Konseling: Beberapa Model Pendekatan

Ada  tiga model pendekatan  konseling yang sudah banyak dikenal, yakni konseling direktif, konseling non direktif, dan pendekatan eklektik.  Artikel dibawah ini akan mencoba membahas pendekatan ini satu persatu.

1.konseling direktif

Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa manusia merupakan makhluk rasional  dan memiliki potensi-potensi yang bias dikembangkan ke arah positif atau negatif. Manusia dipandang tidak akan bisa berkembang secara otonom, melainkan butuh pertolongan orang lain agar dapat mencapai batas kemampuannya secara penuh. Setiap orang merupakan pribadi yang unik yang memiliki aneka bakat dan kemampuan dan yang berusaha menata serta mengembangkan hidupnya dengan menggunakan potensi-potensinya yang unik itu.

  • Hakikat kecemasan seseorang adalah ketidak-pastian tentang cara menggunakan potensi-potensinya itu.
  • Tujuan konseling adalah menolong sang individu untuk secara bertahap dan pelan-pelan semakin memahami dan semakin terampil mengatur dirinya sendiri.
  • Teknik-teknik penting yang digunakan meliputi: mencoba menekan agara patuh, mengubah lingkungan, memilih lingkungan, mengajarkan aneka keterampilan yang diperlukan, dan mengubah sikap.
  • Tes-tes dan alat ukur lain juga banyak dipakai. Riwayat hidup konseli perlu diungkap agar konseling dapat dilaksanakan. Diagnosis dan prognosis merupakan keharusan. Klien harus dinasehati apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
  • Pendekatan direktif ini biasanya cocok dipakai terhadap klien-klien ‘normal’ yang butuh ditolong agar merasa siap menghadapi aneka tuntutan penyesuaian sebelum berkembang konflik-konflik di dalam dirinya. Dalam pendekatan ini si konelor berperan aktif.

2.konseling non direktif

Pendekatan ini semula dikembangkan oleh Carl Rogers. Dewasa ini, pendekatan ini disebut sebagai konseling yang berpusat pada klien.

Asumsi dasar yang melandasi pendekatan ini adalah bahwa manusia pada dasarnya rasional, baik, dapat dipercaya, bergerak ke arah aktualisasi diri atau ke arah pertumbuhan, keadaan sehat, realisasi diri, kebebasan, dan otonomi. Konsep diri atau cara sang pribadi mempersepsikan dirinya sendiri merupakan pengatur tingkah laku. Agar bisa mengatur dan menata tingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, nmaka sang pribadi harus memiliki kontak yang baik dengan realitas.

  • Konseli merasa cemas sebab terjadi ketidakseimbangan antara konsep dirinya dan pengalamannya, karena kondisi-kondisi bagi rasa harga dirinya diperkosa, dan karena kebutuhannya akan penghargaan diri dikecewakan.
  • Tujuan konseling adalah menolong konseli agar kembali mampu mengarahkan dirinya sendiri serta mampu berfungsi secara penuh sebagai pribadi yang kongruen, masak, dan membuka diri terhadap pengalaman.
  • Teknik-teknik konseling yang digunakan meliputi bertanya, memberikan pengukuhan, bombongan dan sugesti. Semua ini dilakukan secara terbatas. Peran utama sang konselor adalah mengkomunikasikan penerimaan, penghargaan dan pemahaman.

Sikap dasar yang dianut adalah bahwa seorang individu memiliki kemampuan untuk berkembang dan berubah, sehingga ia pun mampu memecahkan sendiri masalah-masalhnya. Seorang konseli mendatangi seorang konselor tidak seperti seorang pasien mendatangi dokter agar didiagnosis dan diberi obat-obat untuk menghilangkan penyakitnya. Diagnosis dan prognosis dipandang berlawanan dengan proses konseling sendiri. Yang dilakukan oleh konselor adalah masuk ke dalam suasana permisif bersama si konseli, dan dengan begitu konseli diharapkan mampu menyalurkan energinya dan memanfaatkan sumber-sumber yang terdapat di dalam dirinya secara penuh.

Teknik konselingnya dipusatkan pada si konseli, bukan pada masalahnya. Konselor memudahkan berlangsungnya proses konseling dengan cara sepenuhnya menerima konseli apa adanya, menciptakan suasana hangat penuh pemahaman, sehingga dalam suasana rasa aman semacam itu diharapkan konseli mampu menjadi dirinya sendiri dan mengungkapkan aneka perasaan serta sikapnya yang lebih dalam. Konselor tidak memberikan penilaian moral apapun, serta tidak menunjukkan rasa terkejut atau muak terhadap apa saja  yang  diungkapkan oleh konseli. Ia menyelami perasaan konseli sehingga akan mampu melihat dunia ini sebagaimana dilihat oleh konseli, dan selanjutnya memantulkan perasaan-perasaan kembali kepada si konseli. Konseli tidak memberikan nasehat, atau penafsiran serba intelek atas perilaku dan perasaan konseli. Jadi, kualitas-kualitas yang dituntut dari para konselor yang berpusat pada klien adalah sikap-sikap kongruensi, empati, dan ketulusan tanpa syarat.

Seorang konselor non direktif bertindak sebagai sejenis katalisator. Ia berbicara sangat sedikit, sebaliknya menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan dan menunggu. Dari waktu ke waktu ia berusaha memberikan komentar-tanggapan yang netral, mengucapkan ungkapan-ungkapan pendek berisi bombongan seperti “ya”, “saya mengerti”, atau “tolong, dijelaskan lebih lanjut”, dan harus mengulangi kalimat terakhir atau isis pernyataan yang dikemukakan konseli.

Jadi peran konselor adalah sebagai fasilitator dan reflektor. Tugasnya adalah menolong konseli memahami dirinya, menjernihkan serta merefleksikan  kembali perasaan-perasaan dan sikap-sikap yang dinyatakan konseli. Konselor berusaha menciptakan iklim di mana konseli mampu melakukan perubahan di dalam dirinya. Penggunaan tes dan alat-alat ukur lainnya sangat dibatasi. Menyelidiki sejarah hidup konseli, membuat diagnosis dan prognosis dipandang bertentangan dengan hakikat proses konselingnya sendiri.

Dewasa ini jenis klien yang dilayani dengan pendekatan nondirektif ini tidak lagi dibatasi.

3.konseling eklektik

Kata eklektik berarti menyeleksi atau memilih menggunakan teori-teori atau metode-metode yang cocok dari aneka sumber atau sistem.

Asumsi yang mendasari pendekatan eklektik ini ialah bahwa individu secara berkala membutuhkan pertolongan professional untuk memahami dirinya sendiri serta situasi-situasinya, dan mengatasi aneka masalahnya. Pertolongan istimewa ini harus bersifat mendidik. Seorang konselor eklektik berpendapat bahwa penggunaan sebuah pendekatan tunggal hanya akan membatasi gerak, di samping itu aneka sumber yang tersedia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam melaksanakan tugasnya, konselor eklektik mengikuti sebuah filsafat dan arah yang konsisten, sedangkan teknik-teknik yang digunakannya pun dipilih karena sudah teruji bukan berdasarkan coba-coba belaka. Dengan bekal pengetahuannya tentang persepsi, prinsip-prinsip pengembangan, prinsip-prinsip belajar dan kepribadian, sang konselor eklektik mengembangkan sejenis bank metode, lalu memilih yang paling cocok untuk menangani suatu masalah tertentu.

Dalam konseling eklektik, konselor memiliki kebebasan metodologis untuk menggunakan aneka ktrampilan khusus yang dimilikinya serta memilih cara-cara demi memberikan pertolongan terbaik bagi konseli. Konseling eklektik menekankan pentingnya diagnosis dalam memahami seseorang. Para konselor yang mengikuti model ini haruslah mengenal indikasi-indikasi dari aneka metode yang sudah dikenal luas serta harus mampu menggunakannya tanpa bias. Sifatnya yang komprehensif menjadikan model ini popular, sedangkan cakupannya yang luas cocok dengan cita-cita demokratis untuk menolong memenuhi kebutuhan individual semua (maha) siswa.

Untuk menerapkan model eklektik ini maka para konselor harus diberi bekal persiapan yang lebih luas dan harus ada jalinan yang lebih baik antara apa yang dikerjakan oleh guru, konselor dan tenaga-tenaga ahli lainnya.

Konselor eklektik sering dipandang sebagai jalan tengah untuk menjembatani polarisasi antara konseling direktif dan konseling non direktif

5 thoughts on “Konseling: Beberapa Model Pendekatan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s