Renungan: Respons terhadap panggilan Allah (Keluaran 3 dan 4)

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. … Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. … Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” (Kel 3:1-4)

Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” (Kel 3:10)

Saya percaya setiap orang memiliki panggilan dan misi dari Allah. Ada tugas yang diberikan kepada umat manusia ketika ia diciptakan, yang karena kejatuhan dalam dosa mengakibatkan ketidaksempurnaan, bahkan kerusakan dalam menjalankan tugas tersebut. Ada panggilan keselamatan, yang Tuhan berikan kepada semua orang, karena Ia ingin agar semua orang selamat dan mengalami hubungan yang sejati dengan Sang Pencipta. Ada juga panggilan yang bersifat spesifik dan unik, karena merupakan tugas seseorang dalam hubungannya dengan Rancangan Agung Allah. Alkitab berisi tokoh-tokoh yang menerima panggilan dan tugas dari Allah, dengan cara, metode, waktu yang berbeda-beda. Mulai dari Adam sampai Yesus, kedua belas murid dan Paulus, semuanya memiliki panggilan yang unik sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Dari sudut manusia sendiri, akan ada 4 sikap yang berbeda sehubungan dengan panggilan Allah yang unik dalam hidup mereka:

  1. Ada yang merasa yakin dengan panggilan Allah yang kemudian menjadi visi mereka
  2. Ada yang sedang bergumul ketika menerima panggilan Allah
  3. Ada yang sedang mencari apa sebenarnya yang menjadi kehendak Allah
  4. Ada yang tidak terlalu peduli dengan apa yang jadi kehendak Allah, dan memilih untuk hidup bagi dirinya sendiri

Renungan ini dikhususkan kepada sikap yang kedua, ketika ada orang yang sedang bergumul dalam menyikapi panggilan Allah. Mereka mungkin merasa Allah telah menyatakan kehendak-Nya secara khusus bagi mereka, namun sedang mempertimbangkannya. Ada juga yang sedang ingin menguji kehendak Allah tersebut. Dalam renungan ini kita akan melihat bagaimana Musa memberi tanggapan ketika Allah memberi tugas dan panggilan yang spesifik baginya. Tanggapan yang diberikan Musa merupakan cerminan dari banyak orang percaya ketika menerima panggilan Allah.

#1 Berpusat pada diri sendiri

Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (3:11)

Ini adalah jawaban orang yang berpusat pada diri sendiri. Ketika ada panggilan, atau mungkin masalah, maka yang pertama muncul dalam pikiran orang ini adalah siapakah dirinya, tentu lewat perspektif manusia. Kita bisa memaklumi mengapa Musa menjawab seperti itu. Empat puluh tahun yang lalu, ketika Musa masih muda dan masih menjadi seorang pangeran di Mesir, ia sudah mengetahui atau merasakan bahwa panggilannya adalah membebaskan bangsa Israel dari kungkungan Mesir. Dan ia mencoba menerapkan visi tersebut dengan cara membunuh orang Mesir yang melakukan kekerasan, dan mendamaikan dua orang Israel yang sedang berkelahi. Namun karena Musa melakukannya dengan cara dan dalam waktunya sendiri, yang ia dapat hanyalah kegagalan. Musa pergi meninggalkan Mesir, dan menjadi seorang gembala domba, saat Tuhan merasa sudah saatnya Musa berkarya sebagai utusan-Nya membebaskan orang Israel. Persis seperti visi Musa. Namun Musa yang saat ini adalah seseorang yang sudah kalah, dan bertanya “Siapakah aku ini…”.

Ketika seseorang berpusat pada diri sendiri, yang akan ia lakukan adalah bersifat minder ketika melihat apa yang tidak ia miliki. Atau ia juga akan menjadi sombong dan menepuk dada untuk hal-hal yang ia miliki. Ia akan berkata “Lihatlah aku ini…” dengan nada yang congkak karena merasa benar dan memiliki sesuatu untuk ditunjukkan. Namun jawaban Tuhan untuk kedua hal ini adalah:

Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (Kej 3:12)

Allah justru mengatakan jangan pandang dirimu. Pandanglah Aku, Allah yang akan menyertai kita dan memberikantanda-tandanya. Ini adalah sikap berpusat pada Allah yang Imanuel, hadir di tengah-tengah kita dan bersama kita.

#2 Berpusat pada dukungan manusia

Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel 3:13)

Jawaban Musa yang kedua berkata “Siapa yang mengutus aku”, atau siapa yang mendukung aku, siapa yang menjadi backing-ku. Ini adalah kecenderungan orang yang sering diperlihatkan ketika menghadapi tugas, panggilan, masalah dll. Yang sering muncul di pikirannya pertama kali adalah – siapa saja yang akan mendukung diriku. Bagi kita dukungan itu bisa berupa dukungan moral dan finansial dari orang tua (yang mungkin adalah orang yang sukses dan berlimpah materi). Mungkin ada dukungan politik dari keluarga besar yang memiliki jabatan atau status tertentu. Mungkin ada harapan untuk mendapatkan dukungan dari suku tertentu. Yang pasti, jika kita tahu ada orang yang mendukung, maka kepercayaan diri pun meningkat. Namun jika kita tidak memiliki pendukung atau massa tertentu, kita pun akan merasa minder dan cenderung merasa gagal. Inilah yang disebut berpusat pada dukungan manusia.

Bagaimana Tuhan menjawab? Lagi-lagi Tuhan menarik perspektif Musa untuk melihat bahwa yang menjadi pemberi mandat padanya adalah “Akulah Aku” (3:14), yaitu Allah yang hidup dan kekal, yang ada dari awal sampai tak berkesudahan. Ini adalah sikap hidup yang berpusat pada Allah yang hidup dan kekal.

#3 Berpusat pada penerimaan orang

Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Kel 4:1)

Musa memberi alasan bahwa ia takut orang-orang tidak akan menerima dan mempercayainya. Mengalami kegagalan sekali membuat Musa memiliki trauma untuk mencoba lagi. Belum bekerja, ia sudah merasa akan gagal dan ditolak oleh orang-orang. Betapa banyak kita melihat orang-orang, termasuk juga orang yang percaya, yang menjadikan takut ditolak sebagai motivasi dalam hidup ini. Mungkin karena mereka sudah terluka, sama seperti Musa terluka. Namun kemudian ketakutan ini menjadi motivasi terbesar dalam hidup seseorang. Dan kadang orang bisa melakukan apa saja kasih dan penerimaan orang lain. Inilah hidup yang berpusat pada penerimaan orang. Hidup dalam sikap seperti ini sebenarnya mencerminkan ketakutan kita yang terdalam: Apakah kita lebih takut pada manusia, atau kepada Tuhan? Ketika kita takut pada sesuatu yang bukan Allah, kita sedang tidak takut pada Allah. Apa atau siapakah yang paling engkau takuti saat ini?

Bagaimana Tuhan menjawab? Sama seperti sebelumnya, Allah menarik perspektif Musa kepada sifat-Nya. Allah menyuruh Musa menggunakan tongkat dan tangannya, dan melakukan mujizat. Allah bisa menggunakan apapun yang kita miliki untuk kepentingannya. Ini adalah hidup yang berpusat pada Allah bekerja lewat apapun yang kita miliki.

#4 Berpusat pada kelemahan diri

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:10)

Alasan Musa yang keempat adalah bahwa ia tidak pandai bicara. Mungkin karena itulah ia gagal dalam perjuangannya yang pertama, karena ia tidak mampu bernegoisasi dan menjadi mediator yang baik. Namun kegagalan itu juga membuat Musa merasa bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang Allah berikan. Betapa banyak orang percaya yang hidup seperti Musa: memandang kegagalan diri, kelemahan-kelemahan, berfantasi untuk hal-hal yang tidak dimiliki. Ini adalah hidup yang berpusat pada kelemahan diri - dan saya percaya, kelemahan anda dan saya sangatlah banyak. Jelas kita harus membereskan kelemahan ini. Allah sudah menerima kita apa adanya, namun Ia tidak membiarkan kita hidup seadanya. Ia mau kita bertumbuh dalam kekudusan. Namun kelemahan bukan alasan untuk menolak panggilan Allah, karena Ia tahu dan memahami diri kita lebih dari siapapun. Ketika Ia memberi tugas, Ia bisa gunakan kelemahan diri sebagai alat untuk menyatakan kekuatannya. Kekuatan dalam kelemahan – strength in weakness!Bagaimana Allah menjawab Musa – lagi-lagi dan menarik perhatian Musa pada pribadi-Nya. Ia mengatakan bahwa Ialah Allah yang menciptakan dan menghidupkan. Ia adalah Allah yang berkuasa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kuasa Allah yang memampukan kita.

#5 Berpusat pada kemauan sendiri

Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (Kel 4:13)

Dengan begitu banyaknya alasan, yang telah dipatahkan oleh Allah, apa kiranya yang menjadi excuses Musa? Ia serta merta menolak tugas Allah dan meminta agar Allah mengutus orang lain saja. Sebenarnya semua alasan yang diberikan oleh Musa adalah pembenaran untuk ketidakmauannya menaati perintah Allah! Ia menolak panggilan Allah karena ia memiliki kehendaknya sendiri. Sama dengan begitu banyak orang percaya, yang hidup dalam kemauannya sendiri, dan menolak hidup dalam ketaatan kepada Allah. Ini adalah hidup yang berpusat pada kemauan sendiri.

Dan Allah murka. Ia murka karena semua alasan Musa hanyalah pembenaran semata. Ia murka karena dengan menolak panggilan Allah, Musa sebenarnya sedang menolak Allah. Dan Allah menjawab, bahwa ia sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan Musa: saudara, sebagai penyambung lidah, kata-kata yang akan dibagikan, tongkat sebagai alat manifestasi kuasa Allah. Semua sudah dipersiapkan, bahkan sebelum Allah bertemu dengan Musa, karena Allah sudah mempersiapkan Harun sebagai pendamping Musa. Ini adalah hidup yang berpusat pada kehendak Allah, dan bahwa Allah sendiri yang akan menyediakan apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikan panggilan-Nya dalam hidup kita.

Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda memiliki atau mempertimbangkan panggilan Allah dalam hidup anda? Apa reaksi anda ketika merasa mendapat panggilan tersebut? Atau apakah anda justru sedang bergumul dan mencarinya. Saya berdoa agar renungan ini dapat menjadi pendorong dalam kehidupan anda untuk senantiasa memilih hidup yang berpusat kepada Tuhan.

About these ads

2 thoughts on “Renungan: Respons terhadap panggilan Allah (Keluaran 3 dan 4)”

  1. Memang semua orang ingin tahu seberapa dewasa mereka.

    Ditambah dengan keadaan sekarang yang semakin membutuhkan pria dan wanita yang dewasa dalam menghadapi rutinitas kehidupan

  2. Panggilan untuk “melayani”. Emangnya tugas melayani itu harus jadi hamba Tuhan ?, seperti Musa pada jamannya. Konkrit nya ajalah, kasih panduan aja, apa yg harus masyarakat (orang banyak) yg tidak bekerja penuh waktu untuk gereja/pengabaran injil/dsb harus lakukan ?
    Renungan itu harus detail, spy orang dapat melakukan (terpandu). Jangan cuma pake kata “melayani” “berbuat baik” “mengasihi” dsb. Pakai dong kata-kata yg mutlak, contoh beri persembahan harus 5000,kasih ucapan syukur 100.000,kasih makan janda miskin 1 piring nasi dan 1 potong ikan bila datang kerumahmu. Nah itu kan jelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s