Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Penerapan praktis
Kalau begitu, apa langkah praktis yang bisa kita lakukan agar kita
betul-betul bisa Belajar? Mari kita bahas langkahnya satu persatu.
Teliti sumber yang kita pelajari. Evaluasi. Analisa. Lakukan apa yang
kita bisa kita lakukan agar kita mendapatkan sumber yang terbaik.
Jangan mau dengar gosip. Dapatkan fakta-faktanya dahulu. Lihat siapa
narasumber. Cari sumber yang memang menguasai bidang yang mau kita
pelajari. Banyak orang yang mendasarkan falsafah hidupnya, tanpa
disadari, pada acara-acara televisi, atau omongan orang lain, atau
kebiasaan belaka tanpa meneliti kebenarannya. Kalau kita mendapat
pengajaran dari sumber yang setengah matang, jangan-jangan yang bisa
kita serap hanya seperempat matang, atau tidak matang sama sekali.
Kalau acuan yang jadi sumber pengajaran kita sudah salah, apalagi kita
yang mempelajari sumber salah tersebut.
Seraplah sebanyak-banyaknya ilmu, prinsip, metoda, latihan, demonstrasi
atau apapun yang ditawarkan oleh sumber itu. Tentu dengan masih juga
menganalisa dan mengolah kebenaran yang ditawarkan oleh sumber
tersebut. Misalnya saya sudah meyakini kemutlakan dan kebenaran dari
Firman Tuhan dan saya siap untuk menaatinya. Namun apabila saya membaca
tafsiran seorang teolog, atau renungan seorang hamba Tuhan berdasarkan
Firman Tuhan tersebut, tentu levelnya berbeda dengan Firman Tuhan itu
sendiri, dan saya akan menggumuli kebenaran yang ditawarkan oleh teolog
atau hamba Tuhan tersebut. Ini bukan berarti bahwa kita sendirilah yang
benar, namun bahwa kita bertanggung jawab untuk semua kebenaran yang
kita terima.
Read More…
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Penghalang
Apabila kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk memahami suatu kebenaran dan juga berusaha untuk mempraktekkannya, hal apakah yang menjadi kendala bagi kita untuk menjadikan kebenaran tersebut sebagai suatu gaya hidup dalam kehidupan kita? Mengapa sering lebih mudah bagi kita untuk memahami suatu kebenaran daripada mempraktekkan kebenaran tersebut? Bahkan terlebih sering lebih mudah kita untuk mengajarkan kebenaran tersebut namun gagal dalam melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jarkoni, Iso Ngajar Ora Iso Ngelakoni (Bisa mengajar namun tidak bisa mempraktekkan) adalah peribahasa Jawa yang mengekspresikan kesulitan tersebut.
Untuk itu mari kita melihat satu perikop dari Lukas 24:14-33, yaitu peristiwa di jalan ke Emaus. Dua orang murid Yesus bercakap-cakap sepanjang jalan Yerusalem-Emaus, membicarakan tentang kematian Tuhan mereka, sementara pada saat yang sama Yesus sendiri ada di samping mereka dan ikut berbincang-bincang dengan mereka, namun mereka tidak dapat mengenalinya, sehingga Yesus sendiri mengecam “Hai kamu orang bodoh, …lamban…tidak percaya”.
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Pentingnya praktek dan produktifitas
Dalam bagian lalu kita telah mendapatkan masukan tentang Belajar Transformatif, yaitu suatu proses atau siklus pertumbuhan yang ditandai dengan dua ciri:
- Ada perubahan yang relatif permanen dalam diri kita
- Ada hasil/buah yang nyata yang bisa kita lihat atau nikmati dalam pengalaman nyata kita
Tanpa adanya dua ciri ini, maka mungkin konsep belajar yang selama ini kita pahami sebenarnya hanyalah bentuk lain dari mengingat, membaca, mengerjakan tugas, mengulang-ulang dll. Pada bagian ini kita akan membahas penerapan praktis dari konsep Belajar Transformatif tersebut.
Percaya – Praktek = Sia-sia
Kira-kira demikianlah kesimpulan dari Yakobus 2:14-26.
“Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (ay. 26b) adalah inti pengajaran Yakobus. Apabila kita pelajari perikop ini kita akan melihat tingkatan-tingkatan percaya menurut Yakobus:
- Ay. 14—17 Percaya pada tataran intelektual (kognitif) saja, ketika pengetahuan kita sama sekali tidak membuahkan perubahan dalam tingkah laku. Contoh yang diberikan Yakobus adalah bila kita hanya bersetuju pada seseorang yang sedang sangat membutuhkan pakaian atau makanan sehari-hari namun kita tidak melakukan tindakan yang mencerminkan persetujuan tersebut, maka itu hanyalah omong kosong belaka.
- Ay. 18—20 Percaya pada tataran intelektual dan emosional (kognitif dan afektif). Yang menarik adalah contoh yang diberikan Yakobus adalah “setan percaya dan… gemetar” akan adanya Allah, namun tetap saja tidak mau tunduk pada Allah. Karenanya walaupun kita tergerak secara pikiran dan hati kita (misalnya baru pulang KKR yang membuat kita berjingkrak-jingkrak, atau mendapatkan lawatan dari Tuhan yang membuat kita menangis tersedu-sedu), namun tidak ada tindakan yang mencerminkan perubahan intelektual dan emosional tersebut, tetap saja Yakobus menyebutnya sebagai “iman yang kosong”.
- Ay. 21—26 Tataran yang melibatkan pikiran, hati dan tindakan (kognitif, afektif dan motorik) inilah yang dipuji oleh Yakobus sebagai “iman yang sempurna”. Contoh yang diberikan Yakobus adalah keteladanan dari Abraham dan Rahab yang bertindak sesuai dengan apa yang mereka percayai. Namun yang menarik adalah ada jeda waktu bertahun-tahun, antara Abraham yang percaya dan dibenarkan, dengan Abraham yang bertindak mempersembahkan Ishak anaknya. Berarti bukan perbuatan itu sendiri yang menyelamatkan, namun tingkat iman yang siap untuk bertindak, iman yang sudah mengalami proses internalisasi sehingga menjadi nilai inti Abraham, level iman seperti inilah yang “diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran” dan yang menyelamatkan.
Intinya, Yakobus ingin menegaskan kembali pada kita bahwa pemahaman dan pengetahuan kita baru menjadi sesuatu yang produktif apabila kita memperlihatkan tindakan yang sesuai dengan pemahaman kita tersebut.
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Bertumbuh
Langkah keempat: Bertumbuh
Kita “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah”
Secara harafiah ayat 10 berbunyi, “bertumbuh dalam pengenalan akan Allah
- Bukan hanya pengetahuan yang abstrak tentang Allah (teologia) yang
dimaksud. Melainkan hubungan kita dengan Allah semakin dekat dan intim -
Jika kita bertumbuh dalam hubungan kita dengan Allah, maka tentu saja
kita akan semakin mengerti kehendak-Nya sehingga siklusnya mulai lagi
Setelah kita melewati langkah (i) sampai langkah (iii), otomatis kita
akan mengalami pertumbuhan, baik dalam pemahaman kita, pengetahuan
kita, pengertian kita dan kita siap untuk mempraktekkannya lagi
sehingga ilmu kita tersebut menjadi terasah dan teruji.
Inilah yang dimaksud dengan siklus, ketika proses belajar dan bertumbuh
bukanlah suatu proses yang terjadi sekali dan berhenti. Ini bukanlah
suatu proses yang bisa kita batasi waktunya. Seharusnya tidak ada Surat
Tanda Tamat Belajar, karena proses belajar akan berulang lagi dalam
praktek kehidupan kita. Seharusnya tidak ada tanda (seperti yang banyak
terdapat di kampung-kampung di Jogja) Jam Belajar Masyarakat, karena
Belajar adalah sesuatu yang kontinyu dalam kehidupan kita. Dan yang
paling penting, cepat atau lambat, kita akan bertumbuh dalam kehidupan
kita.
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Menghasilkan karya eksternal
Langkah ketiga: Produktif
Kita “memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik”
Setelah kita memiliki masukan yang benar, dan mengalami perubahan internal, kemudian kita akan menghasilkan karya eksternal yang bisa dinikmati oleh orang lain.
- Kasih dan kuasa Tuhan semakin mengalir dalam kehidupan dan pelayanan kita sehingga kita berbuah
- Kuasa Roh Kudus menjadi nyata dalam pelayanan kita
- Ada hasil yang bisa memberi manfaat baik bagi diri kita maupun orang lain
Apabila kita sudah mendapatkan (i) sumber pengetahuan yang benar, (ii) mempraktekkan kebenaran tersebut, maka langkah (iii) adalah sesuatu yang kita harapkan, ketika pembelajaran kita, pertumbuhan kita akan menjadi sesuatu yang produktif dan menghasilkan. Kita tidak hanya ingin belajar matematika supaya tahu, kita tidak hanya ingin belajar dan mempraktekkan matematika, lebih dari itu, kita ingin matematika menjadi satu alat yang produktif dan berguna dalam kehidupan kita. Apapun yang kita pelajari dan praktekkan, kita ingin agar tidak berhenti di situ saja, namun juga kita bisa melihat hasilnya yang menyenangkan hati kita, membuat perbedaan dalam kehidupan kita dan kehidupan orang lain.
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Mengalami perubahan
Langkah kedua: Mengalami perubahan
Hidup “layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya”
Apabila kita telah merenungkan kebenaran yang kita dapatkan, dan
berpikir situasi seperti apa yang bisa kita pakai untuk menerapkan
kebenaran tersebut, langkah selanjutnya adalah mempraktekkannya dan
menjadikannya bagian kehidupan kita! Bagian ini adalah yang paling
sulit dan paling sering disalah mengerti dalam proses belajar karena kita sedang dituntut untuk:
- menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar firman saja
-
sungguh memahami dan menikmati kasih karunia Allah sehingga kita hidup bagi Tuhan sebagai respon yang layak di hadapan-Nya
Ada beberapa pemahaman yang saya anggap keliru berkenaan dengan praktek ini, yaitu:
- tahu akan membuat orang melakukan apa yang ia tahu
- belajar sama dengan membaca, menulis atau mengingat
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Memiliki masukan yang benar
Langkah pertama: Memiliki masukan yang benar
Memperoleh “segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna
Kita mengetahui kehendak Allah, salah satunya dengan membaca firman-Nya. Namun kita juga perlu “hikmat dan pengertian” dari Allah untuk
menerapkan prinsip-prinsip dari firman Tuhan dalam setiap situasi yang
kita hadapi
Satu penerapan yang penting untuk ayat di atas dalam kehidupan kita,
khususnya dalam hubungannya dengan metode belajar adalah kita perlu
mengidentifikasi sumber yang kita pelajari, apakah memiliki nilai
kebenaran atau tidak.Sering terjadi, baik secara sadar maupun tidak,
kita menerima banyak masukan dari luar tanpa kita mempertimbangkan
kelayakannya. Buku-buku, film, acara di TV, obrolan dengan tetangga,
bahkan juga kotbah pendeta pada hari minggu kita terima mentah-mentah
tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Yang terjadi kemudian kita mendapat
pemikiran yang saling bertentangan dan kita bingung untuk memilih yang
mana.
Atau kita mempercayai satu pola pemikiran yang secara
berulang-ulang kita terima tanpa meneliti kebenarannya. Kita mengira,
karena semua orang berpendapat seperti itu, dan itulah kebenaran.
Sering terjadi bagi anak-anak muda untuk lebih mempercayai teman sebaya
daripada orang tua, dan hal tersebut dapat membawa penyesalan.
Penerapan yang kedua adalah ketika kita mendapat satu masukan, kita
juga perlu merenungkannya agar kita tahu bagaimana kita dapat
mempraktekkannya dalam situasi kita saat ini. Misalnya, apabila ada
orang yang memberi nasihat kepada kita, “Jangan berdusta”, dan setelah
kita mempertimbangkannya, kita menganggap hal tersebut sebagai suatu
kebenaran, kita juga perlu bertanya “Apakah hubungannya dengan keadaan
saya saat ini, apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan sehingga
kebenaran ini bisa nyata dalam hidup saya?”
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Siklus Kolose 1:9-10
Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, (Kolose 1:9—10)
Bagian di atas dikenal sebagai Siklus Kolose, di mana Rasul Paulus mendoakan pertumbuhan rohani jemaat di Kolose. Disebut sebagai siklus karena pada ayat ini Paulus membagi pertumbuhan rohani itu dalam beberapa langkah, yaitu:
- Mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna
- Hidup layak dan berkenan kepadaNya
- Memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik
- Bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, yang sama dengan langkah satu di atas
Dalam pemahaman Paulus, pertumbuhan adalah suatu siklus yang dapat digambarkan seperti berikut:
- Memiliki masukan yang benar
- Mengalami perubahan internal
- Menghasilkan karya eksternal
- Bertumbuh
Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Pengantar
Ada kebutuhan yang sangat besar saat ini untuk belajar. Seiring dengan pesatnya kemajuan peradaban, manusia pun semakin membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, yang saat ini berkembang dengan sangat pesat. Ilmu dan metode yang semakin beragam dan terspesialisasi, sistem pendidikan yang semakin dibakukan memperlihatkan bagaimana kita menyikapi perubahan pada jaman ini.
Pada tingkat yang paling praktis hal tersebut diperlihatkan dalam sikap masyarakat kita akan pendidikan. Menjamurnya sekolah plus (dengan biaya plus), dipadatinya kegiatan anak dengan beragam aktivitas ekstra kurikuler dan les-les tambahan, dengan harapan anak-anak memiliki kemampuan ekstra dalam pelajaran sekolah, bahasa, musik dll., persaingan yang luar biasa dalam mendapatkan sekolah-sekolah favorit, menjamurnya lembaga pendidikan keterampilan, gonjang-ganjing masalah kurikulum, buku pegangan dan fenomena lainnya memperlihatkan harapan-harapan yang ditaruh masyarakat pada sistem pendidikan.
Namun seiring dengan meningkatnya pengharapan akan sistem pendidikan, baik formal maupun informal, meningkat juga kecaman yang ditujukan kepada sistem tersebut dan output yang dihasilkannya. Ada yang mengecam bahwa lulusan perguruan tinggi tidak siap pakai, yang dibalas dengan menyatakan bahwa memang lulusan perguruan tidak disiapkan untuk langsung dipakai, tapi untuk dibekali lebih lanjut secara spesifik sebelum bisa produktif di pekerjaan mereka. Ada yang mengecam beban yang terlalu besar yang diberikan kepada anak didik. Lainnya menyatakan ketidakpuasan akan hasil pendidikan seperti yang tercermin dalam kehidupan sosial dan masyarakat, seperti yang dinyatakan dalam karya-karya Ivan Illich, Paulo Freire dan Andreas Harefa.
Tulisan ini ingin mengangkat masalah belajar dari sudut pandang teologis, walaupun penerapannya adalah untuk seluruh kehidupan kita. Saya percaya bahwa ada satu kendala dalam pemahaman kita akan kata “Belajar” dan diperlukan suatu perubahan paradigma agar Belajar menjadi gaya hidup setiap orang percaya.
Pembelajaran orang dewasa: Cara-cara
Beberapa ciri pembelajaran orang dewasa
- ingin terus belajar, dan bukan sebaliknya, walaupun diakui dalam beberapa hal ada yang bisa menghalangi proses pembelajaran. Jelas ada banyak motivasi yang menggerakkan orang dewasa untuk terus belajar
- termotivasi untuk belajar dari beberapa sumber: pencarian kenikmatan atau harga diri, pencarian jawaban dan pemenuhan kebutuhan yang dirasakan.
- umumnya berorientasi masalah – mereka mencari pengetahuan untuk menjawab masalah yang nyata dalam hidup mereka
- belajar mandiri – mereka ingin ikut berpartisipasi tentang bagaimana dan apa yang mereka pelajari.
- memiliki rasa takut untuk gagal dalam konteks pembelajaran
Karenanya, diperlukan metodologi yang sesuai untuk pembelajaran orang dewasa.
Read More…
Pembelajaran orang dewasa: Tujuan-tujuan
Apakah yang menjadi tujuan dari pembelajaran orang dewasa secara kristiani?
Secara umum pembelajaran kristen seharusnya memiliki tujuan-tujuan berikut:
- berpikir secara kristiani – ketika orang memiliki worldview dan paradigma yang didasari kebenaran Alkitab
- bertindak dalam ketaatan akan kehendak Allah – ketika orang
memiliki kemauan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Penciptanya - memiliki hati yang mengasihi Allah dan manusia – ketika motivasi untuk kehidupan ini adalah kasih, kepada Allah dan sesama manusia
Tujuan-tujuan secara khusus:
- Pembelajaran orang dewasa haruslah bertujuan untuk mengembangkan
pembelajar yang mandiri, yang dapat memelihara pertumbuhan mereka
sendiri dari alkitab - Pembelajaran orang dewasa yang efektif akan meolong pembelajar
untuk mereformasi teologi mereka dalam perspektif pengalaman hidup yang
berubah, sehigga mereka dapat menerapkan kebenaran slkitab pada situasi
mereka saat ini - Pembelajaran orang dewasa haruslah menolong orang berpikir dalam kerangka kebenaran firman allah yang absolut.
- Pembelajaran orang kristen dewasa haruslah menolong orang untuk beraksi pada transisi kehidupan dengan benar
Pembelajaran orang dewasa: Ciri-ciri
Orang dewasa memiliki karakteristik tersendiri yang menyebabkan pola pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa seharusnya memiliki perbedaan dengan pembelajaran anak-anak. Kita perlu mempelajari ciri apa saja dan apa implikasinya dalam pembelajaran orang dewasa. Artikel ini merupakan rangkuman dari Downs, Perry G., “Adult: An Introduction” dalam buku Christian education: foundations for the future
Tidak ada garis pembatas yang jelas dalam masyarakat modern yang memberi indikasi kapan seorang pribadi menjadi orang dewasa. Pada beberapa masyarakat primitif, pembatas tersebut bisa berupa ritual inisiasi yang mengantar seseorang pada masa kedewasaan. Biasanya masa dewasa dimulai pada awal duapuluhan (yang ditandai dengan beberapa peristiwa penanda) dan berlanjut sampai akhir hidup.
Read More…


Komentar