antara mereka, dan kasih tersebut ditunjukkan dengan cara-cara yang sehat.
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Ef 4:32)
Keluarga yang sehat saling menunjukkan kasih dengan cara-cara yang membuat anggota menikmati kekeluargaan
#3 Komunikasi Positif
Komunikasi dilakukan oleh semua manusia dan kita menghabiskan waktu yang sangat banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Di dalam keluarga yang sehat, komunikasi akan dilakukan untuk membawa kesejahteraan bersama.
Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan. (Ams 16:23)
Keluarga yang sehat akan terampil dalam berkomunikasi secara sehat dan menggunakan waktu untuk berkomunikasi bersama-sama
#4 Waktu bersama
Kesatuan dibangun lewat kasih yang dinyatakan dalam komunikasi yang positif dan waktu bersama. Dengan menghabiskan waktu bersama-sama, baik dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu ataupun dalam kegiatan informal, anggota keluarga membangun kesehatan dan kekuatan keluarga.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.(Luk 2:51-52)
Keluarga yang sehat akan meluangkan waktu dan bertumbuh bersama-sama
#5 Kesejahteraan rohani
Yang akan menguatkan keluarga untuk melalui kehidupan ini dengan sehat adalah adanya kondisi kerohanian yang baik, yang akan memampukan anggota keluarga untuk melewati kehidupan dengan cara yang sungguh-sungguh membawa berkat.
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Jos 24:15)
Keluarga yang sehat akan mengutamakan Allah dan bertumbuh dalam kerohanian
#6 Kemampuan untuk menangani stress dan konflik
Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang lepas dari masalah. Yang menjadi masalah bukanlah masalah itu sendiri, namun bagaimana reaksi kita terhadap masalah tersebut. Dalam keluarga yang sehat, anggota keluarga akan memberi reaksi yang sehat dan kemudian bertumbuh melalui pergumulan dan krisis yang dialami.
sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. (Yak 1:4)
Keluarga yang sehat akan dapat melihat krisis sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
Ini adalah beberapa ciri dari sebuah keluarga yang sehat. Adakah yang bisa ditambahkan dalam daftar ini?

Kesejahteraan 04.4 Membangun keluarga yang tahan krisis
Dari pembahasan sebelumnya kita menyadari bahwa yang namanya krisis dapat melanda siapa saja. Setiap perubahan, baik di luar maupun di dalam diri kita, yang tidak bisa kita tangani dengan cara-cara kita yang biasa, akan menghasilkan situasi krisis. Karenanya penting bagi pribadi, keluarga dan kelompok untuk memiliki kehidupan yang tahan krisis.
Perlu ditegaskan bahwa keluarga yang tahan krisis bukanlah sebuah keluarga yang telah mempersiapkan diri untuk setiap krisis. Memang kita perlu mempersiapkan diri dan keluarga untuk bisa menghadapi masalah. Sah-sah saja misalnya kita memiliki asuransi kesehatan, atau telah mendepositokan dana pendidikan untuk masa depan. Tapi tidak mungkin kita bisa mencoba untuk mempersiapkan diri untuk semua krisis yang akan kita hadapi. Ada 3 alasan:
- Tidak mungkin kita dapat memperkirakan semua krisis yang akan terjadi dalam diri kita. Sifat krisis yang sering merupakan perubahan dari luar secara tiba-tiba, membuat orang sulit untuk memprediksi apa yang akan dia hadapi di masa datang.
- Keluarga terdiri dari orang dengan karakter dan kehendak yang berbeda-beda. Orang tua bisa mempersiapkan dengan baik agar anak siap menghadapi krisis, namun bagaimana mereka meresponi sebuah masalah akan tergantung dari anak itu sendiri.
- Sering terjadi, sesiap apapun kita menghadapi sebuah krisis, namun ketika hal itu terjadi tetap akan mengguncangkan perasaan kita. Dan hal tersebut bisa mengubah hal-hal yang sudah kita rencanakan sebelumnya.
Membangun keluarga yang tahan krisis dimulai dari membangun karakter orang-orang di dalam keluarga, serta mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik bersama-sama. Lewat karakter dan kebiasaan yang baik inilah, keterampilan menghadapi krisis dibangun.
Dasar Utama
Dasar utama dalam menghadapi krisis adalah memiliki kehidupan yang berpusat kepada Tuhan. Keluarga perlu memiliki pemahaman bahwa kita punya Tuhan yang mengendalikan hidup ini, dan bahwa Tuhan mengasihi dan memikirkan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita. Ketika ada hal buruk terjadi, bukan berarti bahwa Tuhan kehilangan kendali atau tidak mengasihi kita. Jika keluarga hidup dengan berpusat pada Tuhan, maka tiap anggota akan:
- Melihat hidup ini dari kacamata Tuhan.
- Memberi makna yang baru untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita
- Memiliki harapan dan pegangan ketika terjadi goncangan, baik lewat kebenaran Tuhan maupun pengalaman kita sebelumnya
Kita bisa membangun keluarga kita seperti orang yang membangun rumah: di atas pasir atau di atas batu yang kokoh. Dengan berpusat pada Tuhan, berarti kita sedang membangun keluarga di atas batu yang kokoh.
Keterampilan yang dibutuhkan keluarga agar menjadi tahan krisis
Berikut adalah beberapa keterampilan dan kebiasaan baik yang perlu dibangun dalam keluarga. Ini adalah hal-hal yang penting dimiliki keluarga yang sehat.
• Memiliki jalur komunikasi yang baik
Perlu dibiasakan agar tiap anggota keluarga bisa terbuka satu sama lain, dan bisa berkomunikasi dengan cara-cara yang baik satu sama lain. Riset mengatakan bahwa hal yang paling merusak keluarga adalah komunikasi yang tidak sehat.
• Memiliki kebersamaan
Perlu ada kebersamaan dalam nilai, tujuan dan interaksi satu sama lain. Ini dibangun dengan melakukan kegiatan bersama-sama: bersaat teduh, bermain bersama, belajar bersama.
• Memiliki komunitas pendukung
Artinya memiliki jaringan dan sumber daya yang lain di luar keluarga. Ketika mengalami krisis, maka dukungan dari orang-orang yang mengasihi kita akan memberikan kontribusi yang besar dalam menghadapi krisis.
• Fleksibel, dan bisa beradaptasi
Yang ditekankan disini adalah keterampilan untuk berubah dan menghadapi perubahan. Keluarga akan melewati tahap-tahap dan masalah tertentu yang menuntut perubahan. Ketika kita memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan itu, keluarga akan dapat menghadapi krisis dengan lebih baik.
• Bertumbuh dan belajar
Di sini adalah kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang baru, atau mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi.
• Memiliki keterampilan menghadapi stress/tekanan
Apa yang keluarga lakukan untuk melepaskan atau melewati masa-masa yang penuh tekanan
• Memiliki keterampilan memecahkan masalah
Kreativitas dan kemampuan untuk secara sehat dan realistis memecahkan masalah yang sedang mengganggu
• Memiliki sikap yang positif dalam menghadapi kegagalan
Banyak krisis yang ditimbulkan oleh kegagalan atau kesalahan dari anggota keluarga sendiri. Bagaimana kebiasaan keluarga menghadapi kegagalan atau kesalahan akan mempengaruhi saat keluarga dilanda krisis.
Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 7
Kehidupan yang sejati, hidup yang memiliki makna dan arti yang sejati, kita dapatkan ketika mengalami perjumpamaan dengan Yesus. Ia menyentuh hidup kita, dan mengubah yang tidak berharga dan sia-sia menjadi sesuatu yang bernilai kekekalan. Namun ketika hidup kita diubahkan, itu tidak berarti bahwa kehidupan menjadi mudah, atau akan mengalir dengan lancar. Dalam banyak hal, hidup yang bermakna adalah hidup yang mengalami tantangan dan perlawanan. Bagaimana kita mengetahui hal tersebut? Karena jika kita melihat apa yang terjadi pada Yesus pada Yoh 7 ini, Ia yang memiliki tujuan yang sangat mulia dan berarti, justru Yesus juga yang mendapat tantangan dan perlawanan dari orang-orang di sekelilingnya. Pada saat yang sama, keberadaan Yesus tidak bisa diabaikan begitu saja. Orang bertanya-tanya dan berusaha untuk menjelaskan siapa Yesus. Itu karena Ia hidup dengan tujuan yang begitu jelas, dan tujuan itu perlu mendapat reaksi yang jelas juga.
Tantangan dan perlawanan yang dihadapi:
- Orang berusaha untuk membunuh-Nya (ay.1, 19, 25)
- Saudara-saudara-Nya sendiri yang tidak mempercayai Yesus (ay. 5)
- Orang-orang yang berusaha menangkap Yesus (ay. 30, 44)
Reaksi orang:
- Kekaguman (ay. 15)
- Bingung, tidak mengerti (ay. 35)
- Percaya (31, 41)
Menarik bahwa satu alasan mengapa banyak orang, baik rakyat jelata maupun pemimpin yang tidak mempercayai Yesus adalah karena mereka tahu siapa Dia dan asal Yesus, dan mereka tidak bisa menerima bahwa orang dengan asal-usul seperti Yesus adalah Orang yang Diurapi, Sang Mesias.
Bagaimana dengan kita? Mungkin ada yang memiliki asal-usul yang tidak jelas, karena tidak diketahui siapa orang tuanya. Ada yang punya latar belakang yang gelap, bergelimang kejahatan pada masa yang lalu. Ada yang pernah melakukan kesalahan, dan hidup menanggung konsekuensi kesalahan itu. Tidak peduli apa latar belakang hidup kita, tanpa Yesus sebagai pemilik kehidupan itu, sebenarnya tidak memiliki arti yang bernilai kekekalan. Namun ketika Yesus menyentuh hidup kita, Ia akan mengubah tujuan hidup kita menjadi tujuan hidup Allah, dan yang bernilai mulia dan kekal. Ada tantangan, ada perlawanan, ada masalah dalam hidup kita. Tapi karena kita memiliki tujuan yang jelas, kita mau melewati hidup ini dalam kasih, kuasa dan kebenaran Allah yang akan kita hidupi sehari-hari.
Kesejahteraan 04.3 Langkah-langkah dalam menghadapi krisis

Ada beberapa langkah yang secara umum harus kita lewati agar bisa menangani krisis dalam keluarga secara maksimal. Langkah-langkah ini berlaku secara umum dan perlu diketahui baik oleh mereka yang sedang mengalami krisis, maupun orang yang ingin menolong keluarga yang sedang dilanda krisis. Langkah-langkah ini juga hanya bersifat panduan, dan tidak harus terjadi secara berurutan.
Langkah-langkah itu adalah:
- Pengakuan dan pengenalan akan krisis
- Mencari dukungan
- Memeriksa prioritas dalam tindakan
- Mencari alternatif solusi atau pilihan-pilihan
- Membuat perubahan secara fleksibel
- Berfokus dalam memecahkan masalah
Kesejahteraan 04.2 Sikap keluarga dalam menghadapi krisis
Dalam sesi yang lalu kita belajar pemahaman tentang krisis, apa itu krisis dan jenis-jenis krisis yang berbeda yang dihadapi oleh pribadi dan keluarga, yaitu: darurat (insidentil), perkembangan & pertumbuhan, berkelanjutan dan eksistensial.
Pada sesi ini kita akan belajar tentang sikap-sikap dan reaksi yang biasa dilakukan oleh orang dan keluarga dalam menghadapi krisis. Seperti disebutkan sebelumnya, setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika menghadapi krisis. Reaksi ini biasanya akan dipengaruhi oleh beberapa hal:
- Tingkat kedewasaan orang – yang berhubungan dengan keterampilannya mengatasi emosi dan tekanan
- Pemahaman tentang krisis itu sendiri – bagaimana seseorang melihat krisis
- Pengalaman selama ini ketika menghadapi krisis – bagaimana keberhasilan atau kegagalannya selama ini ketika menghadapi krisis, yang akan mempengaruhi baik keterampilannya maupun kepercayaan dirinya
- Keterampilan dalam memecahkan masalah – yaitu kemampuan mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi
- Adanya sumber daya yang mendukung – misalnya pelatihan, konseling, teman-teman, buku-buku dll.
Dalam hal ini reaksi anggota keluarga bisa berbeda-beda dalam menghadapi krisis, yang sering menimbulkan dinamika yang baru, atau bahkan krisis susulan. Bisa juga reaksi anggota keluarga seragam dalam menghadapi krisis, baik secara negatif maupun secara positif. Untuk itu kita perlu belajar apa saja reaksi negatif dan positif yang sering dilakukan orang.
Read More…
Kesejahteraan 04.1 Pemahaman tentang Krisis
Kata “krisis” adalah kata yang sering kita dengar di mana-mana. Krisis moneter Indonesia, krisis keuangan global, krisis Timur Tengah – adalah sebagian istilah yang sering digunakan akhir-akhir ini. Memang semua orang dan semua institusi mengalami krisis dalam proses kehidupannya, termasuk juga keluarga. Karenanya penting bagi kita untuk mengenal apa itu krisis dalam keluarga, serta bagaimana cara mengatasinya.
Krisis adalah kondisi sulit yang dialami oleh seseorang yang mendapat tekanan yang berat, yang tidak dapat diatasi dengan cara-cara yang selama ini dilakukan. Artinya ada situasi yang berubah, yang kemudian menimbulkan krisis. Dan ada perubahan yang harus terjadi, sebelum krisis ini dapat dilalui. Hidup ini memang selalu menuntut perubahan. Kehidupan bukanlah suatu kondisi yang tinggal tetap dan statis, melainkan suatu proses yang dinamis. Menjadi orang percaya pun tidak mengubah atau menghapus kenyataan tersebut.
Sebenarnya perubahan hidup tersebut adalah prasyarat pertumbuhan dan perkembangan. Makhluk hidup membutuhkan perubahan agar bisa mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Artinya krisis bisa dilihat sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Jika berhasil mengatasi krisis, kita akan memiliki keterampilan dan kemampuan yang baru dan lepas dari tekanan yang selama ini menghimpit. Jika gagal, kita masih akan merasa tertekan karena masalah belum selesai, kita juga kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan mempelajari keterampilan yang baru.
Ada dua hal yang penting diingat tentang krisis. Yang pertama adalah adalah bahwa pemahaman atau penerimaan seseorang tentang krisis yang bisa berbeda-beda untuk orang yang berbeda. Apa yang menjadi krisis bagi satu orang belum tentu menjadi krisis bagi orang yang lain. Karena itu, yang disebut krisis sering tergantung bagaimana pemahaman seseorang. Bisa saja krisis itu berupa (i) situasi yang nyata atau malah situasi yang hanya khayalan, (ii) peristiwa yang sudah terjadi atau yang baru akan terjadi (atau baru mungkin terjadi), atau juga (iii) krisis itu adalah suatu kondisi yang dapat diduga atau tidak dapat diramalkan.
Yang kedua, reaksi setiap orang terhadap krisis pun akan berbeda-beda. Dua orang yang mendapat krisis yang sama, tidak akan memberi tanggapan yang sama. Merekapun akan mendapat manfaat yang berbeda juga. Krisis bisa berarti bencana bagi satu orang, atau berarti berkat atau pembelajaran bagi orang yang lain.
Kesejahteraan 04 Krisis dalam Keluarga

Krisis adalah kondisi sulit yang dialami oleh seseorang yang mendapat tekanan yang berat, yang tidak dapat diatasi dengan cara-cara yang selama ini dilakukan. Krisis melanda semua orang dan institusi, termasuk keluarga. Ketika keluarga dapat melewati krisis dengan benar, maka orang-orang di dalamnya akan bertumbuh menjadi lebih baik. Sebagai orang percaya kita perlu belajar untuk mengatasi krisis dengan cara yang benar sesuai kehendak Allah.
Untuk itu pelajaran ini telah dibagi dalam 4 bagian:
04.1 Pemahaman tentang krisis
04.2 Sikap Keluarga dalam menghadapi Krisis
04.3 Langkah Mengatasi Krisis dalam keluarga
04.4 Membangun keluarga yang tahan krisis


Komentar