Tag Archive | Evaluasi

Strategi Pembelajaran: 7 langkah mempersiapkan tujuan pembelajaran yang jelas

Tujuan yang jelas sangat diperlukan untuk merancang sebuah sistem pembelajaran yang tepat guna. Dengan memiliki tujuan yang jelas, perencanaan akan menjadi lebih mudah, demikian juga dengan pengukuran dan evaluasi. Seorang guru perlu memperhatikan aspek-aspek penting yang dibutuhkan saat merancang modul pembelajaran yang bertujuan jelas. Langkah-langkah ini diambil dari dari Buku How To Teach So Students Remember, Marilee Sprenger.

  1. Expectations (Pengharapan). Ini adalah sasaran, standar, tujuan ataupun performance descriptor yang menjadi harapan agar dicapai oleh para  murid.
  2. Enduring Understandings (Pemahaman yang melekat). Dari pengharapan yang telah dirumuskan, hal apa yang kita harapkan dipahami oleh para murid? Apa yang merupakan kehendak kita?
  3. Essential Questions (Pertanyaan penting). Rumuskan pemahaman di atas dalam bentuk pertanyaan, yang bisa dimulai dengan “mengapa” dan “bagaimana”. Ini adalah pertanyaan terbuka yang memberi kesempatan bagi pelajar untuk menemukan sendiri jawabannya.
  4. Evidence (Bukti). Bagaimana para pelajar memperlihatkan kepada guru bahwa mereka benar-benar telah memahami?
  5. Evaluation (Evaluasi). Ciptakan proses evaluasi yang cocok dengan pemahaman yang kita harapkan.
  6. Entry Points (Jalan Masuk). Bagaimana kita akan memulai memecah gambar besar yang mau diajarkan dalam konsep-konsep yang lebih kecil yang akan menarik minat murid.
  7. Experiences (Pengalaman). Rancanglah program pembelajaran agar cocok dengan tujuan dan evaluasi, dengan menggunakan 7 Langkah Pembelajaran yang memperkuat daya ingat.

Inilah aspek-aspek yang perlu diperhatikan saat kita sebagai guru merancang suatu modul pembelajaran yang bertujuan jelas.

Pertanyaan untuk Refleksi Diri

Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.(2 Tim 2:15)

Do your best to present yourself to God as one approved, a workman who does not need to be ashamed and who correctly handles the word of truth. (NIV)

Apakah anda terbiasa untuk bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana anda sudah menjalani kehidupan yang maksimal dan berbuah. Perenungan tentang apa yang kita rasakan, pikirkan, katakan dan lakukan adalah hal yang sebaiknya kita lakukan secara rutin, dalam situasi doa dan kontemplasi kepada Allah, dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan dengan hidup kita. Perenungan berikut, yang saya dapatkan dari tulisan di sini, merupakan beberapa pertanyaan diagnostik yang bisa membantu kita untuk mengevaluasi diri sendiri

Sudahkah saya memberi yang terbaik dari hidup saya?

#1 Usahakanlah – do your best! Ketika kita sudah memberi yang terbaik dari pikiran, tenaga, waktu, hati dan hidup kita buat Allah, apalagi yang akan Ia minta?

Sudahkah yang saya lakukan adalah hal yang layak dan berkenan

#2 layak – approved! Apakah perbuatan-perbuatan saya adalah sesuatu yang membuat Allah senang dan berkenan? Jelas kita layak dan berkenan di hadapan Allah bukan karena perbuatan kita, namun perbuatan kita akan mencerminkan kehidupan yang sudah diubah oleh Allah.

Sudahkah saya berpusat pada Allah, dan bukan yang lain

#3 di hadapan Allah! Apakah yang menjadi dasar dan tujuan hidup kita mula-mula adalah Allah? Ataukah ada sesuatu yang lain yang mengisi hati kita lebih dari Allah?

Sudahkah saya menjadi seorang pekerja, dan bukan seorang pemalas

#4 pekerja! Pekerja adalah orang yang bekerja, tentu dengan job description yang jelas, tujuan yang jelas, dan hasil yang jelas. Seorang pekerja tidak sembarangan bekerja, dan juga tidak bekerja tanpa hasil. Seorang pekerja yang baik tidak akan menyia-nyiakan tugas dan sumber daya yang sudah dilimpahkan padanya.

Sudahkah kehidupan saya bersih dari hal-hal yang memalukan

#5 tidak usah malu! Adakah sesuatu, baik dari masa lalu maupun masa sekarang, yang jika diketahui oleh orang lain akan mempermalukan baik diri kita, maupun posisi dan panggilan yang telah dipercayakan kepada kita?

Sudahkah kehidupan saya mencerminkan saya yang otentik dan apa adanya

#6 berterus terang! Sudahkah hidup kita berpadanan dengan panggilan kita, hidup yang mencerminkan Kristus yang ada di dalam kita?

Sudahkah kehidupan saya memperkenalkan Allah kepada orang di sekitar saya

#7 memberitakan perkataan kebenaran! Sudahkah apa yang kita rasakan, pikirkan, katakan dan lakukan memberi inspirasi pada orang lain di sekitar kita tentang Allah yang kita sembah?

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Penerapan praktis

Kalau begitu, apa langkah praktis yang bisa kita lakukan agar kita
betul-betul bisa Belajar? Mari kita bahas langkahnya satu persatu.

Teliti sumber yang kita pelajari. Evaluasi. Analisa. Lakukan apa yang
kita bisa kita lakukan agar kita mendapatkan sumber yang terbaik.
Jangan mau dengar gosip. Dapatkan fakta-faktanya dahulu. Lihat siapa
narasumber. Cari sumber yang memang menguasai bidang yang mau kita
pelajari. Banyak orang yang mendasarkan falsafah hidupnya, tanpa
disadari, pada acara-acara televisi, atau omongan orang lain, atau
kebiasaan belaka tanpa meneliti kebenarannya. Kalau kita mendapat
pengajaran dari sumber yang setengah matang, jangan-jangan yang bisa
kita serap hanya seperempat matang, atau tidak matang sama sekali.
Kalau acuan yang jadi sumber pengajaran kita sudah salah, apalagi kita
yang mempelajari sumber salah tersebut.

Seraplah sebanyak-banyaknya ilmu, prinsip, metoda, latihan, demonstrasi
atau apapun yang ditawarkan oleh sumber itu. Tentu dengan masih juga
menganalisa dan mengolah kebenaran yang ditawarkan oleh sumber
tersebut. Misalnya saya sudah meyakini kemutlakan dan kebenaran dari
Firman Tuhan dan saya siap untuk menaatinya. Namun apabila saya membaca
tafsiran seorang teolog, atau renungan seorang hamba Tuhan berdasarkan
Firman Tuhan tersebut, tentu levelnya berbeda dengan Firman Tuhan itu
sendiri, dan saya akan menggumuli kebenaran yang ditawarkan oleh teolog
atau hamba Tuhan tersebut. Ini bukan berarti bahwa kita sendirilah yang
benar, namun bahwa kita bertanggung jawab untuk semua kebenaran yang
kita terima.

Read More…

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Bertumbuh

Langkah keempat:  Bertumbuh

Kita “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah”

Secara harafiah ayat 10 berbunyi, “bertumbuh dalam pengenalan akan Allah

  • Bukan hanya pengetahuan yang abstrak tentang Allah (teologia) yang
    dimaksud.  Melainkan hubungan kita dengan Allah semakin dekat dan intim
  • Jika kita bertumbuh dalam hubungan kita dengan Allah, maka tentu saja
    kita akan semakin mengerti kehendak-Nya sehingga siklusnya mulai lagi

Setelah kita melewati langkah (i) sampai langkah (iii), otomatis kita
akan mengalami pertumbuhan, baik dalam pemahaman kita, pengetahuan
kita, pengertian kita dan kita siap untuk mempraktekkannya lagi
sehingga ilmu kita tersebut menjadi terasah dan teruji.

Inilah yang dimaksud dengan siklus, ketika proses belajar dan bertumbuh
bukanlah suatu proses yang terjadi sekali dan berhenti. Ini bukanlah
suatu proses yang bisa kita batasi waktunya. Seharusnya tidak ada Surat
Tanda Tamat Belajar, karena proses belajar akan berulang lagi dalam
praktek kehidupan kita. Seharusnya tidak ada tanda (seperti yang banyak
terdapat di kampung-kampung di Jogja) Jam Belajar Masyarakat, karena
Belajar adalah sesuatu yang kontinyu dalam kehidupan kita. Dan yang
paling penting, cepat atau lambat, kita akan bertumbuh dalam kehidupan
kita.

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Menghasilkan karya eksternal

Langkah ketiga: Produktif

Kita “memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik”

Setelah kita memiliki masukan yang benar, dan mengalami perubahan internal, kemudian kita akan menghasilkan karya eksternal yang bisa dinikmati oleh orang lain.

  • Kasih dan kuasa Tuhan semakin mengalir dalam kehidupan dan pelayanan kita sehingga kita berbuah
  • Kuasa Roh Kudus menjadi nyata dalam pelayanan kita
  • Ada hasil yang bisa memberi manfaat baik bagi diri kita maupun orang lain

Apabila kita sudah mendapatkan (i) sumber pengetahuan yang benar, (ii) mempraktekkan kebenaran tersebut, maka langkah (iii) adalah sesuatu yang kita harapkan, ketika pembelajaran kita, pertumbuhan kita akan menjadi sesuatu yang produktif dan menghasilkan. Kita tidak hanya ingin belajar matematika supaya tahu, kita tidak hanya ingin belajar dan mempraktekkan matematika, lebih dari itu, kita ingin matematika menjadi satu alat yang produktif dan berguna dalam kehidupan kita. Apapun yang kita pelajari dan praktekkan, kita ingin agar tidak berhenti di situ saja, namun juga kita bisa melihat hasilnya yang menyenangkan hati kita, membuat perbedaan dalam kehidupan kita dan kehidupan orang lain.

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Mengalami perubahan

Langkah kedua: Mengalami perubahan

Hidup “layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya”

Apabila kita telah merenungkan kebenaran yang kita dapatkan, dan
berpikir situasi seperti apa yang bisa kita pakai untuk menerapkan
kebenaran tersebut, langkah selanjutnya adalah mempraktekkannya dan
menjadikannya bagian kehidupan kita! Bagian ini adalah yang paling
sulit dan paling sering disalah mengerti dalam proses belajar karena kita sedang dituntut untuk:

  • menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar firman saja
  • sungguh memahami dan menikmati kasih karunia Allah sehingga kita hidup bagi Tuhan sebagai respon yang layak di hadapan-Nya

 
Ada beberapa pemahaman yang saya anggap keliru berkenaan dengan praktek ini, yaitu:

  • tahu akan membuat orang melakukan apa yang ia tahu
  • belajar sama dengan membaca, menulis atau mengingat

Read More…

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Memiliki masukan yang benar

Langkah pertama: Memiliki masukan yang benar

Memperoleh “segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna

Kita mengetahui kehendak Allah, salah satunya dengan membaca firman-Nya. Namun kita juga perlu “hikmat dan pengertian” dari Allah untuk
menerapkan prinsip-prinsip dari firman Tuhan dalam setiap situasi yang
kita hadapi

Satu penerapan yang penting untuk ayat di atas dalam kehidupan kita,
khususnya dalam hubungannya dengan metode belajar adalah kita perlu
mengidentifikasi sumber yang kita pelajari, apakah memiliki nilai
kebenaran atau tidak.Sering terjadi, baik secara sadar maupun tidak,
kita menerima banyak masukan dari luar tanpa kita mempertimbangkan
kelayakannya. Buku-buku, film, acara di TV, obrolan dengan tetangga,
bahkan juga kotbah pendeta pada hari minggu kita terima mentah-mentah
tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Yang terjadi kemudian kita mendapat
pemikiran yang saling bertentangan dan kita bingung untuk memilih yang
mana.

Atau kita mempercayai satu pola pemikiran yang secara
berulang-ulang kita terima tanpa meneliti kebenarannya. Kita mengira,
karena semua orang berpendapat seperti itu, dan itulah kebenaran.
Sering terjadi bagi anak-anak muda untuk lebih mempercayai teman sebaya
daripada orang tua, dan hal tersebut dapat membawa penyesalan.
Penerapan yang kedua adalah ketika kita mendapat satu masukan, kita
juga perlu merenungkannya agar kita tahu bagaimana kita dapat
mempraktekkannya dalam situasi kita saat ini. Misalnya, apabila ada
orang yang memberi nasihat kepada kita, “Jangan berdusta”, dan setelah
kita mempertimbangkannya, kita menganggap hal tersebut sebagai suatu
kebenaran, kita juga perlu bertanya “Apakah hubungannya dengan keadaan
saya saat ini, apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan sehingga
kebenaran ini bisa nyata dalam hidup saya?”

Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Siklus Kolose 1:9-10

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, (Kolose 1:9—10)

Bagian di atas dikenal sebagai Siklus Kolose, di mana Rasul Paulus mendoakan pertumbuhan rohani jemaat di Kolose. Disebut sebagai siklus karena pada ayat ini Paulus membagi pertumbuhan rohani itu dalam beberapa langkah, yaitu:

  • Mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna
  • Hidup layak dan berkenan kepadaNya
  • Memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik
  • Bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, yang sama dengan langkah satu di atas

Dalam pemahaman Paulus, pertumbuhan adalah suatu siklus yang dapat digambarkan seperti berikut:

  • Memiliki masukan yang benar
  • Mengalami perubahan internal
  • Menghasilkan karya eksternal
  • Bertumbuh
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers