Mengalami sukacita karena memiliki hidup yang sejati (Lukas 5:17-26)

Apa yang menjadi tujuan hidup manusia? Yesus memberikan hukum yang terutama dalam Matius 22:37-40 sebagai mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Perintah ini memberikan gambaran betapa pentingnya hubungan dalam kehidupan manusia: Hubungan dengan Allah, sesama dan diri sendiri menjadi tujuan dalam perjalanan kehidupan semua orang. Namun keindahan hubungan yang sudah dirancang Allah sejak penciptaan mendapat tantangan ketika manusia memilih jalannya sendiri (Kejadian 3) yang mengakibatkan rusaknya hubungan dengan Pencipta, diri sendiri dan orang lain. Bagi kita manusia yang berdosa, perintah untuk mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri menjadi tantangan yang tersulit untuk dicapai.

Karena itulah tugas utama kita dalam hidup ini adalah untuk mengenal Allah, Sang Pencipta. Seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri:

Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 9:23-24)

Pengenalan akan Allah menjadi sebuah proses seumur hidup, yang akan disempurnakan ketika kita nanti akan bertemu muka dengan muka dengan Allah sendiri.

Namun perjalanan hidup ini tidak berhenti di sini saja. Kita yang sedang belajar untuk mengenal Allah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengenalkan dan membawa orang kepada Allah, dan kemudian bersama-sama menikmati pengalaman hidup dalam pengenalan akan Allah. Artinya, usaha kita untuk mengenal dan mengalami Allah akan berhubungan juga dengan interaksi dan pengalaman dengan sesama kita. Ketika kita sedang berusaha mendekat pada Allah, dampaknya akan terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Lebih mendasar lagi: Apapun yang kita lakukan (atau tidak lakukan) dalam hidup ini akan membawa kita untuk semakin dekat (atau semakin jauh) dengan Allah, dan pada saat yang sama mempengaruhi kehidupan orang lain dan menolong (atau menjauhkan) orang lain dari Allah.

Kalau begitu bagaimana seharusnya kita hidup? Bacaan di Lukas 5:17-26 memperlihatkan bagaimana kita perlu bersikap dan bertindak dalam hidup ini.

  1. Kehidupan yang sejati terjadi ketika kita datang kepada Yesus
    1. Kita perlu belajar untuk datang pada Yesus, Sumber Kehidupan. Akibat dari dunia yang berdosa adalah kehidupan manusia yang memiliki banyak kebutuhan. Bahkan hidup sepertinya adalah rangkaian usaha untuk memenuhi kebutuhan yang tidak pernah terpuaskan. Kita memiliki banyak kebutuhan yang tidak pernah selesai terpenuhi. Karenanya kita berusaha keras dan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan itu. Orang-orang datang berbondong-bondong kepada Yesus dengan motivasi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan keajaiban, ada juga yang hanya membutuhkan tontonan. Namun semuanya mengharapkan sesuatu terjadi. Ketika kita memiliki kebutuhan dan datang pada Yesus, kita sudah berada di jalan yang benar. Yang perlu kita pastikan adalah kita datang pada Yesus karena Ia adalah pemilik kehidupan ini, dan sudah pada tempatnya kita untuk memiliki hubungan yang sangat baik dengan-Nya. 
    2. Dengan seluruh aspek kehidupan kita, kita juga perlu menolong orang lain untuk datang pada Yesus. Begitu kita mengenal Yesus sebagai Sumber Hidup yang sejati, maka kita telah memiliki identitas yang baru, yaitu sebagai anggota Kerajaan Allah dan juga sebagai anak Allah. Dalam identitas yang baru ini, kita sedang mewakilkan atau menampilkan Gambar Yesus bagi orang lain. Apapun yang kita lakukan (atau tidak lakukan) akan membawa dampak bagi orang lain yang mempengaruhi mereka melihat Gambar Yesus tersebut. Tentu saja gambaran ini tidak sempurna karena kitapun masih belajar untuk mengenal Allah. Namun sama seperti orang-orang yang menolong si lumpuh, kita pun memiliki kewajiban untuk memperkenalkan Allah kepada orang lain. Dan seluruh hidup kita akan mencerminkan pengenalan kita akan Allah. Kita perlu memiliki pemahaman untuk secara sadar terlibat dalam kehidupan orang lain, dan membawa mereka untuk lebih dekat lagi kepada Allah.
  2. Agar dapat menjadi penolong bagi orang lain, kita perlu memiliki:
    1. Komitmen - dengan adanya kesadaran untuk terlibat dalam kehidupan orang lain, kita pun mengambil komitmen bahwa “apapun yang saya pikiran,  katakan dan lakukan, saya sedang belajar mengenal Allah menolong orang lain untuk datang pada Yesus”. Beberapa orang melakukannya dalam bentuk penginjilan. Yang lain dengan memuridkan ataupun melakukan pelayanan rohani. Namun kita bisa melakukannya dengan apapun yang kita lakukan sehari-hari – apapun pangkat, jabatan dan fungsi kita sehari-hari.
    2. Kreatifitas & kegigihan - Manusia adalah pribadi yang kreatif. Ketika sedang terdesak dan sepertinya tidak ada jalan, maka kita akan mencoba untuk mencari dan bahkan membuat jalan. Seperti orang-orang yang menjebol atap rumah untuk membawa orang pada Yesus, kita pun perlu memiliki kreatifitas dan keteguhan hati untuk mencari cara menolong orang-orang mengalami Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu mengambil komitmen untuk “sebisa mungkin, dengan kemampuan yang ada, untuk dengan gigih belajar mengenal Allah dan menolong orang lain bertumbuh”
    3. Ketulusan Hati – adalah satu hal untuk memiliki kreatifitas dan kegigihan mencari jalan keluar dari krisis yang menimpa diri kita. Namun kita juga perlu memiliki ketulusan hati untuk mencari jalan bagi orang-orang lain di sekitar kita, dan bukannya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita perlu memiliki komitmen untuk “memiliki hati yang tulus untuk bersama-sama saling membantu sesama untuk mengenal dan menikmati Allah”. 
  3. Hasilnya adalah pengalaman yang membawa sukacita:
    1. Ada pertobatan – ada kehidupan yang diperbaharui
    2. Ada mujizat – harapan dan kebutuhan kita dipenuhi dengan cara yang ajaib, di luar pikiran kita
    3. Allah dipermuliakan – kita mengalami sukacita karena melihat Allah dipermuliakan
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s