Tag Archive | hidup

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #3

B    Bagaimanakah hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Yesus

Hidup berkualitas
Yesus bukan hanya sekedar menjanjikan hidup. Yesus menjanjikan hidup yang berkelimpahan. Di Alkitab kita bisa melihat bahwa hidup yang berkelimpahan tersebut akan terdiri dari dua hal:

  • Berkat-berkat jasmani, yang meliputi: materi seperti kekayaan, ternak, hasil tanah; kekayaan seperti harta, perhiasan dan barang dagangan; juga kekayaan alam, seperti air dan hujan.
  • Berkat-berkat rohani, yang meliputi kasih, kebaikan, belas kasihan, kuasa, hikmat, pengetahuan, damai, anugerah dan sukacita.

Kedua hal ini saling berhubungan, dimana berkat-berkat jasmani selalu digambarkan sebagai pemberian Allah, baik sebagai imbalan untuk ketaatan ataupun bagian dari kasih karunia—Nya.

Ingat bahwa pada mulanya Allah menyamakan kehidupan dan kesejahteraan manusia. Allah menciptakan manusia untuk memuliakan Dia dan menikmati keadaan itu. Kejatuhan manusia yang mengubah hal tersebut. Allah masih memberkati manusia dengan kelimpahan, namun sekarang hal tersebut akan tergantung pada:
Read More…

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #4

C Selain Gembala, ternyata ada pribadi lain yang ikut campur dalam kehidupan kita.

1. Ada pribadi-pribadi yang tidak memikirkan kesejahteraan kita:

  • Ada orang asing, yaitu mereka yang tidak kita kenal, dan tidak akan kita ikuti. Mereka juga adalah pribadi yang tidak mengenal kita secara mendalam.
  • Orang-orang upahan, mereka-mereka yang akan justru mengkhianati tanggung jawab yang mereka miliki, dan melarikan diri ketika ada bahaya mengancam.
  • Pencuri dan perampok – mereka-mereka yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan sejati kita, yang pekerjaannya adalah mencuri, membunuh dan membinasakan.

2. Bagaimana cara pencuri bekerja?

  • a. Menipu: 1) Membuat orang meragukan dan tidak mempercayai kebaikan Allah,2) Membuat orang lebih menyukai berkat daripada pemberi berkat
  • b. Mengintimidasi – mendakwa: 1) Rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah,2) Membuat kita kecil hati dan tidak tahu identitas kita di dalam Kristus
  • c. Mengikat: 1) Dalam pola dosa, pikiran-pikiran kotor dan kebiasaan yang merusak,2)
    Dengan perasaan-perasaan negatif: kemarahan dan pembalasan dendam,
    luka-luka batin, kepahitan dan tidak mengampuni, penghakiman satu sama
    lain
  • d. Menghancurkan kehidupan
  • e. Mencuri berkat-berkat yang telah dipersiapkan Allah

Apa yang Allah inginkan…
Read More…

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #2

A Yesus datang untuk membawa hidup

Sejak manusia jatuh dalam dosa, kelimpahan dan kehidupan menjadi sesuatu yang harus diusahakan dengan keras oleh manusia. Kejatuhan manusia membuatnya menjauh dari kehidupan yang sejati, karena manusia kemudian menjadi terpisah dengan Allah yang adalah sumber kehidupan yang sejati . Dunia ciptaan pun mendapatkan kutukan , sehingga menjadi sulit bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak itu keadaan kelimpahan merupakan suatu suasana kondisional, yaitu keadaan bersyarat yang tergantung akan hubungan manusia dengan Allah.

Bukan itu saja. Kondisi manusia yang terpisah dengan Allah menyebabkan manusia memiliki kehidupan yang semu. Kita masih memiliki kesempatan untuk meneruskan kehidupan, sama seperti Adam yang masih mengalami hidup, sampai ia berumur 930 tahun dan kemudian mati. Namun sebenarnya itu adalah kehidupan yang semu, karena kita semua seharusnya sudah mati, atau sedang menuju kematian kekal yaitu penghukuman untuk dosa-dosa kita. Kelihatannya bernyawa dan berfungsi, namun sebenarnya sedang tidak hidup. Kondisi ini digambarkan dalam film Matrix, saat manusia mengira mereka sedang menjalankan aktivitas sehari-hari, walaupun sebenarnya mereka sedang berada dalam kondisi mati suri dan hidup dalam dunia maya.

Manusia berada dalam keadaan yang sulit. Di satu sisi ia adalah orang hukuman yang harus
menanggung sanksi yang dijatuhkan padanya. Namun di sisi lain tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk membebaskan diri hukuman. Hukuman itu begitu besar, sehingga tidak ada manusia yang bisa bebas dari hukuman tersebut. Hanya Allah sendiri yang bisa memuaskan hukuman tersebut. Itu artinya kondisi manusia adalah suatu kepastian – yaitu hukuman kekal , dan tidak ada cara untuk menghindarinya. Jadi walaupun manusia hidup, namun terpisah dari Allah – selama-lamanya. Bagaimana manusia bisa melepaskan diri dari kerusakan ini?

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,” (Ef 2:4)

demikian Paulus berkata, untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya hati Allah. Bahkan ketika Ia menjatuhkan hukuman kepada Adam dan segala ciptaan, Allah sudah mempersiapkan jalan keluar bagi manusia. Allah  berjanji bahwa akan ada Pembebas yang berasal dari keturunan Hawa yang akan menghancurkan pekerjaan Iblis , dan pada saat yang sama membebaskan manusia.

Untuk itulah Yesus datang ke dunia. Ketika malaikat datang kepada Yusuf, ada janji bahwa anak Maria akan menjadi orang yang “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Kehidupan yang bebas dari hukuman adalah hasil kedatangan Yesus. Tidak ada satupun yang bisa mendapatkan hidup ini melalui kelahiran, kebaikan, prestasi ataupun pencapaian lainnya. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan
keselamatan kecuali melalui Yesus.

Dalam Yoh 10 Yesus menempatkan diri—Nya sebagai Gembala, dan mereka yang percaya kepada—Nya sebagai domba. Mengapa domba? Karena domba memiliki beberapa karakteristik:

  1. domba memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada gembala karena ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri – perlindungan, makanan, minuman, kandang dan pengobatan,
  2. domba juga biasanya kurang cerdas, mudah tersesat dan kesulitan untuk kembali ke kandang, walaupun sebenarnya berada di dekat mereka.

Kepada orang-orang yang bergantung kepada—Nya Yesus menjanjikan kehidupan yang sejati. Hidup yang dijanjikan oleh Yesus sang Gembala Agung adalah hidup yang:

1. Dalam keselamatan

Kita berada di dalam keselamatan karenaYesus bersedia mati untuk keselamatan kita . Hanya dengan memandang kepada salib, dimana Allah sendiri pernah tergantung, disitulah manusia menemukan keselamatan. Karena hanya Allah sendiri yang bisa memenuhi tuntutan hukum, maka Ia sendiri yang datang
dan menjadi manusia untuk menggantikan manusia, dan pada saat yang sama membebaskan kita semua dari hukuman itu.

2. Dalam keamanan

Kita berada dalam keamanan karena ada perlindungan penuh dari sang Gembala Agung. Ada penjaga yang ikut menjagai kehidupan kita. Ada pintu di mana kita bisa mengalami kebebasan untuk masuk dan keluar ke padang rumput. Ia menghalau pencuri, perampok dan para serigala.

3. Dalam bimbingan dan tuntunan

Yesus juga mengenal domba-domba—Nya, bahkan memanggil dengan nama masing-masing. Dan
kebalikannya, para domba pun bisa mengenali suara Sang Gembala. Yesus menuntun kita dan juga memimpin kehidupan kita dengan cara berjalan di depan.

4. Dalam kesejahteraan

Kesejahteraan dan kelimpahan domba ada dalam pikiran Gembala. Padang rumput adalah tempat yang
dijanjikan oleh Yesus kepada kita. Karenanya hidup yang dijanjikan Yesus bukanlah sekedar hidup, namun hidup yang berkelimpahan.

Keempat hal ini, keselamatan, keamanan, bimbingan dan kesejahteraan adalah satu paket yang dimaksudkan dengan hidup yang dijanjikan Tuhan. Ketika kita menerima hidup, yang adalah karunia dari Allah buat kita,
maka secara otomatis kita menerima hidup itu dalam segala aspek-aspek yang dijanjikan Allah.

Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #1

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh 10:10)

Kelimpahan adalah sesuatu yang dipersiapkan oleh Allah untukmanusia. Ketika Ia menciptakan manusia, Allah telah mempersiapkan dunia yang penuh dengan hal-hal yang baik . Ia menyediakan segala kebutuhan manusia, bahkan sebelum menciptakan manusia. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjadi representasi, gambaran kemuliaan—Nya melalui:

  1. mandat yang diberikan kepada manusia,
  2. kesejahteraan manusia, agar manusia dapat menikmati kehidupannya dan fungsinya menjadi alat kemuliaan Allah.

Bagi Allah kelimpahan dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisahkan – manusia diciptakan untuk memiliki hidup, dan hidup dalam kelimpahan.

Yesus dalam pelayanan—Nya pun memperlihatkan sifat yang sama dengan Allah. Ketika Ia memberi, Ia memberi dalam kelimpahan. Anggur yang diciptakan Yesus di Kana, roti dan ikan yang diberikan kepada 5000 orang laki-laki, ikan yang diberikan kepada murid-muridnya yang sedang mencari ikan, kesembuhan yang diberikannya pada mereka yang menderita, memperlihatkan bagaimana hati Yesus untuk kesejahteraan manusia.
Renungan ini akan membahas tentang hidup yang berkelimpahan, dan dibagi dalam pokok-pokok berikut:
A Yesus datang untuk membawa hidup
B Bagaimanakah hidup yang berkelimpahan yang dijanjikan Yesus
C Selain Gembala, ternyata ada pribadi lain yang ikut campur dalam kehidupan kita.
D Apa yang Allah inginkan?

Pendalaman tentang hidup berkelimpahan

Pertanyaan untuk Refleksi Diri

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.(2 Tim 2:15)

Do your best to present yourself to God as one approved, a workman who does not need to be ashamed and who correctly handles the word of truth. (NIV)

Apakah anda terbiasa untuk bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana anda sudah menjalani kehidupan yang maksimal dan berbuah. Perenungan tentang apa yang kita rasakan, pikirkan, katakan dan lakukan adalah hal yang sebaiknya kita lakukan secara rutin, dalam situasi doa dan kontemplasi kepada Allah, dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan dengan hidup kita. Perenungan berikut, yang saya dapatkan dari tulisan di sini, merupakan beberapa pertanyaan diagnostik yang bisa membantu kita untuk mengevaluasi diri sendiri

Sudahkah saya memberi yang terbaik dari hidup saya?

#1 Usahakanlah – do your best! Ketika kita sudah memberi yang terbaik dari pikiran, tenaga, waktu, hati dan hidup kita buat Allah, apalagi yang akan Ia minta?

Sudahkah yang saya lakukan adalah hal yang layak dan berkenan

#2 layak – approved! Apakah perbuatan-perbuatan saya adalah sesuatu yang membuat Allah senang dan berkenan? Jelas kita layak dan berkenan di hadapan Allah bukan karena perbuatan kita, namun perbuatan kita akan mencerminkan kehidupan yang sudah diubah oleh Allah.

Sudahkah saya berpusat pada Allah, dan bukan yang lain

#3 di hadapan Allah! Apakah yang menjadi dasar dan tujuan hidup kita mula-mula adalah Allah? Ataukah ada sesuatu yang lain yang mengisi hati kita lebih dari Allah?

Sudahkah saya menjadi seorang pekerja, dan bukan seorang pemalas

#4 pekerja! Pekerja adalah orang yang bekerja, tentu dengan job description yang jelas, tujuan yang jelas, dan hasil yang jelas. Seorang pekerja tidak sembarangan bekerja, dan juga tidak bekerja tanpa hasil. Seorang pekerja yang baik tidak akan menyia-nyiakan tugas dan sumber daya yang sudah dilimpahkan padanya.

Sudahkah kehidupan saya bersih dari hal-hal yang memalukan

#5 tidak usah malu! Adakah sesuatu, baik dari masa lalu maupun masa sekarang, yang jika diketahui oleh orang lain akan mempermalukan baik diri kita, maupun posisi dan panggilan yang telah dipercayakan kepada kita?

Sudahkah kehidupan saya mencerminkan saya yang otentik dan apa adanya

#6 berterus terang! Sudahkah hidup kita berpadanan dengan panggilan kita, hidup yang mencerminkan Kristus yang ada di dalam kita?

Sudahkah kehidupan saya memperkenalkan Allah kepada orang di sekitar saya

#7 memberitakan perkataan kebenaran! Sudahkah apa yang kita rasakan, pikirkan, katakan dan lakukan memberi inspirasi pada orang lain di sekitar kita tentang Allah yang kita sembah?

Renungan: Penderitaan orang yang tertekan dan terluka (Rat 3:2-20)

Penderitaan orang yang tertekan dan terluka (Rat 3:2-20)

“Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.” Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

Apakah anda pernah merasa tertekan dalam hidup anda? Merasa kalah dalam penderitaan? Merasa tidak ada jalan keluar dari masalah anda? Yeremia pun merasakan hal yang sama ketika ia melihat penderitaan bangsa Israel. Dan perasaannya adalah seperti ini:

  • Merasa terusir dan berada dalam kegelapan. Tidak ada cahaya yang menerangi (ay 2)
  • Merasa kena pukulan dan hajaran, berulang-ulang, sepanjang hari (ay 3)

Read More…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers