Kesejahteraan 03.3: Syarat terjadinya pemulihan
Apakah saya adalah calon yang baik untuk pelayanan pemulihan?
Prinsip dasarnya di sini adalah bahwa Allah selalu siap untuk bekerja di dalam kita untuk memberikan pemulihan, tetapi tidak setiap orang siap untuk menerima pemulihan-Nya. Bagaimana Anda bisa mengetahui apakah Anda sudah siap untuk proses pemulihan? Ada beberapa karakteristik yang telah kami temukan dalam kehidupan orang-orang yang merupakan calon yang baik untuk pelayanan pemulihan. Karakteristik itu adalah:
- Kemiskinan rohani
- Keterbukaan dan kejujuran di hadapan Allah
- Keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan dengan orang-orang lain
- kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan berdosa
- Kemauan untuk menerima kebenaran Allah
Kesejahteraan 03.4: Proses pelayanan pemulihan
Orang sering bertanya-tanya, jika mereka akan dilayani dalam sebuah pelayanan pemulihan, proses seperti apa yang akan terjadi? Bagaimana seharusnya mereka bersikap? Dalam artikel ini kita akan membahas dua hal, yaitu seperti apakah proses pelayanan pemulihan, serta perlunya perlawanan terhadap roh-roh jahat dalam pelayanan pemulihan.
Read More…
Kesejahteraan 03.2: Keunikan pelayanan pemulihan
Bagaimana pelayanan pemulihan berbeda dari konseling Kristen tradisional?
Ada persamaan antara pelayanan pemulihan dengan konseling Kristen tradisional, tetapi juga ada beberapa perbedaan signifikan di antara kedua pendekatan itu. Perbedaan itu terutama adalah dalam tujuan proses pelayanan, dan juga sumber-sumber kesembuhan dalam proses pelayanan.
Read More…
Kesejahteraan 03.1: Aspek-aspek pelayanan pemulihan
Bagaimana sesungguhnya cara Yesus mendatangkan pemulihan kepada manusia
batiniah kita? Saya harus mengakui bahwa setiap orang itu unik, dan
karena Tuhan mengenal kebutuhan kita yang terdalam dengan sempurna, Ia
memperlakukan kita masing-masing secara individual. Meskipun demikian
ada empat aspek luas dari pekerjaan-Nya yang sering kali muncul selama
pelayanan kesembuhan batin. Keempat aspek itu adalah:
- Memulihkan luka-luka manusia yang terdalam
- Meneguhkan kebenaran-Nya dalam hati kita
- Membebaskan kita dari dampak dosa secara internal
- Menuntun kita bertobat dari pola hidup dan hubungan kita dengan orang lain yang tidak sehat
Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan
Apakah pelayanan pemulihan itu? Seperti apakah sebuah proses pelayanan pemulihan? Apa yang membedakannya dengan konseling dan pelayanan lainnya? Pertanyaan itu akan dijawab oleh Pdt. Thomas J. Sappington, Th. D., pendiri Duta Pembaharuan, dalam artikel berikut ini.
Kesejahteraan 03: Mengenal Pelayanan Pemulihan
Pemulihan adalah pekerjaan Roh Kudus di mana Allah bergerak untuk
menyembuhkan luka-luka kita yang terdalam, meneguhkan kebenaran-Nya
dalam hati kita, dan membebaskan kita dari akibat dosa-dosa kita dan
dosa-dosa orang lain secara batiniah…
- Kesejahteraan 03.1: Aspek-aspek pelayanan pemulihan
- Kesejahteraan 03.2: Keunikan pelayanan pemulihan
- Kesejahteraan 03.3: Syarat terjadinya pemulihan
- Kesejahteraan 03.4: Proses pelayanan pemulihan
Seorang gadis muda sejak lahir sudah ditolak oleh ayahnya. Ketika ia sakit parah dan hampir meninggal, ibunya ingin membawa dia ke dokter, tetapi ayahnya ingin membiarkan dia mati. Namun karena kasih karunia Allah, ia tidak jadi mati, tetapi hubungannya dengan ayahnya sangat jauh sejak saat ia masih amat muda. Ia selalu menanggung pukulan terberat dari kemarahan ayahnya. Jika ia melakukan satu kesalahan saja, ayahnya memukul dia dan mencaci maki dia. Ia selalu disalahkan untuk semua problem adik-adiknya. Akibatnya, ia mulai membenci orang tuanya dan menumpuk kepahitan dalam hatinya terhadap mereka. Ia juga membenci Allah dan akan berkata secara terus-terang bahwa Allah tidak ada.
Renungan: Natal – kelahiran yang membawa harapan (Yes 9:6)
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Harapan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bagi banyak orang, natal membuat hati berdebar-debar, menantikan sesuatu yang baik. Hadiah? Berkumpul bersama? Retreat/Rame-rame/Perayaan, libur panjang? Penantian akan sesuatu yang baik dengan hati yang berdebar ini adalah sebuah harapan, dan harapan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia.
Namun sebenarnya harapan mudah menjadi hilang, apalagi ketika kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna ini. Ketika Yesaya menuliskan ayat-ayat ini, bangsa Yehuda sedang dihukum Tuhan, karena mereka tidak taat. Mereka sedang hidup dalam kondisi yang suram: terhimpit, rendah dan berada dalam kegelapan; hidup dalam tekanan dan kekerasan; hidup dalam penjajahan dan penumpahan darah. Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga sedang dalam keadaan terhimpit, terjepit, suram, gelap?
Ada Kabar baik bagi anda: Tuhan berjanji untuk memberi kelegaan dan sukacita. Caranya adalah Ia akan memberikan seorang anak yang lahir bagi kita: Anak ini akan menjadi pembebas dan menjadi Tuhan yang memimpin kita – Pemerintah di dunia ini berkuasa dengan tangan besi dan kaki besi; Pemerintahan Tuhan kita ada di bahu—Nya, yang melayani dan memberikan yang terbaik bagi kita.
Orang percaya seharusnya memiliki pengharapan yang besar. Mengapa? Karena kita memiliki Tuhan sang Pembebas, yang melakukan hal-hal ini bagi kita:
- membimbing
- bekerja dengan penuh kuasa
- mengendalikan waktu dan kehidupan
- membawa dan memberikan kedamaian
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #4 Bagaimana seharusnya belajar
Bagaimana seharusnya kita belajar? Saya ajak anda untuk meredefinisi
kata belajar ini, yaitu suatu proses perubahan yang relatif permanen
dalam kehidupan kita. Untuk itu ada tiga komponen penting yang harus
terjadi, sebelum kita bisa mengatakan bahwa kita sudah belajar. Komponen itu adalah adanya:
- transformasi
- proses
- tanggapan yang benar
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #3 Definisi dan Kerancuan belajar
Mula-mula mari kita definisikan belajar. Belajar didefinisikan sebagai
proses mendapatkan pengetahuan (baru) atau mengembangkan kemampuan
untuk mempraktekkan tingkah laku yang baru . Secara psikologis
diartikan sebagai perubahan pengetahuan, yaitu suatu perubahan yang
relatif permanen, baik di dalam atau melalui penerimaan pengetahuan,
pemahaman dan tingkah laku . Sampai di sini tidak ada masalah. Yang
menjadi masalah adalah ketika konsep perubahan pengetahuan ini kemudian
mengalami kerancuan dan pembelokan paradigma.
Kerancuan sistem belajar kita, baik di sekolah dan di universitas,
bahkan juga di tempat kerja adalah ketika menyamakan beberapa hal yang
secara esensial berbeda. Kerancuan itu adalah:
- mengidentikkan pembelajaran dengan sistem belajar formal
- menyamakan belajar dengan sistem sosial
- menyamaratakan belajar dengan konsep-konsep yang sebenarnya berbeda
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #2
Bagaimana dengan hubungan antara sistem pendidikan dengan ketahanan
suatu bangsa? Selama beberapa dekade kita terpesona oleh “candu” yang
berbentuk angka-angka pertumbuhan ekonomi yang fantastis, yang
mengiming-imingi bahwa kita akan segera menjadi New Asian Tiger, Macan
Asia. Cetak biru perekonomian bangsa kita serahkan kepada kepada
sekelompok think—tank, kelompok berpikir yang disindir dengan nama
“mafia Berkeley”, pakar-pakar ekonomi lulusan sekolah luar negeri yang
memiliki pemikiran makro ekonomi yang pro sistem kapitalis namun
diberangus dalam sistem sosialis orde baru. “Kapitalis malu-malu”,
begitu kata orang menyindir sistem perekonomian orde baru.
Kita baru dipaksa sadar ketika terjadi masalah, bencana yang dimulai di
bidang ekonomi pada tahun 1997, namun segera menjalar ke bidang-bidang
lainnya, yang kemudian kita sebut sebagai krisis multidimensi. Secara
fundamental ekonomi kita hancur, yang terlihat dengan nilai tukar
rupiah yang melemah hebat, ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk
membayar hutang yang nilai tukarnya melonjak hebat, gulung tikarnya
sekian banyak sektor usaha anak negeri – namun itu pun baru
permulaannya saja.
Ternyata krisis yang terjadi adalah krisis moral,
ketika pejabat dan rakyat jelata tidak memiliki acuan moral yang teguh,
yang begitu mudah diiming-imingi, apakah untuk melakukan korupsi atau
untuk melakukan penjarahan; krisis politik, ketika mereka yang adalah
elite politik Indonesia, dengan mengatasnamakan kerakyatan dan
kebangsaan, saling bertikai, saling menuding, saling menyalahkan, dan
saling ambil kesempatan dalam kesempitan; krisis kebangsaan, ketika
sesama anak bangsa saling makan, terlibat kerusuhan, terlibat
separatis; krisis martabat, ketika dengan mudah kita menjual bangsa
kita untuk mendapatkan keuntungan; krisis kemanusiaan, ketika dengan
mudah kita mengambil nyawa orang lain untuk kepentingan kita dan segala
macam krisis-krisis lain yang masih menghantui bangsa kita. Apakah
kita bisa melihat ke belakang dan menuding sistem pendidikan nasional
sebagai salah satu biang keladi keruntuhan bangsa ini?
Read More…
Pembelajaran 01: Belajar untuk belajar #1
Pada tahun 1983, Departemen Pendidikan Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang berjudul A Nation at Risk. Laporan tersebut menghubungkan kesulitan ekonomi yang diderita negara tersebut pada tahun 1970 dan 1980an dengan kekurangan/kelemahan yang terjadi pada sistem pendidikan Amerika Serikat. Pesan yang disampaikan laporan tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan yang ada saat itu merupakan penghalang terciptanya perekonomian yang kuat, yang merupakan suatu hal yang terus dikejar oleh pemerintah. Hasilnya di satu sisi terjadi ketidakpercayaan pada sistem pendidikan nasional, namun di sisi lain ada dorongan kuat untuk melakukan reformasi dalam sistem pendidikan tersebut.
Point yang ingin saya tekankan adalah bagaimana laporan tersebut menghubungkan sistem pendidikan suatu negara dengan kualitas negara tersebut secara makro. Secara intuitif kita bisa menerima pernyataan di atas, karena kita bisa menghubungkan output dari sistem pendidikan tersebut dengan potensi sumber daya manusia suatu negara. Apabila kualitas sumber daya yang dihasilkan suatu sistem pendidikan bernilai buruk, maka dapat kita ramalkan, cepat atau lambat, negara tersebut mengalami stagnasi, kemunduran, atau bahkan kehancuran. Tidak mengherankan apabila laporan A Nation at Risk di atas memicu terjadinya reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikan nasional di Amerika Serikat.
Bagaimana dengan Indonesia? Bahwa sistem pendidikan di Indonesia telah menjadi sorotan dan bahan kritikan tajam bukanlah berita baru lagi. Dan bicara tentang reformasi sistem pendidikan, orang bahkan bisa berkata bahwa setiap kali terjadi pergantian menteri pendidikan, maka akan terjadi reformasi atau bahkan revolusi dalam sistem pendidikan Indonesia, mulai dari sistem belajar mengajar, metode yang dipakai dan yang terpenting, kurikulum dan buku panduan pun dapat dipastikan mengalami perubahan. Bangsa ini tidak memiliki blueprint sistem pendidikan nasional yang baku, namun masih mencari-cari model yang dianggap sesuai.
Artikel ini adalah pergumulan pribadi tentang tantangan pendidikan yang terjadi di Indonesia, dan dampaknya bagi kelanjutan bangsa ini.
Kepemimpinan 01. Proses Pencarian Visi
Visi adalah gambaran tentang masa depan yang kita harapkan terjadi. Visi adalah suatu komponen yang sangat penting dalam memaksimalkan kehidupan seseorang. Visi berhubungan dengan kehendak, tujuan, harapan dan semangat, yang semuanya itu akan membuat perbedaan antara kehidupan yang maksimal dan kehidupan yang seadanya. Karena itu penting bagi setiap orang percaya, apalagi bagi para pemimpin untuk memiliki visi yang diyakini sebagai curahan hati Allah yang dinyatakan bagi kita. Adalah bagian kita untuk meresponi hati Allah itu dengan cara yang kudus dan membawa sukacita, bagi Allah dan kita sendiri.
Kepemimpinan 01. Proses Pencarian Visi
01.1 Pemahaman Umum tentang visi
01.2 Visi pribadi & visi lembaga
01.3 Langkah-langkah pencarian dan penyelarasan visi
01.4 Pernyataan visi dan misi
Kesejahteraan 02.2 Penyebab keluarga menjadi disfungsi
Minggu lalu kita sudah berbicara tentang keluarga disfungsi, dan tanda-tanda sebuah keluarga yang sedang disfungsi. Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya, sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat, dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan bagi keluarga. Minggu ini kita akan belajar beberapa hal yang menyebabkan sebuah keluarga mengalami disfungsi.
Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga adalah:
- Ketidakdewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil
- Kontrol, yaitu kecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi
- Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental
- Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup
- Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.
- Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual


Komentar