Tag Archive | Keluarga

Mendengarkan: Pola berkomunikasi yang sehat bagi keluarga

1334637319526.png

Di sini tidak ada yang mau mendengarkan saya! Memahami bahwa komunikasi adalah sebuah proses dapat memberikan menolong pengertian bahwa hubungan adalah sesuatu yang fleksibel. Keluarga mengembangkan pola interaksi satu sama lain dan kemudian bertahan terhadap perubahan. Kesulitan terbesar untuk mendengarkan dalam keluarga terdiri dari  peran yang terlalu kaku, pengharapan yang tetap, dan tekanan untuk menyesuaikan diri. Saat kita [...]

10 kalimat Cinta yang wajib diutarakan pada seorang anak

Sebagai anak laki-laki 5 tahun yang normal, Timothy sering malu untuk menyatakan rasa cintanya pada saya. Ketika saya bertanya apakah dia sayang pada papa, dengan senyum malu dia akan menggelengkan kepala. Tapi ketika didesak lebih lanjut, dia akan berkata “aku malu….”. Berbeda dengan kakak perempuannya yang lebih ekspresif, Tim sering lebih sulit untuk mengakui dan menerima pernyataan cinta dari saya. Namun saya tahu ia sudah memegang satu kebenaran, karena beberapa kali Tim berkata, “biarpun aku nggak cinta papa, papa tetap cinta aku kan?…”

Ada banyak kata-kata dan kalimat yang tidak perlu diutarakan orang tua, dan jangan sampai terdengar oleh anak. Ada juga kalimat-kalimat yang perlu didengar oleh seorang anak. Namun kalimat dibawah ini wajib didengar oleh seorang anak dari orang tuanya. Pernyataan di bawah ini penting untuk didengar seorang anak, apakah ia berumur 2 tahun atau 20 tahun atau bahkan 50 tahun pun.

  1. “Aku cinta padamu.”
  2. “Aku selalu mencintaimu.”
  3. “Apa pun yang terjadi padamu, apapun yang kamu lakukan, aku tetap mencintaimu.”
  4. “Kamu sangat berharga bagiku.”
  5. “Aku sangat bangga padamu.” 
  6. “Aku merindukanmu.”
  7. “Ya sayang, aku punya waktu untukmu.”
  8. “Ayo, kita …….. bersama” (isi dengan kegiatan: bermain, nonton, nangkring dll.)
  9. “Aku memaafkanmu”.
  10. “Aku mencintaimu, tapi kamu tetap harus didisiplin.”

12 hal yang biasa dilakukan oleh keluarga yang sehat

Apa saja yang akan dilakukan oleh sebuah keluarga yang sehat? Daftar berikut akan memberikan beberapa indikator untuk melihat sesehat apa keluarga yang kita miliki.
 
#1 Berkomunikasi (Ef 4:31-32)
#2 Menghargai dan Mendukung (1Tes 5:11)
#3 Saling Menghormati (Ibrani 12:9)
#4 Saling Mempercayai (Mazmur 20:7)
#5 Berbagi Waktu bersama  (Ulangan 11:19; Heb. 10:24-25)
#6 Bertanggungjawab (Roma 14:11-12)
#7 Mengajarkan kebenaran (Amsal 22:6)
#8 Menikmati ritual dan tradisi keluarga (Imamat 23; Keluaran 12:26-27)
#9 Bertumbuh dalam iman (Efesus 6:4; Ulangan 6:4-9)
#10 Menghargai kemandirian (Matius 6:6)
#11 Melayani satu sama lain (Kisah 20:35)
#12 Mencari pertolongan dalam krisis (Yakobus 1:2-4)

Bagaimana menurut anda? Apakah ada hal lain yang perlu dimasukkan dalam daftar ini?

Kesejahteraan 06.1 Dasar-dasar Komunikasi dalam Keluarga

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dilakukan antar pribadi. Karena manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berhubungan, maka komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam interaksi antar manusia. Bisa kita bayangkan bahwa pola komunikasi akan mempengaruhi pola hubungan antar pribadi, yang juga akan mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Pola komunikasi antar pribadi yang baik akan meningkatkan rasa nyaman seseorang, dan sebaliknya.

Keluarga sangat membutuhkan pola komunikasi yang baik. Tanpa pola komunikasi yang baik, sulit bagi keluarga untuk mengembangkan hubungan yang membawa kepuasan kepada anggotanya. Namun hal tersebut memang harus diusahakan, karena Firman Tuhan sendiri telah memperlihatkan bahwa sejak manusia diciptakan juga telah terjadi kesenjangan dalam berkomunikasi.

Kegagalan manusia berkomunikasi

Sejak kapan manusia gagal berkomunikasi? Jika kita merujuk kepada Kejadian 3, ketika manusia jatuh dalam dosa, telah terjadi hal-hal yang mengganggu jalannya komunikasi. Yang terutama muncul adalah emosi negatif: rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah.

Rasa takut menyebabkan manusia sering bersembunyi dan menolak untuk berkomunikasi dengan benar

Rasa malu menyebabkan manusia juga harus memakai pelindung dan topeng untuk bisa berkomunikasi

Rasa bersalah sering menyebabkan manusia menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan berkomunikasi

Fungsi komunikasi dalam keluarga.

  1. Memberikan pengertian yang lebih dalam tentang siapa kita sebagai pribadi kepada anggota keluarga lainnya
  2. Meningkatkan kasih, kepercayaan dan rasa hormat dalam keluarga
  3. Sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan membereskan hal-hal yang menghalangi pencapaian tujuan

Bentuk Komunikasi

Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktifitas hubungan antara manusia ataukelompok. Jenis komunikasi terdiri dari:

  1. Komunikasi verbal dengan kata-kata, yang mencakup kata-kata yang dipilih, cara mengucapkannya
  2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh, yang mencakup: ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, postur tubuh dan bentuk sikap tubuh lainnya.

Dalam prakteknya kita tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata yang kita ucapkan, namun sering bahasa tubuh kita akan memberikan isyarat yang mungkin akan diterima dengan cara yang berbeda oleh lawan bicara kita. Karenanya penting dalam keluarga untuk juga belajar melihat dan memperlihatkan bahasa tubuh yang memberi dukungan kepada kata-kata yang kita ucapkan.

8 Hukum komunikasi – dari Ayub 31 & 32 – diambil dari renungan ini

Jangan cepat mengeluarkan perkataan (6-7).

Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: “Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu. Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.

Pastikan selalu dalam pimpinan Roh Allah (8-9).

Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orangyang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.

Pastikan lawan bicara dalam kondisi siap mendengarkan (33:1-2).

“Akan tetapi sekarang, hai Ayub, dengarkanlah bicaraku, dan bukalah telingamu kepada segala perkataanku. Ketahuilah, mulutku telah kubuka, lidahku di bawah langit-langitku berbicara.

Bicara dengan hati yang tulus (33:3-4).

Perkataanku keluar dari hati yang jujur, dan bibirku menyatakan dengan terang apa yang diketahui. Roh Allah telah membuat aku, dan nafas yang Mahakuasa membuat aku hidup.

Tidak merendahkan (33:6), tidak menyanjung-nyanjung (32:21).

Sesungguhnya, bagi Allah aku sama dengan engkau, akupun dibentuk dari tanah liat.

Aku tidak memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun. (32:21)

Berani menegur (33:12).

Sesungguhnya, dalam hal itu engkau tidak benar, demikian sanggahanku kepadamu, karena Allah itu lebih dari pada manusia.

Bicara dengan tujuan dan isi yang telah dibentuk oleh firman (33:14-16).

Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran.

Memberi kesempatan kepada lawan bicara. (33:31-32).

Perhatikanlah, hai Ayub, dengarkanlah aku, diamlah aku yang berbicara. Jikalau ada yang hendak kaukatakan, jawablah aku; berkatalah, karena aku rela membenarkan engkau. Jikalau tidak, hendaklah engkau mendengarkan aku; diamlah, aku hendak mengajarkan hikmat kepadamu.”

Keluarga: Tahap-tahap siklus hidup

Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal yang paling penting dan tidak tergantikan. Artikel di bawah ini diambll dari buku Carr, Alan, Family Therapy: Concept, Process & Practice, 2nd ed.

Saat ini pendefinisian keluarga secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal, perceraian, perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami perkembangan. Namun penelitian memperlihatkan bahwa siklus hidup sebuah keluarga yang paling menguntungkan adalah model keluarga tradisional, dan model yang lain dianggap sebagai deviasi dari norma ini (Carter & McGoldrick, 1999). Tahap-tahap dari siklus hidup sebuah keluarga tradisional adalah sebagai berikut:
Read More…

Kesejahteraan 02.2 Penyebab keluarga menjadi disfungsi

Minggu lalu kita sudah berbicara tentang keluarga disfungsi, dan tanda-tanda sebuah keluarga yang sedang disfungsi. Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya, sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat, dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan bagi keluarga. Minggu ini kita akan belajar beberapa hal yang menyebabkan sebuah keluarga mengalami disfungsi.

Beberapa hal yang bisa menjadi sumber disfungsi dalam sebuah keluarga adalah:

  • Ketidakdewasaan orang tua, baik secara psikologis maupun emosionil
  • Kontrol, yaitu kecenderunan mengendalikan yang tidak sehat dan manipulasi
  • Sakit penyakit, bisa secara fisik ataupun mental
  • Konflik, baik yang bersifat terbuka ataupun yang tertutup
  • Kecanduan, yaitu keterikatan akan hal tertentu seperti narkoba, judi dll.
  • Pelecehan, baik secara verbal, emosional, fisik maupun seksual

Read More…

Kesejahteraan 02.1 Tanda-tanda keluarga yang Disfungsi


A Pemahaman tentang keluarga yang disfungsi

Keluarga yang disfungsi adalah sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak Allah. Mereka sedang berfungsi dengan tidak sehat dalam melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan keluarga. Keluarga yang disfungsi akan memiliki kecenderungan umum seperti ini:

Pertama, memiliki satu atau lebih anggota keluarga yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Disfungsi seara pribadi ini kemudian menular karena anggota keluarga yang lain harus melakukan metode atau peran tertentu untuk menggantikan peran yang gagal tadi. Disfungsi pribadi tersebut bisa berupa masalah dalam kecanduan, kedewasaan pribadi ataupun sakit-penyakit.
Kedua, biasanya keluarga ini akan bergantung pada suatu metode dan strategi yang tidak sehat. Metode dan strategi ini sebenarnya tidak efektif, tidak benar, atau bahkan cenderung merusak, yang dibutuhkan pada satu masa. Namun kemudian metode ini diteruskan dan menjadi pola, bahkan diulangi terus sehingga menjadi suatu system yang tidak sehat. Dan setelah beberapa lama, fungsi dari system tersebut dianggap sebagai hal yang benar, dan menjadi lebih penting daripada kualitasnya.
Ketiga, Kemudian hubungan antara anggota keluarga pun cenderung tegang, dan ada kesulitan untuk mengembangkan komunikasi dan hubungan yang intim antar anggota keluarga.
Keempat, dalam banyak kasus, keluarga yang disfungsi akan memainkan peran untuk memperlihatkan citra sebagai keluarga yang sehat. Dalam hal ini, sering ada banyak rahasia ataupun kelemahan-kelemahan yang harus ditutupi ataupun dicari kompensasinya dalam bentuk yang lain.

Karena masing-masing angota belum pernah mengalami kehidupan keluarga yang normal, seringkali anggota-anggota keluarga yang disfungsi menganggap keluarga mereka normal atau ”biasa”, dan tidak tahu atau tidak memiliki pengalaman bagaimana berada dalam keluarga yang cenderung sehat.

Contoh kasus:
Misalkan ada seorang kepala keluarga, yang karena satu hal mengalami PHK, dan untuk sementara kemudian perekonomian keluarga ditanggung oleh ibu. Namun karena ada ketidakdewasaan dalam diri ayah, kemudian kondisi ini berlanjut terus. Ayah mungkin sudah mencari kerja namun tidak puas atau kemudian dikeluarkan. Tanggungjawab ibu kemudian semakin berkembang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian ibu menjadi sangat dominan dalam banyak aspek keluarga yang lain.

Dalam keluarga yang disfungsi ini, satu atau beberapa aspek dalam keluarga akan menjadi terganggu, yaitu aspek:

  • keintiman: bagaimana menyatakan kasih
  • komunikasi: bagaimana cara berinteraksi
  • peran: bagaimana anggota keluarga berfungsi
  • aturan: apa yang boleh dan tidak boleh dalam keluarga
  • prioritas: apa yang menjadi hal yang berharga
  • pemecahan masalah: bagaimana mengelola konflik dan mengambil keputusan

Read More…

Kesejahteraan 02. Disfungsi dalam Keluarga

Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang sedang tidak maksimal, atau bahkan gagal, dalam menjalankan peran, fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak Allah. Dalam sebuah keluarga yang sedang disfungsi, anggota keluarga cenderung memiliki peran dan tanggung jawab yang tidak berfungsi maksimal. Mereka sering mempertahankan sebuah sistem di dalam keluarga, walaupun system tersebut sebenarnya cenderung merusak. Keluarga yang disfungsi juga biasanya sulit untuk menikmati hubungan yang intim dan penuh satu sama lain.

02. Disfungsi dalam Keluarga
02.1    Tanda-tanda keluarga yang Disfungsi
02.2    Penyebab keluarga yang disfungsi
02.3    Peran dan tanggung jawab dalam keluarga yang disfungsi
02.4    Mengatasi disfungi dalam keluarga

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers